<keep calm and stay reading>
ROOM 101
===============
"Kau.. Gay?"
Woojin menatapnya polos, "Kenapa? Kau keberatan?"
Jihoon menatapnya horror, ia meletakkan lembar peraturan Woojin perlahan di atas meja. Lalu bergeser dari tempat duduknya sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan menatap takut pada lelaki disampingnya. Mimpi apa ia semalam, seteleh malam kemarin dijemput paksa oleh ayahnya saat pesta Klub nya, sekarang ketika ia berhasil kabur, ia malah terjebak dengan seorang Gay? Dan mereka berbagi apartement pula?? Oh Tuhan, apa salah Jihoon?
Woojin melihat sikap Jihoon yang terlihat aneh. Lelaki gingsul itu mengangkat sebelah alisnya heran dengan perubahan sikap Jihoon yang drastis. Sesaat tadi lelaki cantik itu sangat sombong, ketus dan dingin. Lalu ia berubah menjadi cerewet, dan sekarang tiba-tiba menjadi pendiam dan penakut. Apa teman sekamarnya memiliki penyakit mental?
"Ada apa denganmu?" Tanyanya heran melihat sikap dan ekspresi Jihoon padanya yang menjauhinya.
"Jangan dekat.. dekat.. denganku," ucapnya pelan namun nadanya terdengar galak.
Woojin semakin bingung dengan sikap Jihoon, ada apa dengan lelaki ini? "Kau kenapa sih?"
Jihoon semakin menyilangkan kedua tangannya seolah mengunci tubuhnya agar tidak dijamah oleh Woojin. Disanalah Woojin paham kenapa Jihoon bersikap aneh padanya. Rupanya pemuda cantik ini takut akan dirinya yang seorang Gay. Ia tersenyum jahil dan mendekati Jihoon perlahan membuat pria cantik itu memundurkan tubuhnya semakin takut.
"Ku bilang jangan mendekat!" Ucapnya takut.
Namun harus diingat, lelaki gingsul ini sangat jahil. Woojin ingin membalas perlakuan Jihoon padanya saat tadi. Pria cantik ini selalu bersikap buruk padanya padahal mereka baru saja saling kenal. Tetapi gaya bicaranya sudah sangat menyebalkan, dan Woojin tidak suka. Ia harus memberikan sedikit pelajaran pada primadona kampus ini.
"Berhenti disitu Park Woojin!!" Teriaknya semakin takut karena Woojin semakin menyudutkannya ke tepi sofa.
"Kenapa? Apa kau takut?" Tanyanya seduktif. Lalu ia meraih pergelangan pria cantik ini dengan cepat dan mencengkramnya erat. Ia menaruhnya disamping kiri dan kanan, mengunci tubuhnya dibawah kungkungan lengan besar itu. Woojin tersenyum nakal, ia sudah mengira jika anak orang kaya ini memang angkuh, hanya mulutnya saja yang berani, tetapi sikapnya sama seperti seekor kucing penakut. Lagi pula ia tidak memiliki tenaga besar untuk melawannya, terbukti pergelangan tangannya begitu kecil jika dibandingkan dengan pergelangan tangannya, mudah sekali dipatahkan.
Jihoon meronta-ronta dengan keras dibawahnya. Namun, usahanya sia-sia karena tenaga Woojin lebih besar dibandingkn dirinya. Ia ingin menangis saat ini juga, dirinya benar-benar takut Woojin akan menjamahnya. Sungguh demi apapun setampan apapun Woojin ia tetaplah seorang pria normal yang lebih menyukai dada besar dan bokong besar bukan p***s besar!
"Lepaskan aku Woojin! Jika kau macam-macam aku akan teriak!" Ancamnya pada Woojin berharap jika lelaki gingsul itu akan melepaskannya. Tetapi Jihoon salah, lelaki tampan ini tidak berniat untuk melepaskannya.
"Teriak saja kalau bisa, nanti bibirku yang akan membungkam bibirmu," ucapnya seduktif. Ia mendekatkan wajahnya pada pakaian kaus yang di pakai Jihoon. Ia menggigitnya lalu membawanya ke atas perlahan hingga tersingkap tubuh putih polos yang indah. Jihoon semakin meronta ketika pakaiannya disingkap oleh Woojin hingga memperlihatkan dadanya yang polos. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin menangis rasanya, Woojin benar-benar membahayakannya. Seseorang tolonglah Jihoon!
KAMU SEDANG MEMBACA
ROOM 101 (2Park) END
DiversosApa yang terjadi jika teman roomate mu tidak sesuai dengan yang di harapkan? Park Jihoon anak orang kaya yang tengah kabur dari rumahnya. Park Woojin anak dari desa yang ingin belajar hidup mandiri di kota asing demi mengejar cita citanya. Mereka be...
