Sekarang pukul 3 sore, Nadine mulai terbangun dari lelapnya. Ia menoleh ke samping kirinya dan tak mendapati Devasya disana, Nadine duduk dan sedikit mengucek matanya lalu berjalan kearah kamar mandi
"Sayangg" Nadine membuka kamar mandi namun Devasya tak juga ada disana
Nadine meraih Hpnya dan menelfon Devasya.
"Hallo" suara Devasya terdengar di ponsel Nadine
"Kamu dimana?"
"Indomaret bawah"
"Cepet balik"
"Kenapa? Ada yang mau kamu titip gak"
"Sayang cepet balik" Nadine langsung mematikan telfonnya
Disisi lain Devasya langsung buru - buru membayar belanjaannya dan lari kembali ke dalam hotel, ia tak tahu kenapa Nadine seperti itu. Sesampainya di depan pintu hotel, Devasya menarik nafasnya terlebih dahulu lalu membuka knop pintu dengan perlahan dan melihat Nadine duduk dengan menundukkan kepala.
"Kamu kenapa Nad? Nyuruh aku cepet balik"
Nadine menegakkan kepalanya dan melihat Devasya.
"Aku cuma mau bilang sesuatu"
"Bilang apa?" Jantung Devasya berdetag
"..."
"Nad!" Suara Devasya meninggi
"Aku mencintaimu Devasya Karina" Muka Nadine memerah
Devasya menghembuskan nafasnya pelan dan tersenyum "kamu nyuruh aku cepet - cepet balik cuma mau bilang ini"
"Aku gak mau nyesel, aku gakmau nyesel karena aku gak bilang ini ke kamu. Mungkin simple tapi aku gak mau nyesel tentang apapun yang akan terjadi nanti"
Devasya makin tersenyum "sinii"
Devasya merentangkan kedua tangannya agar Nadine memeluknya, Nadine berdiri dan memeluk Devasya lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Devasya.
"Aku juga mencintaimu, Nadine Adira"
Dengan masih memeluk Devasya, Nadine kembali berbicara
"Dev, aku mau bilang semuanya sebelum kita sama - sama sibuk lagi"
"Apa sayang?" Devasya mengelus lembut rambut Nadine
"Dari dulu Dev, aku selalu ngerasa bodoh. Aku selalu cari cara gimana caranya buat kamu tahu perasaanku, berharap aku yang selalu genggam tangan kamu. Tapi aku hanya tersenyum karena aku belum berani, aku gak mau merubah apapun aku hanya yakin semuanya akan jadi nyata. Aku selalu mencoba bertahan dan kamu harus tau itu sekarang kalau cuma kamu yang bisa tetep tinggal di hati dan pikiran aku dan aku jatuh cinta terlalu cepat dan sangat dalam. Yah aku jatuh cinta padamu saat pertama kali aku memandang matamu, bahkan untuk jadi sahabatmu pun aku tak pernah membayangkannya. Tapi semuanya terus berjalan, I see your true colors dan kamu juga melihat semua yang ada pada diriku..."
"Nad.." Devasya menyela ucapan Nadine
"Hmm?"
"Kamu adalah orang yang tepat di waktu yang tepat juga, mungkin aku sempat membuatmu menunggu dan kamu juga sempat membuatku menunggu tapi semua itu udah takdir Nad, kamu jadi milikku disaat yang tepat"
Nadine tersenyum dan menidurkan Devasya lalu memelukknya dari samping.
"Kita jangan keluar ya, aku mau sama kamu aja seharian"
Devasya mengangguk, dia melihat bagaimana bahagia wajah Nadinenya.
"Dev.."
"Hmm?"
