-Dua Puluh Tiga

24 8 2
                                        


"Fashbir inna wa'dallahi haqq. Wa laa yastakhiffanna kalladziyna laa yuuqinuun."

"Alhamdulillah. Selesai juga kamu, Mbak."

"Makasih ya, Vin. Udah bantu aku muraja'ah Surah Ar-Ruum."

"Sama-sama Mbak."

"Oh ya, diluar ada apaan ya? Kok kayak ada tamu sih?"

"Iya, aku juga heran. Keluar yuk."

"Ayuk."saat kami beranjak keluar, ternyata Ibu datang memasuki kamarku.

"Ada apa, Bu?"tanyaku penuh heran.

"Mbak Dira tolong ganti pakaiannya yang agak rapih sekarang. Ada tamu soalnya."

"Tamu? Siapa?"

"Sudah..pokoknya Mbak Dira ganti baju dulu. Habis itu kamu keluar temuin tamu di ruang tamu, ya? Kevin ikut Ibu kedapur, bantu Ibu siapin makanan buat tamu."

"Iya, Bu."

Sejujurnya aku dilanda perasaan penuh heran. Tapi aku tetap melaksanakan apa yang Ibu katakan. Mengganti pakaian dengan gamis berwarna coklat muda dan khimar yang sepadan dengan warna gamis. Aku sedikit memoleskan bedak ke wajah agar tidak terlihat begitu pucat.

"Mbak Dira, ikut Ibu yuk nak keruang tamu."

"Emangnya ada apa sih, Bu? Dira gak paham."

"Sama..Ibu juga gak ngerti. Bismillah aja ya nak."Ibu menggandeng pelan tangan kananku dan berjalan menuju ruang tamu.

Banyak pasang mata yang menatapku. Dan yang lebih membingungkan, ada kak Khurnia ditengah-tengah tamu yang datang."Ini anak saya, Bu, Pak."ujar Ibu pada sepasang orang tua setengah baya yang duduk disamping kak Khurnia.

"Oh..Maa Syaa Allah. Ini toh anak perempuannya. Cantik sekali."ujarnya sambil tersenyum.

Aku menyalimi mereka dan menyapa kak Khurnia dengan wajah penuh keheranan."Kak..."

"Iya, Nadira."

Kemudian aku menatap wajah Ayah yang sedaritadi tak tampak kebingungan melihat mereka datang kerumahku."Baiklah. Ibu, Bapak, perkenalkan ini anak saya Nadira Aulia Rahmi. Dipanggil Nadira. Dia anak pertama dari dua bersaudara."Ayah menarik nafas sejenak."Mbak Dira, ini adalah Bapak dan Ibu dari mas Khurnia. Beliau ingin bersilaturahim datang kesini."

Aku yang tak mengerti harus menjawab apa, memilih diam mengangguk sambil balas tersenyum kearahnya.

"Langsung saja ya, Pak, Bu. Bismillahirrohmanirrohim. Atas izin Allah Subhanahu Wata'ala saya datang kerumah ini dengan maksud yang in syaa Allah baik. Nadira  mungkin masih bingung dengan kehadiran saya dan orang tua saya kesini."diam sejenak."Saya datang kesini berniat ingin mengkhitbah Nadira Aulia Rahmi dihadapan orang tua saya dan orang tua Nadira sendiri."ujarnya tegas.

Darahku mengalir cepat. Jantungku berdegup kencang tak terkendali. Seperti mendengar suara petir yang menggelegar ditelinga. 'Apa tidak salah dia mengatakan hal seserius ini?' 'Bukankah kita baru saja bertemu dua kali?' 'Bagaimana bisa dia mengkhitbahku dengan cepat?' Ya Allah buatlah hati ini tenang."batinku.

"Maa Syaa Allah. Niat yang sangat mulia. Mbak Dira, mas Khurnia ini adalah seorang Sertu yang bekerja satu ruangan dengan Ayah. Kami sudah bekerja bersama selama 4 tahun."

"Sertu itu apa, Yah?"aku bertanya dengan polosnya dan seketika membuat semuanya tertawa.

"Sertu itu Sersan Satu. Beliau juga seorang tentara, sama seperti Ayah. Yang membedakan hanya jabatan kami."

Aku kembali terdiam. Masih dalam pikiran yang sama, 'Bagaimana bisa dia langsung mengkhitbahku?' 'Bukankah kita baru kenal?' Pertanyaan itu kembali terulang dalam benakku.

Kembali untuk Pergi...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang