Eps. 9 : Semakin Dekat

2.2K 237 44
                                        

Aku hanya ingin berteman dengan mu yang kesepian, kenapa?
Karena aku pun kesepian...
Hanya saja tak kau lihat...

.
.
.


Room 101

Woojin dengan telaten membersihkan dan mengobati luka di sudut bibir Jihoon. Pria cantik itu hanya diam menerima perlakuan Woojin padanya. Tidak banyak berbicara karena akan sakit sekali jika membuka mulutnya karena luka tersebut. Woojin menperhatikan kulit wajahnya yang masih terlihat pucat, untungnya saja tidak membiru, jika membiru Woojin benar-benar akan semakin ingin membunuh pria bernama Hyunbin itu.

Kotak P3K yang dipakainya ia taruh di atas meja televisi. Kemudian, ia meraih sebuah selimut dari ujung kaki pria cantik ini. Dan menutupi tubuhnya hingga leher.

"Berbaringlah," ucapnya menyuruh tubuh lemas itu untuk tidur di sofa. Jihoon menolak untuk tidur di dalam kamar. Ia ingin tidur di sofa putihnya alasannya agar lebih mudah menonton televisi. Tetapi sebenarnya bukanlah itu.

"Aku akan mengambilkan minuman hangat untukmu," ucapnya setelah menyelimuti tubuh lemas itu. Ia bangkit dan beranjak pergi ke dapur.

Namun, sebuah tangan putih menahan pergelangan tangannya. Woojin melirik Jihoon.

"Ada apa?"

"Jangan pergi kemana-mana, duduk saja disini," ucapnya.

"Aku hanya akan mengambilkan minuman hangat untuk mu,"

Jihoon menggelengkan kepalanya kukuh, sedikit menarik lengan Woojin untuk tidak pergi dari sisinya.

Woojin mengalah.

Ia pun duduk di alas berbulu milik Jihoon tepat di samping sofa yang di tiduri oleh teman cantiknya ini.

Kedua tangannya dilipat di atas sofa agar lebih mudah melihat wajah Jihoon dari dekat. "Kau tidak mau minum?" Tanyanya.

Jihoon menggelengkan kepalanya lagi. Ia hanya menatap Woojin dengan tatapan sayu. Tubuhnya benar-benar terasa lemas dan kepalanya masih pening meskipun baru saja ia meminum obatnya. Sepertinya memang darahnya belum cukup stabil untuk melakukan aktivitasnya.

"Baiklah aku akan duduk disini, kau ingin menyalakan televisi?" Tanyanya yang sudah memegang remote televisi.

Jihoon mengangguk.

Ia melirik Woojin dari samping yang mulai asyik memperhatikan acara di televisi yang sebenarnya tidak terlalu menarik. Namun lelaki gingsul itu sesekali tertawa melihat acara TV itu. Dan jihoon secara tidak sengaja memandangnya cukup lama, entah kenapa..

Rasanya tenang dan damai melihat wajah tertawa Woojin yang cukup renyah, seperti sebuah lantunan melodi indah di telinganya. Udara nya terasa hangat di tubuh nya, apakah karena ada penghangat di ruangannya?

Jihoon mulai memejamkan kedua matanya perlahan. Mendengar suara tawa renyah Woojin membuatnya mengantuk, dan sedikit menghapuskan kejadian tidak mengenakkan tadi dari fikirannya.

Mulai saat ini urusan Jihoon menjadi urusanku juga..

Tiba-tiba saja kalimat Woojin tadi terlintas dibenaknya. Membuatnya membuka kembali kedua matanya yang terpejam. Kenapa tiba-tiba ia memikirkan kalimat Woojin tadi?

Perutnya terasa aneh. Woojin kembali berbicara kalimat aneh yang membuat perutnya terasa menggelitik hari ini.

Aneh, ini bukan tanda sakit perut bukan?

Dan lagi jika di fikir-fikir kenapa pria gingsul itu begitu baik padanya? Padahal Jihoon sebenarnya tidak benar-benar menganggap Woojin sebagai seorang teman. Ia hanya berbicara asal saat itu. Tetapi Woojin.. pria itu benar-benar percaya jika ia menganggapnya sebagai temannya. Dia terlalu positif. Tidak curiga dirinya di manfaatkan?

ROOM 101 (2Park) ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang