-Dua Puluh Delapan

17 1 4
                                        


Atas nama bintang yang mencintai malam. Aku mengadu padamu. Ku katakan semua yang terjadi dalam risaunya hatiku saat ini.

Melihat bulan yang bermanja pada malam membuat bintang sepertinya cemburu. Namun bintang tak perlu kau cemburu, tak perlu juga melebihi bulan. Bintang dengan sinar mungilnya akan lebih indah dengan sendirinya. Bintang bersinar tak pernah ingin bersaing dengan bulan, tapi ia tulus hanya ingin menjadi lukisan malam.

Malam pekat mungkin menjadi sebab, dimana bintang selalu terlukis dengan cantik. Dan malam tetaplah malam yang mencuri hati bintang yang membuat ia tegar walau harus berdiri sendirian.

Malam ini aku begitu puitis menjelang tidur. Aku harus menjadi seperti bintang yang tegar walau harus berdiri sendirian tanpa bulan. Meskipun aku tidak bisa bersatu dengan orang yang aku inginkan, aku harus tegar. Karena setiap kenikmatan akan benar terasa nikmat jika kita mensyukuri segalanya.

Tak terasa esok adalah hari pernikahanku dengan salah seorang prajurit TNI Angkatan Darat. Semua pengurusan surat-surat dan pakaian serta tempat acara sudah dipersiapkan dengan sangat baik oleh kedua belah pihak. Malam ini akan menjadi malam terakhir aku tidur sendiri bersama buku diary kesayanganku yang selalu menjadi teman bicara.

Rasanya campur aduk. Antara terharu, senang, bahkan sedih. Terharu karena aku akan meninggalkan kedua orang tuaku dan hidup bersama dengan suami. Senang karena aku akhirnya diberi kesempatan Allah untuk menikah diusia muda. Dan sedih karena tak bisa dipersatukan oleh orang yang aku inginkan. Walau rasa itu terkadang muncul berulang-ulang kali. Ku coba patahkan semua fokusku pada dia. Aku akan mencoba untuk menerima. Harus menerima.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Saatnya beristirahat karena besok aku harus bangun pagi untuk dirias."Hmm."aku memejamkan mata dan tidur terlelap.

****

Semua orang terlihat sibuk mondar-mandir kesana kemari. Begitupun dengan Ayah yang sedaritadi sibuk menelpon sanak saudara yang akan hadir ke acara pernikahanku.

Ibu juga terlihat sibuk membantu mempersiapkan barang bawaan yang akan dibawa saat menghadiri ijab qabul di masjid AL-IKHLAS yang dibantu oleh beberapa saudara dan tetangga.

Dan saat ini aku sedang dirias oleh MUA handal yang berasal dari Bandung sekaligus pesanan gaun yang waktu itu ku pesan dengan Ibu. Wanita itu adalah perhiasan dunia. Dan saat dia dirias sepertiku saat ini, pasti akan terlihat begitu cantik. Sayangnya aku belum mahir untuk berhias diri seperti dandan.

"Mbak Dira, hidungnya mancung sekali ini ya?"

"Hehe. Iya, Mbak."

"Kalo diukur pakai penggaris kira-kira berapa centimeter yah? Aduhh..saya iri deh."ujarnya sambil mengoleskan foundation ke wajahku.

"Bisa aja, Mbak. Ohh ya. Saya pengen make upnya jangan terlalu medok ya Mbak. Soalnya saya gak nyaman."

"Siappp, Mbak Dira. Hena ditangannya mau warna apa?"

"Emang adanya warna apa?"

"Ada merah dan putih. Tapi saran saya warna putih aja. Cantik."

"Boleh boleh. Saya manut aja lah."

"Okelah."

Sambil meneruskan memake upkan wajah, tanganku diberi hena warna putih oleh perias yang lain. Tangannya begitu lihai dan aku sangat ingin mencobanya."Kak, belajar seperti ini darimana?"

"Otodidak aja Mbak Dira."

"Oalah. Sendiri gitu? Ada trik khususnya gak?"

"Gak ada sih. Paling kalo model kita lihat contoh diinternet terus kita praktekin sendiri."

"Em gitu. Maa Syaa Allah seneng liatnya."

"Hehe. Mbak Dira juga pasti bisa kok. Gampang ini mah."

"Siap..siap."

****

Beberapa sanak saudara yang menemaniku juga ikut dirias. Dan mereka semua terlihat berbeda bahkan sangat cantik pagi hari ini. Detak jantungku berdegup tidak stabil. Terkadang terasa tenang, kadang juga mendadak beritme cepat."Mbak Diraaa."ujar Ibu yang memasuki ruangan make up pengantin.

