Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apapun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang
Main pair: Mino/Irene
Selamat membaca...
.
—Lost in New York—
Chapter 14: Kidnapping
.
Renjana pagi seakan lenyap seketika.
Yang ada hanya lorong rumah sakit yang—sebenarnya mulai cukup ramai (mengingat hari sudah menjelang siang, banyak orang yang berdatangan). Tapi, rasanya sepi dan sunyi. Tidak terasa sesak. Irene berjalan gontai di koridor, wajahnya yang cantik ditekuk. Bibirnya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Kakinya melangkah menuju kursi di taman rumah sakit—yang mana adalah tempat di mana ia menjadi saksi jika seorang Song Mino begitu rapuh.
Ah, ya. Song Mino. Mengenai pria itu, rasa-rasanya Irene tidak ingin mengingatnya kembali.
"Mino, kamu boleh tertawa mendengarnya. Tapi, jujur saja... Aku sepertinya mulai jatuh cinta padamu."
Haha, rasa-rasanya Irene kerasukan sesuatu tadi. Bagaimana bisa ia dengan lancangnya mengatakan hal itu pada Mino.
"Kalau begitu, tolong hentikan segera perasaan itu. Joohyun."
Irene tertawa miris. Hambar, air matanya mengalir perlahan. Itu artinya Mino sudah menolaknya, kan? Wanita itu tertawa cukup keras—mengusap air matanya dengan kasar. Tolol. Sangat tolol. Mino sangat tolol karena sudah menyia-nyiakan wanita macam Irene. Tidak, Irene yang tolol karena dengan lancang sudah berkata seperti itu. Tidak, tidak. Semuanya begitu tolol. Sungguh tolol.
"Haha, seharusnya aku tahu diri saja jika kami hanyalah sebatas partner in crime. Tidak lebih."
Matanya menatap langit yang terlihat sedikit redup—mungkin saja langit pun mengerti perasaan Irene sekarang. Ya, ya. Sangat buruk.
Ponsel Irene berdering, menandakan ada yang menelepon.
Ah, itu Wendy.
"Kak, Kakak ada di mana?"
Ah, Irene menepuk jidat. Ia lupa mengabari Wendy pagi ini, "Wendy... Aku masih di rumah sakit. Bisakah kamu menjemputku?"
"Tentu Kak, Kakak tunggu saja di situ. Aku akan jemput."
Panggilan berakhir. Semuanya ikut berakhir.
Di balik dinding, Mino berdiri tegap dengan tangan dipasang infus. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk.
"Maaf Joohyun, maaf."
.
Sudah beberapa hari, baik Irene maupun Mino tidak lagi saling memberi kabar. Tidak lagi. Tidak ada yang menyapa, tidak ingin berjumpa. Irene yang—pada dasarnya datang ke New York untuk wisata menunggu hari Natal pun sibuk dengan urusannya; belanja dengan teman-teman, banyak mengambil gambar, dan banyak hal lain. Ia tidak ingin memikirkan Mino lagi. Tidak ingin. Biarkan saja jadi masa lalu katanya.
"Hah, Natal tinggal beberapa hari lagi?"
"Seminggu."
Irene berencana akan merayakan Natal dan Tahun Baru di New York bersama teman-teman. Setelah itu, ia akan pulang ke Korea. Ia rindu ayahnya di rumah. Haha, membayangkan wajah sang ayah yang akan merengek dan berkata: ayah merindukanmu, Joohyun. Pastilah sangat menggemaskan. Ayahnya sudah tua, tapi tingkahnya terkadang masih kanak-kanak.
Haha, iya. Seperti Mino saja.
Heh! Irene memukul kepalanya sendiri. Kenapa tiba-tiba kepikiran si kingkong, sih?! Sudah, sudah! Irene ingin hidupnya tenang sekarang tanpa adanya gangguan siapa pun. Sekarang, Irene sedang berkeliling di dekat patung Liberty. Tinggi menjulang, Irene sampai harus mendongakkan kepala agar bisa melihatnya.
"Udaranya semakin hari semakin dingin, ya." Yeri mengeratkan syal putih yang ia pakai, "Kak, Kakak tidak kedinginan?"
