Haiiiiiiii~ 😁
Nih sekuel nih udah di bikinin, jangan minta lagi ya, xixixixi
Maafkan diriku yang selalu membuat kalian PHP kayak hubungan gak ada status eaaaa~
Semoga bisa memenuhi rongga perut kalian ya~ xixixixi
Makacih udah mau mantengin ROOM 101 Ampe tamat, Ampe lumutan xixixixi🤭 pokoknya kalian dabest😎👌maafkeun klo aku bikin cebel~ bikin kezel~
Dan terakhir.. goodbye🤗 sampai ketemu lagi di next cerita💜😘
Cayang kalian cemua~💋
.
.
.
.
.
Jihoon side:
Dalam hidupku ini adalah hal kedua yang paling membahagiakan setelah hadiah ulang tahun dari ibuku. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Ini bukan sekedar materi atau barang mahal yang aku mau. Karena aku sudah tidak memiliki itu semua. Ini hanya masalah kenyamanan dan hati yang saling mencintai.
Mataku melihat minhyun dari balik kaca mobilnya yang sedang sibuk membantuku memasang jas putih dan memasangkan sebuah aksesoris bunga di saku bajuku. Sambi menepuk-tepuk bahuku ringan.
Aku tersenyum.. dia bukanlah sahabatku, dia sahabat Woojin, dia bukanlah temanku, dia temannya Woojin, tapi dia yang paling sibuk mengurusi hari pernikahan kami.
"Kau sudah pakai parfum?"
Aku mengangguk. Dia menjawab oke lalu mengoleskan lipbalm rasa strawberry sedikit di bibirku, alasannya agar terlihat cantik. Cantik? No, aku merasa diriku tampan, bukan cantik.
"Satu lagi tinggal merapihkan dasimu," ucapnya sibuk dengan sisir kecil yang di apit di mulutnya.
Aku kembali tersenyum simpul. Minhyun, aku selalu tidak suka padanya sejak awal kami bertemu hubungan kami tidaklah baik, bahkan sampai sekarang pun masih tidak baik, tetapi entahlah semakin kami tidak suka semakin kami saling dekat dan saling memahami satu sama lain. Minhyun benar-benar sangat memahami orang lain.
Minhyun sekarang bisa di bilang seperti seperti seorang kakak bagiku. Aku tidak melihatnya sebagai teman atau senior di kampusku. Aku bahkan memanggilnya Hyung.
"Oke done! Sudah siap,"
Aku mengangguk dan merapihkan sedikit rambut pirang ku didepan kaca, sementara Minhyun tengah mengambil mantel tebalnya dengan beberapa barang lain di bantu oleh Jaehwan hyung-tunangannya, maaf, mantan tunangannya.
Aku melirik sedikit, mereka tengah saling berebut untuk membawa beberapa barang. Lucu sekali, ku dengar Jaehwan Hyung tengah pendekatan kembali pada minhyun Hyung. Lelaki pemilik toko bunga itu ingin merajut kasih kembali dengan Minhyun hyung kabarnya, berita yang bagus menurutku.
"Hyung, ayo, Woojin sudah menunggu di dalam," ucapku memanggil mereka berdua yang tengah berdebat kecil karena sebuah barang.
Mereka menyudahi perdebatannya, dan Jaehwan hyung dengan cepat mengambil barang yang di bawa oleh Minhyun hyung. Aku tertawa melihat ekspresi wajah Minhyun hyung yang memerah karenanya.
"Ayo, kita ke dalam, cuaca diluar dingin," ucapnya polos. Aku tertawa lagi melihat mereka berdua.
"Tunggu," Jaehwan Hyung tiba-tiba berhenti dan menatap ku.
"Kau sudah siap Jihoon?" Tanyanya.
"Y-ya begitulah,"
Bohong jika aku tidak gugup. Saat ini jantungku berdetak tidak normal, sejak tadi bahkan keringatku terus saja keluar. Aku gugup sangat gugup. Entah kenapa? padahal semalam aku masih bercinta dengan Woojin dan itu biasa saja. Tapi kenapa sekarang gugup sekali, padahal kami tidak mengundang siapa pun, hanya teman dekat saja. Yaitu Minhyun Hyung, Daniel dan Seongwoo Hyung, juga Hyunjin. Sudah itu saja tidak ada lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ROOM 101 (2Park) END
RandomApa yang terjadi jika teman roomate mu tidak sesuai dengan yang di harapkan? Park Jihoon anak orang kaya yang tengah kabur dari rumahnya. Park Woojin anak dari desa yang ingin belajar hidup mandiri di kota asing demi mengejar cita citanya. Mereka be...