"Iya, Ibu."

"Maa Syaa Allah. Kamu cantik sekali nak. YaAllah...anak Ibu kah ini?"saat Ibu memujiku semua pasang mata para perias diruangan make up ikut tersenyum kearahku. Sebenarnya aku tidak percaya mengapa wajahku lebih terlihat cantik saat diberi polesan make up. Apakah ini yang membuat para wanita begitu senang bahkan hobby merias wajahnya agar terlihat cantik?

"Ibu...Dira malu ahh."

"Ihhh. Maa Syaa Allah jadi inget Ibu waktu muda deh nak. Cantiknya kamu ini."

"Hehehe. Ada apa Bu?"

"Ibu pesan jangan gugup yah. Banyak berdzikir dan istigfar agar dimudahkan Allah."

"Iya Bu. Daritadi Dira terus berdzikir didalam hati. Dira deg-degan, Bu."

"Pokoknya kamu harus tenangkan dirimu nak. Jangan gugup!"Ibu mengelus bahuku dengan lembut.

"Iya Bu. Do'ain Dira ya."

"Iya nak...Ibu pergi ke masjid duluan ya. Kamu nanti menyusul sama Fina dan Fini. Keluarga besan sebentar lagi sampai."

"Serius Bu?"jantungku benar-benar berdegup semakin kencang. Aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Sulit diungkapkan dan terasa sesak didada.

"Iya nak. Sudah sampai di Superindo. Sebentar lagi mereka sampai ke masjid. Ingat seperti kemarin ya, kamu datang setelah mas Khurnia sudah mengucapkan ijab qabul. Nanti akan ada pemandunya."

"Baik, Bu."

"Yasudah. Ibu berangkat, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Benarkah aku akan menikah? Benarkah ini? Aku akan menjadi seorang istri dan sekaligus Ibu dari anak-anakku kelak. YaAllah..jadikanlah keluarga kami sakinaah, mawadah, warahmah. Aamiin.

****

Akhirnya aku berangkat bersama kedua sepupuku Fina dan Fini menuju masjid AL-IKHLAS. Jarak antara rumahku dan masjid sangat dekat, jadi kami hanya butuh waktu 3 menit saja untuk sampai kesana.

Tak henti-hentinya aku terus saja berdzikir, beristigfar dan memohon ampun atas segala dosa-dosa dan kesalahanku dimasa lampau. Aku berharap Allah memberkahi pernikahan kami. Menjadikan kami pasangan yang selalu penuh diberikan kebaikan-kebaikanMu. Dijauhi dari segala marabahaya serta dihindarkan dari fitnah dunia dan akhirat. Allahumma Aamiin.

Setelah sampai aku duduk dibelakang dan masih ditemani oleh Fina dan Fini. Tak lama, Reina, Aprilia, Gladis datang ke masjid AL-IKHLAS untuk menemaniku. Mereka memang sudah memberitahuku bahwa hari ini akan datang dari mulai serangkaian acara ijab qabul sampai acara resepsi nanti siang dirumah.

"Maa Syaa Allah. Dira! Kamu cantik banget. Aku kangen kamu!"ujar Gladis sambil memelukku.

"Maa Syaa Allah..Nadira kamu luar biasa cantik. Bidadari darimana ini ya?"ujar Reina seraya meledekku.

"Dari Surga sepertinya."sahut Aprilia.

"Terimakasih ya kalian sudah datang. Aku bersyukur banget punya kalian."

"Sama-sama sayang. Jangan gugup ya. Tenang-tenang."

"Iya, Rein."

Tiba-tiba Aprilia duduk mendekat disampingku. Dia berbicara sangat pelan layaknya berbisik ditelingaku."Ra, beneran kamu gak kasih tau Aldi atau kak Rian soal pernikahan kamu ini?"

"Jangan, Pril. Tolong banget jangan."

"Kenapa sih?"

"Aku gak ada hubungan apa-apa dengan kak Rian. Dia juga gak pernah memastikan apapun kok ke aku. Anggap saja dia laki-laki modus yang cuma ingin mendekati aku."

"Husssh! Gak boleh gitu. Jadi beneran?"

"Udah, Pril. Jangan dibahas. Aku lagi gak mood membahas itu. Lagi ingin fokus dengan pernikahanku."

"Okeh. Baiklah. Maaf ya, Ra."

"Iya gak apa-apa."

Kembali untuk Pergi...Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang