Eps. 7 : Sepertinya...

2K 223 20
                                        

.
.
.

"Kau akan pulang besok, ayah sudah menyuruh Tuan Kim untuk menemanimu besok pulang ke rumah," ucap Tuan Kang sambil mengusap surai coklat anak semata wayangnya dengan lembut.

Jihoon sudah bangun. Maksudnya lelaki cantik itu sudah kembali siuman malam tadi sesaat setelah Woojin berpamitan untuk pergi ke Busan. Tetapi sampai pagi ini lelaki cantik itu terbangun dengan keadaan yang masih sedikit lemas karena darah yang dikeluarkan cukup banyak. Dan sekarang pun ia masih terasa sedikit pening. Dokter Ha bilang, ia sudah baik-baik saja dan sudah bisa untuk sekedar berjalan-jalan di taman rumah sakit ini. Tetapi semenjak dari sadarnya, sikapnya hanya diam tidak banyak bergerak, sesekali memandang jendela luar dan makan seadanya.

Tuan Park melirik pergelangan tangannya yang terbalut kassa, pergelangan tangan itu masih terlihat pucat. Ia meraihnya dan mengelusnya dengan lembut disana.

"Kau ingin aku untuk menghancurkan seseorang?" Ucapnya diselingi nada marah yang ditahan. Tidak. Sudah semenjak kemarin sebenarnya ia menahan rasa marahnya pada seseorang yang sudah membuat anaknya seperti ini, dan ia tahu itu siapa.

Jangan tanya bagaimana ia tahu siapa orang yang sudah membuat anaknya seperti ini. Semenjak dokter Ong memberitahunya jika bukan temannya yang kemarin yang membuat anaknya seperti ini, ia langsung menyuruh Kim untuk mencari tahu siapa yang tega membuat anaknya sampai melakukan hal seperti ini. Dan kini ia hanya menunggu untuk mengeksekusi orang tersebut.

"Aku akan membalas perbuatan mereka untukmu," ucapnya dingin. Sambil sesekali mengelus surai sang anak.

Jihoon hanya diam tidak mempedulikan apa yang ayahnya katakan. Ia hanya melihat keluar jendela. Hatinya masih terasa sakit karena Ga Young. Tidak mungkin.ia mupakan wanita yang sudah mengkhianatinya, meninggalkannya. Tidak. Dia yang meninggalkannya demi Ga Young. Seharusnya ia sudah mati saat ini, menemani mendiang ibunya disana.

Tetapi.. Woojin..

Lelaki itu... masih jelas dalam ingatannya sayup-sayup ia mendengarnya suaranya menangis memanggil-manggil namanya.

Woojin.. menangis untuknya..
Kenapa..

Fikirannya kini terpusat pada Woojin, bukan lagi pada mantan kekasihnya. Dan ia tidak tahu kenapa, tangisan Woojin yang memanggil namanya saat itu menganggu fikirannya bahkan dalam mimpi. Ia melihat kembali wajah itu menangis sambil memeluknya erat. Ditambah lagi, Seongwu memberitahunya jika Woojin lah yang menyelamatkannya dari kematian pada malam itu.

Membuatnya semakin merasa.. entahlah, ini seperti mengganggu fikirannya.

Ada sedikit rasa penasaran yang timbul di sudut kecil hatinya yang paling dalam.

"Park.. Woojin.." gumamnya.

"Semua barang nya harus di pindahkan dari apartement itu sekarang juga,"

Jihoon melirik sinis sang Ayah yang masih berbicara dengan dengan Kim, pengawalnya perihal membereskan semua barangnya dari dalam apartement untuk kembali pulang ke dalam rumah. Ia tidak tahu jika ternyata sang Ayah sudah mengetahui tempat tinggal nya selama ini, dan juga mengetahui Woojin-teman satu kamarnya.

"Kau tidak akan kembali ke apartement itu lagi ok," ucapnya lembut mencium pucuk kepala Jihoon dengan sayang.

"Aku tidak akan pulang," balasnya dingin.

Sang Ayah diam, mengeratkan kembali rahangnya menahan emosinya. Mulai lagi..

"Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan mu nak, kau harus pulang ke rumah besok tanpa terkecuali,"

"Aku tetap tidak akan pulang, tidak akan pernah!" Bentaknya keras.

Tuan Park mencubit pangkal hidungnya jengah. Menerima sikap sang anak yang tidak mau menurut. Ia menghampiri Jihoon lalu duduk di tepi ranjang besarnya. Ia menatap lirih pada Jihoon-nya.

ROOM 101 (2Park) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang