chapter 19: The Truth

747 118 51
                                        

Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang

Main pair: Mino/Irene

Selamat membaca...

.

—Lost in New York—

Chapter 19: The Truth

.

"Nyonya Song, lama tidak berjumpa."

Tuan Bae membungkuk, memberi hormat pada yang lebih tua. Di hadapannya kini, berdirilah seorang wanita dengan gaya seperti anak muda. Dia tersenyum, "Kau terlihat semakin tua, hahaha."

Ayah Irene membalas candaan nenek Mino. Mereka sudah kenal sejak lama. Rekan kerja sesama direktur perusahaan. Nenek Mino sudah menganggap jika Tuan Bae seperti anaknya. Mereka berbincang-bincang di sebuah vila besar di daerah Busan. Nenek Mino yang—kerjaannya keliling dunia kebetulan sedang mampir ke negara kelahirannya. Walau sering berpindah-pindah negara, ia tidak akan lupa dengan tanah kelahiran.
"Aku dengar anakmu itu wanita, ya?" nenek Mino memulai percakapan sembari menuangkan teh hangat ke dalam cangkir putih.

"Ya, anakku wanita." tuan Bae menyeruput teh hangat, lalu menatap ke arah wanita di depannya, "Bagaimana keadaan cucumu. Siapa namanya?"

"Song Mino. Hah, anak itu semakin hari semakin nakal saja." Nenek Mino mengembuskan napas tatkala mengingat kelakuan cucu satu-satunya yang amat merepotkan. Ia sering mendapat laporan dari anak buahnya; Mino sering membuat gaduh kota New York, mencopet, meresahkan masyarakat, dan lain-lain. Nenek Mino berpikir seharusnya manusia seperti itu dibuang saja di sungai Amazon.

Tapi, Mino masihlah cucunya. Senakal-nakalnya anak itu, dia masihlah cucunya.

"Aku tidak tahu harus berbuat apa pada anak itu." sambung nenek Mino lagi, "Bagaimana dengan anakmu?"

Tuan Bae terlihat menatap pemandangan indah dari balik jendela. Ia tersenyum tipis, "Seperti wanita kebanyakan. Joohyun suka belanja, mempercantik diri, dan belajar. Hanya saja—akhir-akhir ini dia sangat keras kepala."

"Keras kepala kenapa?"

Ayah Irene menoleh pada nenek Mino, "Ya—dia merengek agar diizinkan menghabiskan natal dan tahun baru di kota New York bersama teman-temannya. Hah, bukannya aku tidak mengizinkan—tapi anak itu ceroboh sekali. Dia tidak pandai berbicara bahasa Inggris. Kalau dia tersasar bagaimana?"

Nenek Mino terlihat terkikik geli, "Hahaha itukah yang kamu khawatirkan, Bae Yongjoon?"

"Ya, itu yang aku khawatirkan."

Nenek Mino menaruh cangkir di atas meja. Lalu kembali menatap ayah Irene, "Hei, aku punya ide."

"Ide Anda selalu gila, Nyonya Song."

"Aku suka kegilaan. Itu membuatku hidup."

Ayah Irene kembali menghela napas. Wanita tua di depannya memang sudah gila pikirnya. Banyak kejadian ajaib yang dialaminya. Terakhir kali ayah Irene dengar jika nenek Mino mati di gunung Everest. Dikabarkan menghilang selama beberapa bulan lamanya. Ayah Irene sedih kala mendengar kabar itu. Namun secara ajaib wanita tua itu muncul tiba-tiba di depan perusahaan dengan gayanya yang seperti anak muda. Beberapa karyawan ada yang pingsan dan kabur—mereka merasa saat itu hantu nenek Mino gentayangan karena jasadnya tidak ditemukan di sekitar Everest.
Nenek Mino yang mendengar kabar itu hanya tertawa ngakak. Katanya dia memang sengaja menghilangkan diri di Everest. Iseng saja pikirnya. Benar-benar gila jika dipikir baik-baik.

Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang