Little Happiness

7.5K 494 21
                                        

Zahra pulang sekolah cepat. Fisiknya tidak bisa dia paksa lagi untuk lelah. Leukemia yang ada dalam tubuhnya benar-benar menyulitkan.

Kedua kakinya juga harus melemas untuk beberapa detik setelah dia berjalan mungkin dalam waktu dua jam. Tubuhnya sudah tidak sekuat dulu lagi begitu juga hatinya. Zahra tidak mengerti sisi mana lagi dalam hidupnya yang akan baik-baik saja setelah ini.

Mungkin juga setelah ini ayahnya tidak akan mengijinkan Zahra sekolah lagi. Proses pengobatan yang panjang dan melelahkan akan dia jalani bulan depan. Kemoterapi dan obat-obatan, dua hal itu akan menjadi temannya seumur hidup.

Saat berjalan mungkin tinggal beberapa meter sampai rumah, ada bola basket yang menggelinding tidak sengaja disamping kedua kakinya.

Zahra menoleh seketika. Ia mengambil bola basket itu dan memberikan pada anak-anak yang sedang bermain basket dilapangan komplek perumahan yang memang dibuat khusus untuk permainan basket.

Zahra tidak langsung pulang. Dia menikmati pemandangan yang ada didepannya. Seandainya Zahra bisa bermain basket lagi pasti akan sangat menyenangkan.

***

Reno pulang dari sekolahnya yang berbeda dengan sekolah Zahra. Dia dan Zahra selalu melewati jalan yang sama. Kini kedua pandangnya juga awas melihat Zahra yang menatap sendu anak-anak yang sedang bermain basket dari ayunan.

Reno langsung berniat ingin menemaninya. Dia tidak akan membiarkan adiknya menatap bola basket kesukaannya sendiri. Itu bisa berdampak pada psikologisnya dan Reno takut kondisi Zahra akan menurun. 

"Sudah senja, pulang sama abang?" tawaran Reno tidak juga dijawab oleh Zahra yang tengah asik memandang anak-anak itu dengan tatapan murung.

"Zahra ingin bermain?"

Pertanyaan ini dibalas dengan gelengan kepala lemah Zahra. Setidaknya, adiknya sudah berespon.

"Zahra tidak boleh banyak fikiran"

Agaknya, Zahra berhasil untuk dialihkan perhatiannya. Dibuktikan dengan Zahra yang kini menoleh pada Reno.

"Aku tidak memikirkan apa-apa, Bang Reno"

Bang Reno?

Ini adalah untuk kali pertama Reno mendengar sendiri Zahra memanggilnya dengan panggilan demikian.

"Ara ngga mikirin apa-apa"

Zahra mengalihkan wajah untuk menatap jauh kedepan. Tatapannya kosong penuh kesenduan tapi juga ada air mata yang akan jatuh jika kelopak mata Zahra tidak terlalu kuat.

"Dulu aku pernah janji mau main basket sama abang kalau kakiku sudah membaik. Abang inget kan? Sekarang aku tidak mungkin bisa, Bang"

"Apa maksud Ara? Ara bisa kok kapan aja ngajak Abang main"

Jawaban Reno yang tidak mendasar dan terkesan menolak kenyataan memancing senyum menyedihkan diwajah Zahra. Ia kemudian menyisir rambut sebahunya dan memperlihatkan pada Reno helai rambutnya yang sudah mulai rontok.

"Rambutku pasti akan semakin tipis dan fisikku ngga akan mungkin bisa dibawa lari seperti dulu aku sama Bang Reno main basket"

Reno mengepalkan salah satu tangannya. Ia memalingkan wajah untuk tidak melihat rambut Zahra yang rontok begitu banyak meski hanya disisir dengan lima jari.

"Tapi apa Bang Reno tau? Karena penyakit ini aku jadi bisa membuka hati untuk menerima keberadaan Bang Reno dan Mama Listya"

Reno masih belum mau menoleh pada Zahra. Senyuman teduh menenangkan yang biasanya Reno tunjukan padanya sudah luntur digantikan dengan senyuman tipis yang terlihat memaksa.

"Bang Reno ga bisa menolak kenyataan kalau adik abang ini sakit"

Zahra bangkit dari ayunannya. Dia mensejajarkan tubuh pada Reno yang masih duduk di ayunan sambil memalingkan wajah.

Zahra menangkup kedua sisi wajah Reno dan perlahan meminta abangnya itu menoleh padanya.

"Tidak apa kan kalau sekarang aku penyakitan, Bang?"

"Ara ngomong apa sih?"

Zahra bisa melihat kedua bahu Reno yang bergetar samar ketika mengucapkan pertanyaannya barusan.

Reno menangkup punggung tangan Zahra yang masih berada di kedua pipinya sebentar lalu menurunkannya untuk dia genggam saja.

"Zahra ngga boleh ngomong kaya gitu. Kalau Zahra emang udah menerima abang dan Mama. Harusnya, Zahra berjuang melawannya. Pasti bisa, Dek"

Zahra mengangguk tapi tidak dengan hatinya yang berteriak bahwa mustahi dia akan bertahan dari kankernya.

Little Sister || End || PROSES TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang