Eps. 6 : Pendekatan

2.2K 215 12
                                        

.
.
.

"Tuan, hentikan!" Seongwu mencoba melepaskan cengkraman kuat jemari Tuan Park pada kemeja yang Woojin pakai. Lelaki pendek itu terlihat takut dengan seorang laki-laki kaya yang berumur tiba-tiba datang menamparnya dan hendak memukulnya saat ini. Jika saja Seongwu tidak segera datang, sudah bisa di pastikan sebuah tinju melayang tepat di wajah pria gingsul ini.

Daniel tidak bisa melerainya karena sang penjaga bertubuh besar menahan tubuh kekasihnya. "Lepaskan tangan anda Tuan kumohon, ini di rumah sakit, kau tidak boleh membuat keributan," pintanya.

Cengkraman tangan kuat itu akhirnya melemah, dia melepaskan pakaian Woojin namun sorot matanya tetap menatap lelaki gingsul itu dengan tajam.

"Dia bukanlah orang yang membuat anak anda bertindak seperti ini, kami bertiga yang membawanya kemari," ucap Seongwu mencoba menjelaskan sementara Woojin masih terdiam kaku di tempat tidak bisa mengatakan apapun, ia masih syok dengan apa yang dilakukan oleh pria tua ini tadi.

"Apa aku bisa mempercayaimu?" Tanyanya.

"Saya dokter yang bertugas disini, dan dia perawat yang bertugas disini, anda boleh menuntut kami jika kami berbohong," balas Seongwu tegas.

Pria tinggi itu terdia sambil masih memperhatikan Woojin yang kini tertunduk lesu. Ia melirik ke arah pria dengan rambut pirangnya dan menyuruh pengawalnya untuk melepaskannya.

"Jika kau berbohong, aku benar-benar akan menuntutmu, dokter Ong," ancamnya.

Air muka Seongwu seketika berubah lebih tenang, ketika melihat lampu ruang operasi kecil sudah kembali hijau, dan seniornya pun sudah keluar dari dalam ruangan operasi unit gawat darurat dan berbicara dengan pebisnis kaya tersebut. Sepertinya Jihoon terselamatkan karena lelaki tua tersebut langsung tersenyum sumringah dan berjalan cepat kedalam ruangan.

Daniel menghampiri Woojin yang masih tertunduk lesu. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya.

Woojin hanya diam tak menjawab apapun, kemudian beberapa menit ia pun bersuara, "siapa.. pria itu hyung?"

"Dia ayahnya Jihoon, pebisnis terkaya di negara kita, Park Haneul," jawab Seongwu yang juga menghampiri Woojin.

Saat itu Woojin hanya diam termenung, tak mengatakan apapun. Hanya satu hal yang ia tahu, Jihoon benar-benar anak yang sangat dicintai oleh ayahnya.

.

.

.

.

.

Woojin menghela nafas panjang setelah mengetahui jika Jihoon baik-baik saja, ia terduduk menunduk disana menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya lega sekali mendengar jika pria cantik itu baik-baik saja. Ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu padanya terlebih lagi, ayahnya yang sempat salah paham padanya. Membuat hari ini rasanya sangat lelah lebih dari sebelumnya.

Dan keheningannya di interupsi oleh suara ponsel yang bergetar di saku celananya. Ia meraihnya dan sedikit terkejut melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

Klik!

"Ibu.."

[Bagaimana kabar mu nak?]

Suara khas sang ibu menggema diseberang sana. Membuat hatinya sedikit menghangat.

"..aku baik.. sangat baik,"

[Benarkah? Tapi suaramu tidak sangat baik sayang, apa kau sakit?]

Woojin terdiam sesaat sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan sang ibu. Wanita itu hafal bagaimana kondisi anaknya.

ROOM 101 (2Park) ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang