Hai aku kembali~
Hihi, maaf malah update lebih cepat, gak jadi besok deh, besok aku sibuk mau rampungin Room 101 ENDINGGGGG🎉🎉🎉🎉🎉 PECAH BISULLLLLL💃💃💃
Hahahahaha😁
So, silahkan di nikmati episode yang ini karena mungkin akan membosankan, hehe soalnya yang rame aku taro buat ending ya gak?😎
Dari pada banyak cakap, langsung aja di lirik LEGO💪👉
*************ROOM 101*************
Rumah Sakit
Hyunjin masih setia menunggu di kamar Jihoon. Ia baru saja membereskan beberapa barang untuk keperluan Jihoon nanti seperti baju dan lainnya.
Sejak di rawat beberapa hari yang lalu hingga sekarang, Hyunjin tidak pernah absen meninggalkannya. Meskipun banyak kejadian yang menimpa ayahnya Jihoon, tetapi tidak membuatnya meninggalkan sahabatnya itu.
Bisa di bilang balas Budi, ya balas Budi.
Jihoon pernah membantu keluarganya di saat jatuh terpuruk sampai kini bangkit kembali. Terlalu banyak hutang balas Budi yang dilakukan Jihoon untuknya. Sampai kapan pun mungkin ia tidak dapat membayarnya. Jika ini zaman kerajaan, rasanya ia menjadi pelayan setianya saja.
Suara alat pengatur denyut jantung berbunyi teratur mengisi kekosongan di ruangan ini. Jihoon masih tertidur seperti biasanya dengan beberapa alat selang di sekujur tubuhnya. Alat bantu selang nafasnya pun masih stabil. Ia masih bernafas cukup baik, seperti orang yang sedang tertidur pulas.
Kepalanya yang di balut oleh kain putih seperti sedang menggunakan topi putih. Wajahnya tanpa luka sama sekali syukurnya, tetapi satu kaki dan satu tangannya patah, itu yang harus di sembuhkan nanti.
Hyunjin tersenyum melihat wajah Jihoon yang tertidur pulas.
"Kau seperti putri cantik yang sedang tertidur menunggu pangerannya datang dan menciumnya lalu hilanglah kutukannya," ucap Hyunjin sendiri.
Ia terkekeh sendiri disana, terdengar cukup geli mendengar ucapannya sendiri. Yah, setidaknya untuk menghiburnya saat ini.
Hyunjin menghela nafasnya sambil duduk memperhatikan Jihoon. "Hahhh... Kapan pacar mu itu datang eoh?" Ucapnya kembali. "Harusnya ia datang mengunjungi mu, bukannya mengabaikan mu seperti ini," ucapnya lagi.
Bip... Bip... Bip...
Hyunjin melirik alat deteksi jantung yang terus berbunyi disana. Grafiknya menunjukkan sangat teratur, itubartinya jantung temannya ini masih baik-baik saja. Ia mendongakkan kepalanya lalu menghela nafasnya berat, setidaknya alat ini yang membuatnya merasa Jihoon tetap ada disini bersamanya.
Berat.. sungguh berat.. sedih sangat sampai hari ini pun Hyunjin merasa sedih melihat kondisi Jihoon tetapi ia harus semangat dan yakin bahwa Jihoon akan kembali nanti. Dan tersenyum seperti biasanya lalu mengajaknya bertengkar.
Ia rindu di pukul oleh temannya ini, Hyunjin tertawa sedih disana. "Aku merindukan mu Jihoon-ah," ucapnya lirih.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang di geser, Hyunjin menoleh melihat siapa yang datang ke kamarnya. Ia terdiam sesaat saat melihat siapa yang masuk ke kamar temannya ini.
"Masuklah Woojin,," ucapnya datar.
Woojin datang seorang diri ke rumah sakit, tidak bersama Minhyun seperti biasanya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan datang bertemu dengan Jihoon.
Langkah kakinya berat ketika melihat Jihoon yang terbujur lemas di atas ranjang dengan semua alat rumah sakit yang menempel pada tubuhnya. Hyunjin tau kemana Woojin sedang melihat. Ia menghela nafas. Kemudian mengambil ponselnya dan mendekati Woojin.
KAMU SEDANG MEMBACA
ROOM 101 (2Park) END
SonstigesApa yang terjadi jika teman roomate mu tidak sesuai dengan yang di harapkan? Park Jihoon anak orang kaya yang tengah kabur dari rumahnya. Park Woojin anak dari desa yang ingin belajar hidup mandiri di kota asing demi mengejar cita citanya. Mereka be...
