Author's POV
Mrs. Liliane, Mrs. Victoria, Mr. Frans, serta Mr. Julliano masih berjalan santai sambil melirik sekitar. Mencari tujuan utama mereka,
Liether.
Para murid lainnya sudah memiliki guru dan staff lain yang akan mencari. Dan tugas untuk mencari Liether merupakan tugas mereka, karena dari sekian guru hanya mereka yang mampu menolong Liether.
Bukan karena yang lain lemah, karena hanya mereka yang dapat membantu para Liether mengendalikan kekuatan mereka.
"Jully, kau tahu dimana mereka?"
Mrs. Victoria bertanya dengan memanggil Mr. Julliano dengan panggilan akrab mereka, tanpa embel-embel 'Mister'.
"Aku sedang berusaha. Kabutnya sangat tebal, membuat penglihatanku terhalang." Balas Mr. Julliano.
Semuanya mengangguk setuju.
"Ya, benar. Kabut disini tebal sekali. Aku juga sulit untuk mendeteksi keberadaan mereka." Timpal Mr. Frans.
Mrs. Liliane berdeham kecil, mengembalikan suaranya yang serak. Lalu berkata, "aku memiliki firasat buruk disini. Aku hanya berharap mereka baik-baik saja."
"Mereka akan baik-baik saja." Ucap Mrs. Victoria pelan, terdengar seperti gumaman.
Mereka terus berjalan menembus kedalaman hutan, mendeteksi sekitar untuk mencari para 'Liether' yang tanpa mereka sadari, seseorang berada di belakang mereka.
"Merunduk!"
Suara Mr. Julliano berteriak menggelegar, membuat Mrs. Victoria yang berjalan didepannya menoleh kebelakang lalu menunjukkan ekspresi terkejut.
Tapat sedetik sebelum sebuah anak panah menyentuh dada kanan Mrs. Victoria, Mr. Julliano sudah terlebih dahulu menarik dan memeluk tubuh Mrs. Victoria agar menjauh dari posisi semulanya.
"Huh!" Mrs. Victoria menghela nafasnya kasar kala menyadari dirinya sudah selamat dari maut yang mengancam.
Terdengar suara seseorang tengah berdecak pelan, seperti mengejek. "Kau memiliki tingkat kewaspadaan yang lemah Victory."
Suara itu, membuat para guru itu menoleh dengan ekspresi terkejut.
"Kau, bagaimana bisa kau berada disini hah?! Oh, aku tahu. Ini pasti ulahmu semua kan? Jawab aku!"
Seseorang itu tertawa pelan. "Liliane! Oh ya tuhan, kau masih saja tidak berubah ya. Masih sama seperti dulu, emosional."
"Iya, kau pun juga. Masih sama seperti dulu, nampak wajah tuamu tidak akan pernah hilang ya. Kutukanmu ternyata masih berlaku hingga sekarang ya, Eleanor." Balas Mrs. Liliane mengejek.
Wajah El memerah, menandakan bahwa ia tengah marah. Darahnya terasa mendidih di dalam tubuhnya, merasakan emosinya meningkat.
"Jangan macam-macam denganku Liliane, kalau tidak. Kau tahu, apa yang akan kulakukan dengan kedua Liethermu setelah ini bukan?" Balas El mengancam.
Sontak, hal tersebut membuat para guru tersebut tertawa mengejek.
"Kau terlalu bodoh El, selamanya akan begitu. Karena kebodohanmu lah yang nanti akan menjerumuskanmu kedalam masalah. Kuperingati kau untuk berhenti Eleanor, karena kalau tidak.. kau akan menyesal seumur hidupmu." Ucap Mr. Frans.
"Kau pikir kau pintar, Fransisco? Jangan coba-coba untuk menceramahiku. Aku tidak akan mundur, aku akan membalaskan semua dendamku. Terutama denganmu Victoria!" Teriak El.
Brugh..
Tubuh El terpental jauh menabrak pohon besar dibelakangnya. Membuatnya terjatuh dengan ekspresi kesakitan yang mendalam.
"Lihat, siapa yang telah kau bilang bodoh Eleanor. Kau! Kau pikir, kami akan terancam denganmu? Kau hanya parasit kecil yang menempel lekat-lekat di hidup kami. Mengenai Victory, kenapa kau terus-terusan menyalahkannya dan mengarang kisah bodoh mengenai kami. Faktanya, aku dan Victory saling mencintai. Justru kaulah perusak kehidupan kami." Ucap Mr. Julliano pelan namun nadanya terdengar begitu dingin menusuk kedalam gendang telinga.
Eleanor terisak pelan, "apa kau sadar, kau sudah ditipu olehnya. Kau sudah diperdaya, Jully!"
"Jangan panggil aku Jully! Karena kau tidak pantas memanggilku dengan panggilan itu. Hanya Victory yang dapat memanggilku seperti itu!" Bentak Mr. Julliano.
"Toh, hanya nama panggilan saja." Cibir Mr. Frans.
Sontak, Mr. Julliano menatapnya tajam.
🏰🏰🏰
Sudah cukup lama bagi Rey untuk menunggu El mencari ranting kayu yang akan ia buat untuk kerajinan. Ia rasa, sesuatu yang buruk tengah terjadi.
"Val, aku merasa sesuatu yang buruk tengah terjadi. Yuk, sebaiknya kita susul saja dia." Ajak Rey.
Rival berdecak malas, "diluar dingin Rey. Lagian, ia pasti akan pulang."
Rey mendengus kesal mendengarnya. Kemudian, Rey menarik tangan Rival agar ia mau berdiri dari posisinya bermalas-malasan.
"Berhentilah dulu Rival. Perasaanku sedang tidak enak, sekali saja kau turuti kataku." Omel Rey.
Rival berdeham malas. Lalu mereka berdua berjalan keluar dari gubuk. Angin kencang langsung saja berhembus membuat mereka menggigil kedinginan.
"Tuh kan, dingin." Gerutu Rival.
Rey hanya diam saja, lalu saat ia mendengar suara riuh tak jauh dari mereka sontak membuatnya menoleh kearah Rival.
Rival yang ditatap pun hanya balas menatap Rey bingung. "Apa?"
"Aku mendengar suara ribut-ribut yang familiar. Ayo kita dekati tempat itu pelan-pelan." Ucap Rey.
Rival mengangguk. Lalu mereka mulai berjalan mengendap-endap ke asal suara.
Setelah merasa dekat, mereka kemudian bersembunyi dibalik pohon sambil mengintip.
Tampak seseorang perempuan tua terduduk tak berdaya di bawah pohon berlapis salju, dikelilingin 4 orang.
"Jangan pernah menyalahkan Victory, Eleanor. Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan mencintaimu. Aku hanya mencintai Victory, Victoria Hillary."
🏰🏰🏰
Hello guyss..
Ketemu lagi ya. Sori banget karena udah ngegantungin lagi.
Tugas-tugas itu memang tidak bisa diajak kompromi, apalagi dengan ide cerita yang mendadak ngilang bikin badmood.
Untungnya, aku udah selesain part satu ini. Aku bakal usahain update terus kok. Tenang aja, insyaallah update seminggu sekali.
Makanya, jangan berhenti untuk komen dan kasih support buatku biar semangat.
Oh ya, kalau masih ada yang berminat gabung ke grup WA khusus readersku, ayok buruan. Tinggal chat aku dengan no WA aku yang udah aku kasih tahu di part khusus pengumuman grupchat.
Oke?
Vomment.
KAMU SEDANG MEMBACA
[#2] LIETHER | END
FantasiaSequel 'The Verrionne Academy.' Please don't copy my story! ~~ Setelah berhasil melewati perang melawan musuh yang merupakan dalang dari segala hal yang terjadi selama satu tahun ia di dunia itu, semua hal yang menjadi rahasia pun satu persatu mulai...
![[#2] LIETHER | END](https://img.wattpad.com/cover/148759715-64-k770861.jpg)