Fajar kali ini sudah menyinsing. Aku mulai menggerakan punggungku yang terasa pegal. Aku ingat bahwa aku tertidur di sofa ruang tamu semalam. Bukan hanya punggungku saja leherku pun juga ikut pegal karenanya.
Masih jam setengah enam. Masih banyak waktu sebelum aku berangkat ke sekolah. Tapi aku adalah Zahra yang hidup dalam kedisiplinan ayah. Setidaknya sekarang aku harus cuci muka.
Aku berjalan mendekat ke pintu kamarku. Sejenak aku berfikir apakah masih ada abang dan mama di dalam sana. Tapi ini adalah kamarku aku tidak harus mengetuk pintunya untuk masuk, aku hanya harus membuka pintu sepelan mungkin.
Akhirnya setelah pintu itu sudah terbuka. Abang dan mama sudah tidak ada disana.
Ada sedikit rasa bersalah yang mencubit sisi hatiku. Tapi bukan hanya itu saja samar-samar akupun mendengar ayah menangis di ruang kerjanya. Isakan pelan yang terdengar melalui pintu yang sedikit terbuka itu.
Sejujurnya ayah tidak pernah menangis dan sesedih itu. Ayah tidak menangis dan sedih kala ibu meninggalkannya, ayah juga tidak sesedih dan menangis seperti itu ketika aku membangkangnya. Bahkan ketika kak laras pergi, ayah yang menguatkanku dan tidak ada air mata ayah yang jatuh kala itu.
Dengan mengumpulkan keberanian sebelumnya aku mendekat pada ayah. Namun ketika sampai di pintu aku tidak berani masuk lagi. Aku mematung. Seperti ada paku yang menancap di kedua kakiku. Dari sudut ini aku bisa melihat ayah yang menangis lebih jelas. Membuat aku juga merasakan kesedihannya juga.
Semarah apapun aku pada ayah dan sekeras apapun kami bertengkar. Aku rasa kami tetaplah ayah dan anak yang memiliki ikatan batin. Seorang anak yang melihat ayahnya sesedih itu pasti juga ikut merasakan sakitnya. Tanpa sadar setetes air mataku turun ketika kelopak mataku berkedip.
"Ara...", aku tersikap dengan panggilan yang terucap dari suara serak ayah itu. "Ara sejak kapan disana, Nak?"
Aku refleks menunduk, terlampau tidak kuat untuk melihat wajah ayah yang penuh dengan air mata dan kelopak mata ayah yang sembab dan memerah. Aku yakin ayah menangis semalaman karena saat ibu meninggalkan rumah, kondisi wajah seperti itu yang aku dapatkan keesokan paginya.
"Aku..baru saja ayah. Apakah ayah akan lembur hari ini?", suaraku seakan seperti cicitan yang menyedihkan.
Setelahnya ayah memelukku erat dan mengusap kepalaku sejenak, setelahnya ayah dengan tiba-tiba menyatukan kening kami. Sikap ayah yang seperti ini membuatku melihat jelas wajah ayah yang begitu kacau.
Sejenak mematung dengan posisi itu tanpa sadar aku semakin ingin menangis saja. Dan jika tidak aku tahan sudah kupastikan aku sudah terisak.
"Ara ayah sangat menyayangimu, Nak. Sangat sayang. Melebihi diri ayah. Ayah akan selalu menyayangi Ara apapun yang terjadi. Maafkan ayah ya, Nak"
"A-ayah..
"Ara anak ayah yang baik, kan? Maafkan ayah ya, Nak"
Aku menganggukan kepalaku beberapa kali sambil mejamkan mataku. Aku merasa kelopak mataku ini sudah dipenuhi airmataku yang siap tumpah. Aku tidak ingin menangis didepan ayah.
"Aku sangat menyayangi ayah. Aku ingin ayah bahagia.." , perlahan aku membuka kelopak mataku. Dari jarak yang sangat dekat ini aku melihat senyum ayah dengan lelehan airmata yang masih saja mengalir dipipinya.
Tanganku terangkat untuk mengusapnya perlahan.
"Bungsu ayah memang yang terbaik", ayah mengusap kepalaku lagi dengan senyum ceria dan bahagianya.
Dua detik setelahnya kami saling melempar tertawa kecil. Dalam benakku aku sedikit menertawakan apa yang kami lakukan pagi ini. Aku seperti anak kecil di hadapan ayah yang sedang mengungkapkan rasa sayang pada ayahnya. Ternyata aku dan ayah juga bisa melakukan hal-hal semacam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Sister || End || PROSES TERBIT
RomanceRumah yang seharusnya untuk pulang menjadi tempat yang kubenci...
