Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang
Main pair: Mino/Irene
Selamat membaca...
.
—Lost in New York—
Chapter 18: The Real Perpetrator (3)
.
Mino benar-benar melotot melihat sang nenek berdiri sembari menepuk tangan. Mungkin jika dirinya ada di dalam kartun, bola matanya bisa jatuh terjungkal ke bawah.
Ya, bayangkan saja. Kamu sudah benar-benar mengkhawatirkan seseorang yang diculik dan bersumpah akan menghajar pelakunya sampai mampus. Namun, ternyata dalang dari semua ini adalah anggota keluargamu sendiri?! Oh, rasa-rasanya ini sangat janggal. Setahunya, sang nenek kan sedang menetap di Spanyol, kok tiba-tiba bisa ada di Amerika?! Dan—kenapa pula menculik Irene?! Tahu darimana neneknya?!
"Nenek kok bisa ada—"
"Iya Mino. Sebenarnya nenek sudah ada di New York sejak satu bulan yang lalu."
"HAH?! SEBULAN YANG LALU?! KOK TIDAK PULANG KE RUMAH?! NENEK KE MANA SAJA?!" Mino berteriak sangat lantang. Membuat semua orang harus menutup telinga.
"Aduh, kamu ini kebiasaan sekali. Selalu saja berteriak di manapun. Nanti kalau gendang telinga Nenek jebol bagaimana?! Kamu mau ganti?!"
Mino menunduk, lalu menggelengkan kepala, "T—tidak. Tapi kenapa Nenek tidak pulang ke rumah? Memangnya Nenek tidur di mana?!"
"Oh, Nenek menyewa kamar di hotel yang sama dengan gadismu itu."
Irene dan Mino merona sesaat. Hah, Nenek tua ini kalau bicara tidak pernah disaring dulu. Kasihan kan wajah Irene dan Mino yang mulai memerah seperti habis dimasukkan ke dalam air mendidih.
"Kenapa tidak pulang ke rumah, sih?!" protes Mino.
Sang Nenek mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku celananya, "Ya, terserah Nenek dong. Uang Nenek banyak, jadi bebas mau tidur di mana."
Lalu dihisapnya rokok yang sudah bercampur dengan api. Menghasilkan uap-uap nikotin yang mulai menguar di udara. Neneknya Mino hanya tersenyum, "Lagi pula, kalaupun Nenek tinggal di rumah, yang ada kepala Nenek pusing tujuh keliling mendengar pertengkaran kamu dengan ayahmu yang tidak ada habisnya."
Mino diam. Kalau dipikir-pikir, benar juga sih. Siapa juga yang betah tinggal di dalam rumah yang isinya hanya omelan dan caci maki belaka? Ya—walaupun mansion Mino itu mewahnya luar biasa. Tapi tetap saja, rasa-rasanya sungguh tidak nyaman.
"Tapi kan Nenek bisa memberi kabar padaku!"
"Ah, berisik sekali kamu, No."
Mino cemberut. Irene yang masih terikat di kursi pun masih diam memantau. Neneknya Mino ini gaul sekali. Masih nampak muda. Kalau Mino tidak memanggilnya Nenek, mungkin Irene bisa menganggap wanita itu adalah ibunya Mino.
"Kebetulan Nenek tidak datang sendiri ke sini." sang Nenek kembali berucap, lalu menghisap putung rokok yang masih setia mengeluarkan asap-asap.
Mino memiringkan kepala. Memikirkan ucapan sang Nenek. Datang sama siapa?
"Jangan bilang Nenek datang membawa Kakek baru untukku! Tidak mau Nek!" Mino berasumsi seenak jidat. Lalu merengek pada sang Nenek.
Akibat ucapannya, Mino mendapat hadiah jitakan dari Nenek.
"Sembarangan kamu. Walaupun Nenek masih terlihat muda begini, Nenek tidak mau menikah lagi!"
"Terus Nenek datang dengan siapa?" kini Mino menuntut jawaban.
Nyonya Song tersenyum samar. Diangkatnya tangan ke atas—memberi sinyal agar orang yang ia masuk segera menampakkan diri, "Masuklah."
Sepatu pantofel menggema di dalam gudang.
