something make me angry

14.8K 821 13
                                        

Hari ketujuh bersama orang asing. Aku tidak tau aku akan sebetah ini. Hari keempat kakak sakit, dan ibu meninggalkan kami.

Aku masih mendengar dengan jelas saat di persidangan kedua ayah dan ibu berpisah, ibu menangis dan meminta hak asuh aku dan kakak. Tapi... Tidak bisa.

Aku yang duduk disana hanya bisa diam melihat ayah dan ibu saling menenangkan diri atas kekacauan ini. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang ayah mau, ayah terlihat menyayangi ibu, tapi kenapa perpisahan ini terjadi?

Setelah hari itu, aku hanya bisa bertemu dengan ibu di luar rumah, ibu menjemputku di sekolah, ibu menjemputku setelah les bimbel, dan ibu selalu mengatakan apapun yang terjadi pada ayah dan ibu Ara tetap kebanggaan kami. Apa ini omong kosong yang lain?

Kakak masih sakit. Dan hari ini akan di bawa ke rumah sakit bersama ayah dan ibu, setelah ibu menjemputku dari les bimbel sore nanti.

Hujan masih mewarnai perjalananku ke tempat lesku, jangan cemas aku sudah biasa dengan dingin, aku jadi ingat ketika aku masih kecil ibu selalu memarahiku karena kehujanan, dan ayah, dia memang keren bukannya menyuruhku untuk bergegas masuk rumah tapi ayah memancing kemarahan ibu yang lain dengan ikut bermain denganku, dan ikut menarik ibu di tengah hujan bersamaku dan ayah. Hah... Aku kangen.

Aku sampai di tempatku les bimbel atau apalah itu sebutannya. Aku memulainya biasa, dan tolong digaris bawahi bahwa aku termasuk anak yang menjaga interaksi, bukan kakak yang memiliki sifat yang lembut seperti ibu, kata teman-teman ku aku ketus dan dingin. Tapi aku punya satu teman kok..

"Masih nekat juga kesini, udah tau hujan, segala pesen ojek online. Kenapa ngga taksi online aja teduh kamu ga bakalan basah kayak gini".

Saras. Satu-satunya orang yang mampu melihat keramahanku di tengah sikap dinginku, katanya.

"Ya aku harus apa?" . Kubalas seadanya saja.

"Ara, kamu udah selesai tugas kemarin. Pinjem laaahh". Saras memang selalu begini, bersikap manis tapi memang manis betulan dia.

"Aku ga sempat". Apa aku terlalu dingin dengan Saras yang manis ini?

"Bohong. Unggulan kayak kamu masak males-malesan?" . See cerewetnya dia. "Ara, kamu juga harus belajar bahwa punya temen kayak aku dan ngasih contekan ke aku ga akan ada ruginya, kata mamaku kalau kita meringankan beban orang lain, beban kita juga akan berkurang, dan Tuhan makin sayang sama kita, kalo kamu ga percaya ...."

"Tanya sama pak haji?"

"Araa.... Kamu jangan nyela aku lagi ngomong". Saras marah, tapi aku senang melihatnya, selanjutnya cubitan di pipiku yang aku dapatkan. Dan aku hanya diam.

Saras. Apa kamu masih mau temenan sama aku, kalau kamu tau sekarang aku punya ibu dan mama?

Ibu tidak biasanya telat. Memang idolaku, sebelum aku selesai les ibu sudah ada di depan tempat les. Senyum ibu tak pernah berubah, selalu bisa menenangkan hati anaknya, dan tangan ibu selalu hangat, meski hujan saat ini masih mendominasi.

"Ara, capek ya sayang?". Usapan di kepalaku, ibu aku menyayangimu.

"Nggak ibu, ibu jadikan nganter kakak ke rumah sakit, kasian kakak" . Aku sedikit membenarkan letak tasku. "Kakak pasti seneng juga kalo ibu pulang" .

"Jaketnya di pake Ara, kamu selalu pengen hujan-hujanan ya". Aku hanya tersenyum dan ibu mencubit pipi kananku. Hobi Saras dan ibu sama. "Ara mau mampir dulu, ada keperluan sekolah yang mau dibeli?".

Aku menggeleng dan menatap lekat ibu. Ibu masih sangat cantik dengan luka hatinya.

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya fokus ke jalan dan mendengarkan musik melalui earphone ku. Selalu nyaman berada di dekat ibu. Benarkan?

Little Sister || End || PROSES TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang