27 : Angry

1.6K 155 59
                                    

Natta duduk merenung di singgle sofa kamarnya. Tangannya bergerak menimang-nimang handphonenya. Kepalanya terus berputar pada kejadian dua hari yang lalu. Di saat ia berubah menjadi iblis gila.

Demi Tuhan, Natta sungguh menyesalinya. Ia akui saat itu dirinya tengah kehilangan akal. Kecemburuannya yang terus bertumpuk tidak bisa lagi di tanggung hingga berefek pada perempuan yang ia cintai. Dia bahkan mengabaikan rontaan dan jeritan kekasihnya untuk memintanya berhenti.

Lo emang brengsek! Maki Natta pada diri sendiri.

Dengan kepala tertunduk, Natta menekan-nekan-kan ujung ponsel di dahinya. Kepalanya terasa pusing mengingat hubungannya akhir-akhir ini sangat buruk dan semakin buruk. Untuk meminta maafpun, Natta takut Banana tidak memaafkannya dengan mudah, mengingat perlakuan dirinya yang sangat kasar.

Desahan yang entah keberapa kali, lolos dari bibirnya. Natta sungguh sangat merindukan kekasihnya bahkan dadanya terasa sesak menahan rasa itu yang terus berontak. Kemarahannya waktu itu tidak sebesar rasa cinta dan rindunya. Natta tidak bisa benar-benar marah dan meminta hubungan mereka berhenti. Cintanya sudah terlanjur berakar kuat dan itu tidak mudah baginya untuk berhenti. Natta hanya tidak ingin siapapun mengambil Banana darinya.

Perhatiannya lalu teralih pada ponselnya. Membuka kembali riwayat chat dengan kekasihnya. Kurang kerjaan memang, tapi Natta benar-benar membaca riwayat dari awal mengenalnya sampai terakhir kali sebelum dia pamit untuk menghadiri pertunangan sahabatnya.

Membaca pesan-pesan itu membuat bibirnya tanpa sadar melengkung naik. Bagaimana dirinya yang kekanakan dan jawaban jutek Banana, itu sangat lucu baginya. Namun, senyum itu tidak bertahan lama kala ingatannya kembali berputar pada kejadian dimana awal hubungan mereka bermasalah. Bibir itu kembali lurus saat merasakan sesak di dadanya. Seharusnya ia tidak membuka riwayat chatnya. Itu akan membuat dirinya semakin merindukannya.

Kenapa lo goblok! Natta memukul kepalanya dengan ponselnya cukup keras. “Aish! Sakit, anjir!” rintihnya sembari mengusap bekas pukulannya. Di tengah mengusap dahinya, ia
kejutkan dengan dering ponselnya.

Natta hanya mengangkat satu alisnya ketika nama teman lamanya terpampang di layar ponselnya. Ia tentu tahu maksud temannya menghubunginya saat ini. Temannya meminta dirinya untuk datang ke pesta ulang tahunnya.

Mendengarnya saja Natta geli. Hei, dia sudah dewasa, kenapa juga harus merayakan ulang tahunnya?

“Apa?” jawab Natta, setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

“Cepet dateng. Banyak temen cewek sama temen kantor gue yang cakep-cakep. Lo pasti suka.”

“Gak minat gue.”

“Ayolah.... Lo kayaknya lagi badmood dari kemarin. Lo bisa seneng-seneng sepuasnya di party gue. Di jamin lo dapet servis plus-plus.” Suara di  sebrang sana tertawa. “Temen-temen lo juga udah pada dateng. Udah teler malah,” imbuhnya.

Natta mendengus malas. “Oke, gue dateng. Tapi gue gak minat sama servis plus-plus yang lo sebutin itu.”

“Hallah, sok gak minat lo. Biasanya juga berburu.”

“Ah, bacot sekali anda. Gue udah sembuh kalik.”

Temannya tertawa lagi, “oke-oke, terserah lah. Penting lo dateng.”

PC (Perangkat Cinta)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang