Baiklah, karena permintaan,
Gue bakalan munculin moment 2park yang banyak disini huehehehehe ^^
.
.
Apartement 101
Klik!
"Aku pul.... ang.."
Bruk!
Tubuh lemah seorang Park Jihoon terhuyung kebelakang ketika dengan cepat Woojin memeluknya erat.
"Hya! PARK WOOJIN! Lepas!"
"Sebentar!" Balasnya tidak mau melepaskan Jihoon yang tengah meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Woojin.
"Lepaskan! WOOJIN! Ugh!!" Jihoon benar-benar mencoba lepas dari mahluk berkulit tan tersebut, pasalnya Woojin memeluknya dengan sangat erat membuat tubuh lemahnya menjadi semakin lemah.
"Sebentar! Sebentar saja! Kumohon.." ucapanya lirih.
Jihoon pun diam. Ia berhenti meronta ketika nada Woojin berubah lirih.
"Apa-apaan kau ini?"
Woojin hanya memejamkan kedua matanya dan sesekali menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher teman roomatenya ini. Hatinya merasa khawatir namun sangatlah lega. Melihat Jihoon sudah berada di apartementnya lagi dan sudah bisa berteriak lagi padanya.
"Ku fikir kau akan mati.. hiks,"
Woojin?
"Hei kau-"
"Jangan lakukan hal bodoh itu lagi!Hiks.. ku fikir kau benar-benar akan mati! Dasar bodoh! Hiks.."
Jihoon mengernyitkan keningnya, mendengar suara isakan Woojin. Dia... menangis?
"Kenapa kau.. menangis?" Tanyanya saat merasakan bahu kirinya mulai terasa basah dan hangat.
Woojin tetap memejamkan kedua matanya menangis ketika bayang-bayang peristiwa mengerikan kemarin muncul tiba-tiba di benaknga membuatnya semakin mengeratkan pelukannya pada pemuda cantik ini.
"Aku takut.. aku takut.. kau tidak bangun lagi, hiks.." isaknya.
Deg!
Woojin menangis untuknya? Untuknya? UNTUKNYA?
Kalimat itu kini terngiang-ngiang di kepalanya. Ada apa ini? Kenapa hatinya sedikit terasa hangat.
"T-tentu saja aku akan bangun! Aku ini kuat! Tidak lemah sepertimu, yang menangis seperti wanita," ejeknya lalu mendorong tubuh Woojin kuat.
"Lepaskan aku," Ucapnya ketika berhasil melepaskan dirinya dari pelukan Woojin. Lelaki cantik itu berjalan dan mengambil satu mangkuk salad yang tadi sempat di belinya saat kabur dari rumah sakit. Berkat bantuan Daniel, ia berhasil pulang kembali ke apartementnya, tidak peduli dengan amukan ayahnya setelah ini.
Woojin memperhatikannya yang asyik memakan buah salad. Sepertinya Jihoon memang sudah pulih dan baik-baik saja meskipun terlihat masih sedikit lemas.
"Kemana saja kau selama aku sakit eoh?" Tanyanya ketus.
Woojin ikut duduk di hadapan Jihoon dan mencuri satu potong melon yang langsung di pukul jemarinya oleh teman cantik roomatenya ini. "AH! Aku.. pulang ke Busan," ucapnya di sela perih jemarinya karena pukulan Jihoon.
Jihoon memelototoinya seolah berkata 'salad ini punyaku, kau tak boleh menyentuhnya'. Woojin hanya diam dan menelan ludahnya pasrah jika Jihoon sudah mulai kembali pada sikap egoisnya.
"Bisa-bisanya kau pulang disaat aku sakit? Teman macam apa?" Sindirnya.
Teman? Jihoon sudah menganggapnya teman?
KAMU SEDANG MEMBACA
ROOM 101 (2Park) END
De TodoApa yang terjadi jika teman roomate mu tidak sesuai dengan yang di harapkan? Park Jihoon anak orang kaya yang tengah kabur dari rumahnya. Park Woojin anak dari desa yang ingin belajar hidup mandiri di kota asing demi mengejar cita citanya. Mereka be...
