Emang kerja sama satu tangan tuh sulit banget ya :(
Hahhhhh.... :(
Setidaknya daku udah rampungin part ini. Dan sekarang daku makin bingung aarrgghhhh! mau di konsepin apa ini endingnya!!!!! ><
Jadi dari pada baca curhatan daku yang gak jelas, silahkan enjoy read this~
Psst! JANGAN LUPA KOMENT DAN LIKE~
.
.
.
.
Don't you give up nananana~
I won't give up nananana~
Let me love you~
Let me love you~
"terima kasih," Jihoon mengangguk pada seorang pramuniaga di hadapannya yang memberikan uang kembalian.
Ia mengambil uang kembaliannya dan memasukan kedalam saku coat pasta nya. Kedua tangannya membawa satu mangkuk mie rebus instan panas dan secangkir coffee panas yang di bawa nya pada meja kursi yang terletak di samping mini market ini.
Hujan belum terlalu reda, hanya beberapa anak gerimis yang masih turun. Ia memutuskan untuk pergi ke mini market sebelum pulang ke hotel milik Hyunjin. Jabgan tanyakan kenapa ia masih harus pulang kesana.
Sekalipun Hyunjin menyuruhnya untuk pulang dan menemui Woojin, ia belum berani bertemu pria gingsul itu. Tidak semudah membalikan telapak tangan. Sekalipun ia sudah mengetahui perasaanya pada lelaki itu, tapi...
Ia perlu memastikan lagi. Memastikan sejelas-jelasnya jika degupan jantung ini memang untuk Woojin.
Woojin... shi...
Sudah lebih dari seminggu ini ia menghindari pria gingsul itu. Dan itu semua karena ciuman itu. Jika hal ini tidak terjadi, mungkin.. Tidak akan begini..
Sedih rasanya.. Berjauhan dengan Woojin.. Tapi, ia malu,
Entah kenapa rasanya hatinya tidak siap, jantungnya selalu berdebar kencang jika mendengar namanya saja. Apalagi jika melihat pemuda tampan itu?
Tampan?
Jihoon tiba-tiba tersenyum sendiri. Otak nya benar-benar sudah gila. Karena akhirnya ia bisa menyebut pemuda gingsul itu tampan. Otaknya memang sudak tidak waras, fikirnya.
Ia menaruh semangkuk makanannya juga coffee panasnya. Sambil melihat jalanan yang masih di guyur gerimis dari balik kaca mini market ini.
Ia meminum sedikit coffee panas nya sambil menunggu mie nya agar tidak terlalu panas saat ia akan makan nanti. Ia memandang menu sorenya itu, kemudian tersenyum pahit.
Kau ingin makan apa? aku akan buatkan..
Disaat seperti ini, bisa-bisa nya bayangan Woojin melintas di benaknya tanpa seijinnya. Jihoon kembali tertawa pahit. Mengingat selama ini Woojin yang selalu memasak menu makannya. Tetapi kini, ia hanya makan semangkuk mie rebus instant juga secangkir coffee panas dan itu hampir setiap hari. Kasihan sekali dirinya.
Deg..
Deg..
Ia rindu masakan Woojin..
Aku akan masakan daging untukmu setiap hari agar kau cepat pulih!
"woojin-ah..." ucapnya lirih.
Deg..
Deg..
Ia merindukan Woojin..
KAMU SEDANG MEMBACA
ROOM 101 (2Park) END
OverigApa yang terjadi jika teman roomate mu tidak sesuai dengan yang di harapkan? Park Jihoon anak orang kaya yang tengah kabur dari rumahnya. Park Woojin anak dari desa yang ingin belajar hidup mandiri di kota asing demi mengejar cita citanya. Mereka be...