Kali ini, Mino hanya melihat—pria itu terlihat seumuran ayahnya. Memakai pakaian formal, rambut sedikit ubanan, wajah sedikit keriput (namun tetap terlihat tampan). Gagah, oh—mungkin definisi dari sosok CEO yang sesungguhnya. Ia tidak kenal siapa pria itu—tapi pria itu tersenyum padanya. Eh, padanya atau pada yang lain?
Mino melirik ke belakangnya—hanya ada Irene. Lho, pria itu tersenyum pada Irene? Eh, mau apa pria itu tersenyum pada calon pacarnya?! Jangan bilang pria yang dibawa nenek adalah seorang pedofil pencari remaja wanita?! Oh, tidak bisa dibiarkan! Tapi... Ekspresi Irene sepertinya tidak biasa. Dia diam membatu.
"Kamu kenal pria itu?" tanya Mino.
Irene masih diam. Pria di depannya masih tersenyum.
"AYAH?!"
Hah?! Mino kesedak debu. Apa katanya tadi?! Ayah?! Astaga calon mertua! Mino misuh-misuh di tempat. Mendadak salah tingkah sendiri. Jantungnya berdegup sangat keras. Jadi daritadi pria yang dia tuduh sebagai pedofil itu ayahnya Irene?!
Oh, maafkan Mino calon ayah mertua.
"Ayah rindu sekali dengan Joohyun!" lelaki itu menghampiri sang anak. Dipeluknya erat, lalu dikecup pucuk kepalanya—membuat Mino yang melihatnya sedikit iri. Ya, ya—begitulah.
"Vernon, tolong lepaskan ikatan ini. Kasihan anakku."
Vernon mengangguk. Lalu melepaskan tali tambang yang melilit di tubuh mungil Irene. Wanita itu segera masuk ke dalam pelukan sang ayah. Ah, ia rindu dengan bau harum ini. Wangi ayahnya, "Ayah... Kenapa ayah bisa di sini?!"
Sang ayah melepaskan pelukannya. Lalu, menatap wajah cantik sang anak, "Terkejut tidak ayah ada di sini?"
"YA IYALAH! MASA TIBA-TIBA AYAH ADA DI SINI?! DAN—KOK AYAH BISA DATANG BERSAMA NENEKNYA MINO?! SEBENARNYA ADA AP—"
"Aduh Hyunnie. Bisa tidak suara cempreng itu dikecilkan? Ayah tidak mau mendadak tuli di sini."
"Haduh sayang, jangan berteriak. Nanti cantiknya luntur lho." ini neneknya Mino yang berucap. Irene seketika diam. Malu akan perbuatannya. Di seberang sana, ia melihat siluet teman-temannya yang tertawa geli melihat reaksi Irene. Lho, teman-teman?
Seulgi, Wendy, Joy, dan Yeri diam. Tatapan Irene menyeramkan.
"Nek, tolong jelaskan semua ini." ucap Mino pada akhirnya.
Sang nenek terkikik geli melihat reaksi wajah sang cucu yang terlihat (sok) serius, "Hahaha. Song Mino, ada apa dengan wajahmu itu?"
"Nenek!"
"Baiklah-baiklah. Cucuku sedang merajuk rupanya. Lucu sekali." sang nenek tiada henti menggoda Mino. Sumpah, kalau saja wanita paruh baya itu bukan neneknya, mungkin ia tidak akan berani macam-macam.
Walau begini, Mino takut kualat sama orang yang lebih tua.
"Baiklah, nenek akan menceritakan semuanya secara detail." ucap sang nenek pada akhirnya.
"Ya sudah, cepat katakan." Mino tidak sabaran sekali.
Nenek tersenyum. Dihisapnya lagi batang rokok yang belum habis sedaritadi.
"Tapi nanti, di chapter selanjutnya. Hahaha."
.
Bersambung
Tangerang, 08 Juli 2018 - 14:14 PM
a/n: hah, saya tau ini receh bim absurd. Entahlah, lagi pingin ngereceh :"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]
Fanfiction[ Adventure AU ] Liburan musim dingin di negeri Paman Sam yang--seharusnya menyenangkan, malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam bayangan Bae Joohyun (biasa dipanggil Irene). Ketika sedang mengelilingi kota New York, Irene mendadak terp...
![Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]](https://img.wattpad.com/cover/145760238-64-k254847.jpg)