Jika memang harus berakhir,
Berakhirlah...
Tapi ku mohon jangan abaikan aku..
Akhirilah lah dengan baik..
Karena kau adalah sesuatu yang indah.. yang pernah ku miliki..
Sampai kapan pun..
Aku tidak mungkin melupakanmu..
Mantan kekasihku..
.
.
.
.
.
Tiga hari kemudian...
RUMAH DUKA
Minhyun menoleh dan terkejut ketika melihat siapa yang datang ke tempat ini. Diantara orang-orang yang berbaju hitam, hanya dia yang mencolok karena warna rambut pirangnya. Raut wajahnya berubah tidak suka.
"Mau apa kau kemari?" Minhyun menahannya.
Lelaki cantik itu dengan kasar melepaskan tangan Minhyun yang menahan tubuhnya. "Minggir," ketusnya.
Namun Minhyun tidak membiarkannya, ia semakin menahan Jihoon di depan pintu."Aku tanya mau apa kau kemari?" Tanyanya lebih ketus.
"Aku ingin menemui Woojin," ucapnya lirih. Terlihat dari kedua matanya yang sepertinya ia menangis sebelum ini.
"Tidak boleh, keadaan Woojin sedang tidak stabil saat ini, kau tidak boleh menemuinya,"
"Aku ingin bertemu Woojin.." lirihnya kini. Matanya menatap lirih Woojin dengan setelan baju hitam disana yang tengah terduduk lemas di depan photo ibunya.
"Tidak, percuma kau datang kemari pun, tidak akan mengubah suasana hatinya, kemana saja kau selama ini hah?"
Jihoon menunduk, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Minhyun, hatinya kini sakit melihat Woojin duduk disana seorang diri. Menatap bingkai photo sang ibu yang tersenyum padanya. Jihoon tau bagaimana rasanya kehilangan seorang ibu. Dan ia terkejut ketika mengetahui berita ini, ia langsung pergi kemari tanpa pikir panjang.
"Ini bukan urusan mu,"
"Tentu saja ini urusanku!" Minhyun berteriak kecil sambil sesekali melihat ke sekitar takut-takut orang-orang disana mendengar suaranya.
"Ku mohon biarkan aku bertemu Woojin.." pintanya pada Minhyun.
"Tidak! pergilah, sampai Woojin hatinya membaik," Minhyun mendorong tubuh Jihoon untuk pergi dari rumah duka.
"Tidak kumohon ijinkan aku menemui Woojin, kumohon,"
Minhyun tidak mendengarkannya dan tetap membawa Jihoon pergi menjauh dari sana sampai Woojin tiba-tiba memanggilnya.
"Minhyun Hyung,"
Minhyun menoleh padanya.
"Biarkan dia masuk,"
Minhyun menghela nafas panjang lalu memelototi Jihoon, "awas kalau sampai kau membuatnya menangis," ancamnya. Akhirnya ia membiarkan Jihoon masuk kedalam.
Jihoon berjalan perlahan dan melihat nenek serta ketiga adiknya Woojin yang terus menangis disana. Sementara Woojin hanya terduduk tapi tanpa menangis.
Perlahan ia mendekati Woojin yang masih terduduk diam disana memandangi photo cantik ibunya yang tengah tersenyum. Wajahnya tidak berekspresi sama sekali, seperti robot yang hanya memandangi photo itu. Jihoon mendudukkan dirinya di samping Woojin perlahan dan tidak mengatakan apapun. Dia.. bingung.. apa yang harus dikatakan pada Woojin..
Perasaannya bercampur aduk menjadi satu, antara merasa bersalah dan kasihan melihat Woojin seperti ini. Ia tidak sanggup..
Ia menghela nafas panjang dan memberanikan diri menyapa Woojin.
KAMU SEDANG MEMBACA
ROOM 101 (2Park) END
De TodoApa yang terjadi jika teman roomate mu tidak sesuai dengan yang di harapkan? Park Jihoon anak orang kaya yang tengah kabur dari rumahnya. Park Woojin anak dari desa yang ingin belajar hidup mandiri di kota asing demi mengejar cita citanya. Mereka be...
