Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang
Main pair: Mino/Irene
Selamat membaca...
.
—Lost in New York—
Chapter 23: I Know
.
Musim salju membuat tubuh terasa menggigil, secangkir cokelat panas siap menghangatkan.
Irene menatap puingan salju yang mulai jatuh memenuhi pekarangan mansion. Awalnya setitik, lama-lama menjadi bukit. Tanah rata dengan warna putih dan suhu di bawah nol derajat celsius. Baju bahan rajutan selalu melindungi tubuhnya yang mungil dari serangan hawa dingin. Rambut panjangnya digerai agar tengkuk tidak merasa menggigil. Ayahnya sudah pulang ke Korea kemarin, meninggalkan Irene di mansion keluarga Song.
Irene tidak masalah—kebetulan juga ayahnya ada urusan bisnis, jadi ia dititipkan di sini. Nenek Mino pun kembali pergi ke Prancis tadi siang.
"Belum tidur?" suara berat Junhoe menggema di ruang keluarga, ia duduk di sebelah Irene.
Irene menggeleng pelan, "Belum, kamu sendiri?"
"Belum."
Keduanya hanya diam. Junhoe tengah asyik menatap buliran salju di luar sana. Sedangkan Irene tengah mencicipi cokelat panas yang ia buat tadi. Mansion terasa sepi sekarang—Mino tengah disibukkan di kantor sang ayah (semenjak ia berjanji akan melamar Irene, Mino bertekad menjadi orang yang lebih baik lagi).
"Aku senang." suara berat Junhoe menggema di ruang tengah.
Irene yang sedang asyik mencicipi cokelat panas pun menoleh, "Kenapa?"
"Semenjak ada kamu, Mino mulai berubah. Ya, berubah menjadi lebih baik." Junhoe masih menatap kepingan salju yang turun perlahan di malan yang dingin, "Lagi pula, anak itu sebenarnya susah sekali diatur."
Ruangan kembali hening. Irene benar-benar merasa canggung. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Maka, cokelat panas dihisap perlahan pula (agar tidak cepat habis). Junhoe sendiri nampaknya senang suasana macam ini. Ia mengenakan pakaian berwarna putih panjang serta celana training hitam. Rambutnya yang hitam legam sedikit basah, rahang keras pun senantiasa terlihat. Tubuhnya yang besar dan berotot pun tak dapat dipungkiri keindahannya. Irene bukanlah Seulgi yang bisa cepat akrab dengan seseorang (terutama anak laki-laki). Kelihatannya, Junhoe ini lebih muda darinya.
"Tidak perlu canggung padaku, nona. Haha." Junhoe sedikit tertawa melihat raut wajah Irene yang kaku. Ia paham betul karakteristik wajah seseorang—maklum saja, Junhoe ini anak psikolog.
Irene tertawa kaku, "Haha, maafkan aku. Aku hanya tidak tahu harus bersikap apa ketika berhadapan dengan orang baru."
Junhoe kembali menatap ke luar jendela, "Anggap saja aku ini adikmu. Mino sudah kuanggap sebagai kakak sendiri."
Irene menatap wajah Junhoe dari samping. Laki-laki ini—walaupun awalnya terlihat sengak macam Mino, tapi nampaknya dia baik. Bukankah kita tidak boleh melihat seseorang hanya dari luarnya saja kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]
Fanfiction[ Adventure AU ] Liburan musim dingin di negeri Paman Sam yang--seharusnya menyenangkan, malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam bayangan Bae Joohyun (biasa dipanggil Irene). Ketika sedang mengelilingi kota New York, Irene mendadak terp...
![Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]](https://img.wattpad.com/cover/145760238-64-k254847.jpg)