"Tidak." Irene mengalihkan pandangan dari patung Liberty, "Aku lapar... Makan, yuk."
Semua mengangguk. Jalan-jalan sejak pagi tadi membuat perut mereka meraung-raung minta diisi. Mereka makan di restoran dekat patung Liberty. Wendy mulai memesan makanan.
"Thank you." Wendy tersenyum pada pramusaji.
Setelah memesan makanan, mereka semua mulai tertawa riang. Diawali dengan pertengkaran kecil antara Joy dan Yeri, lalu disambung oleh curhatan yang—sebenarnya tidak penting dari Seulgi (wanita itu berkata jika dirinya punya kelebihan baru; buang air besar sehari sebanyak lima kali). Irene tertawa keras menanggapi ucapan Seulgi—sampai-sampai Wendy harus membungkuk meminfa maaf karena teman-temannya sudah mengganggu ketenangan para pegunjung lain.
"STOP! DON'T MOVE!"
Beberapa pria berbadan kekar nan tinggi menodongkan senjata ke arah pengunjung lain. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dengan wajah tertutup. Semua orang meringkuk di lantai. Tidak ada yang berani bergerak. Seinci saja mereka bergerak, maka peluru melayang. Semua pegawai juga meringkuk di atas lantai. Ketakutan melanda semua pengunjung. Pintu kaca restoran dipecahkan—membuat serpihan-serpihan kaca berhamburan di lantai. Berbondong-bondong pria mulai masuk ke dalam restoran—seakan mencari sesuatu.
"Are you Bae Joohyun?" salah satu pria menemukan Irene yang tengah meringkuk sambil memejamkan mata dan menutup telinga.
Irene tidak berani menjawab. Ia takut setengah mati.
"I SAID ARE YOU BAE JOOHYUN?!" pria itu menggertak sang wanita dengan suara keras. Irene mulai mengangguk panik, "Y—yes, I'm Bae Joohyun."
"Come with us now." pria itu menarik lengan mungil Irene dengan keras—membuat yang ditarik merasa kesakitan.
"W—who are you?! Why I should come with you?!" Irene berusaha menggertak. Namun tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan pria berbadan kekar yang sedang berusaha membawanya kabur.
"Be quiet and follow me."
Seulgi, Wendy, Joy, dan juga Yeri berusaha mengejar Irene. Tapi—pria berbadan kekar lainnya menahan mereka agar tidak bisa menyelamatkan teman mereka. Irene berusaha melepas pegangan sang pria. Namun tiba-tiba pria itu menggendong Irene di pundaknya. Wanita itu hanya bisa memukul-mukul punggung sang pria berengsek yang berniat membawanya pergi.
"Y'all remain be quiet. Or I'll shoot you one by one."
Sebuah ancaman keluar dari bibir sang pria. Alhasil, tidak ada yang berani bergerak untuk menyelamatkan Irene. Mereka berjalan ke luar restoran. Mobil limosin sudah menanti di trotoar jalan. Irene dipaksa masuk ke dalam sana. Mulutnya disumpal kain besar agar tidak dapat mengeluarkan suara. Kedua tangan mulai diikat dengan borgol, serta kakinya. Irene tetap bersikukuh bergerak sana-sini—berusaha melepaskan diri. Sang pria mulai geram, langsung memegang dagu Irene kencang.
"You want to be quiet, or want to be raped, huh?!"
Tidak! Irene tidak mau diperkosa! Ia berusaha diam. Dalam hati berharap ada yang mau menolongnya. Lagipula, siapa orang-orang ini? Kenapa mereka ingin menculik Irene? Memang, apa salah Irene?
Tidak ada yang tahu.
Yang mereka tahu, mobil limosin berwarna hitam pun melesat meninggalkan tempat kejadian.
.
Bersambung
Tangerang, 26 Juni 2018 - 09:05 AM
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]
Fanfic[ Adventure AU ] Liburan musim dingin di negeri Paman Sam yang--seharusnya menyenangkan, malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam bayangan Bae Joohyun (biasa dipanggil Irene). Ketika sedang mengelilingi kota New York, Irene mendadak terp...
![Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]](https://img.wattpad.com/cover/145760238-64-k254847.jpg)