Sore ini, Banana tidak banyak protes ketika Natta menjemputnya. Begitu lelaki itu datang, Banana langsung naik ke motornya tanpa banyak omong ataupun debat seperti biasa. Tentu saja itu membuat Natta senang bukan kepalang.Ah, tidak, bukan seperti itu. Banana hanya berusaha mengabaikan dua orang yang masih temu kangen entah keberapa ratus kalinya. Si wanita yang dengan setianya menunggu si lelaki yang tengah tenggelam di balik mesin mobil.
Ck. Kayak upil sama hidung aja. Nempel mulu deh perasaan. Heran gue.
Cukup lama Banana sibuk dengan pikiran nggak mutunya, motor Natta yang tiba-tiba berhenti membuat perempuan itu kembali pada alam sadarnya.
"Kok berhenti?"
"Udah sampe, sayang. Lo nggak lagi tidur kan?"
Bukan, bukan sampai di tempat kostnya, melainkan sampai di rumah lelaki itu.
"Ini kan rumahh, elo?!"
"Emang," Natta melepas helmnya. "Turun dulu," perintahnya tanpa merasa bersalah.
"Nggak mau. Gue mau pulang."
"Ya entar gue anter. Tapi turun dulu,"
"Ish." kesal, Banana terpaksa turun yang diikuti oleh lelaki itu. "Nggak tau orang capek ya pengen tidur." gerutunya seraya melepas helm.
"Jangan sok lucu. Nanti gue khilaf gimana?"
"Gue tonjok lo kalo berani macem-macem sama gue." Banana mengangkat kepalan tangannya di udara. Mengancam lelaki itu dengan ekspresi yang tidak sinkron.
Jika biasanya Natta tertawa, kali ini bocah itu hanya menatapnya dengan senyum geli. Lalu setelah itu Banana di di buat terkejut ketika berondong tengil itu tiba-tiba mencondongkan wajahnya hingga posisi wajah mereka sejajar, ––yang otomatis membuat langkah Banana mundur dua langkah dengan gerakan kaku. Sialnya, langkahnya mentok karena pinggulnya membentur motor gede di belakangnya.
Banana menelan ludahnya paksa bersamaan dengan debuman di dada kirinya yang sangat mengganggu. Garis wajah yang bisa di katakan hampir sempurna itu berada tepat di depan wajahnya. Oh, Banana merasa aliran napasnya tiba-tiba tersedat di tengah jalan.
"Lo---lo mau apa? Minggir!" Banana sok galak dengan mata melotot lucu.
"Katanya mau tonjok. Nih," Natta memiringkan wajahnya dan menunjukan pipinya di depan wajah Banana.
"Apaan sih, awas!" suara Banana merendah. Kedua tanganya terangkat untuk mendorong dada lelaki itu. Namun di luar dugaannya, Natta malah semakin mencondongkan tubuhnya dan mengurung Banana dengan ke dua tangannya yang bertumpu di jok motornya.
"Minggir!" Banana mendorong Natta sekuat tenaga.
Natta tertawa. "Lo bikin gue pengen khilaf mulu."
"Minggir nggak?!"
"Nggak."
Banana menarik napasnya cepat ketika tiba-tiba Natta memiringkan kepalanya dan semakin mengikis jarak wajah di antara mereka.
Gila. Ini masih di luar!
"Kyaaaaaa!!! Minggir-minggir-minggiiiiir!!!!" Banana memukul-mukul dada Natta dan mendorongnya. Berharap tenaganya dapat menyingkirkan berondong mesum di hadapannya.
Hingga akhirnya Banana merosot turun dan berhasil menerobos melewati tangan yang mengurungnya. Tanpa skenario, perempuan itu berlari cepat menuju rumah minimalis dua lantai di depannya.
Natta masih tertawa melihat punggung kecil itu. Wajah konyol mantan kakak kelasnya benar-benar sangat menghiburnya. Lucunya, perempuan yang lebih tua darinya satu tahun itu malah berlari masuk ke dalam rumahnya, membuat ia merasakan keram di perutnya akibat terlalu banyak tertawa. "Woi, kok masuk situ?! Sama aja lo masuk kandang kuda."

KAMU SEDANG MEMBACA
PC (Perangkat Cinta)
Ficción GeneralPC disini bukan personal komputer, bukan pula perangkat komputer. Lebih tepatnya Perangkat Cinta. Iya, cinta itu butuh perangkat, layaknya personal komputer. Misal perangkat alat sholat di bayar tunai, terus SAH! ***** Bertemu kembali dengan mantan...