Pain

7.4K 443 14
                                        

Aku tidak tau sudah tertidur berapa lama. Tapi kelopak mataku begitu berat dan butuh beberapa detik untuk bisa membukanya sampai aku sadar. Awalnya kedua netraku hanya bergerak kekiri dan kekanan sampai aku merasakan lenganku yang ditangkup oleh seseorang.

Aku harus menurunkan kepalaku sedikit untuk melihat kepala yang terkulai begitu saja disamping tubuhku dengan kedua punggung yang naik turun dengan teratur.

Ruangan ini berbeda dengan ruang IGD yang aku tempati sebelumnya. Aku juga semakin bisa merasakan ada masker oksigen terpasang diwajahku.

Aku kenapa?

Aku tak pernah sakit, sungguh aku tak pernah sampai seperti ini. Paling parah itu tipes dan cukup dirawat dirumah saja.

Aku tak bersuara pun juga bergerak. Aku takut tidurnya abang terusik. Aku terus memperhatikan abang yang tampak lelah. Jika salah satu tanganku tidak kram karena infus maka pasti aku sudah mengusak rambut abang dan memintanya tidur ditempat yang lebih nyaman.

Aku mengira aku akan melihat abangku yang tertidur dalam waktu yang lebih lama tapi ternyata abang terusik dan menegakkan badannya.

Lemah sekali badanku sampai menggerakan tanganku rasanya sangat sulit belum lagi kepalaku yang rasanya terus berputar pusing.

"A-ara, Dek, abang panggil dokter dulu". Abang lalu beranjak dengan segera. Padahal aku tau ada tombol untuk memanggil dokter diatas bedku. Iya kan?

Aku hanya diam saat Dokter itu mengecek kedua mata dan juga menggunakan stetpskopnya padaku. "Ara kau belum boleh melepas oksigenmu. Tekanan darahmu masih rendah harus dibantu oksigen tambahan agar kamu tidak makin pusing. Kau juga mengalami anemia, kami akan merencanakan transfusi"

"Apa separah itu, Dokter?"

Abang sepertinya takut sekali terjadi sesuatu padaku. Tapi jauh dari pada itu aku merasa tubuhku tidak beres memang untuk beberapa hal. Mungkin harus aku tanyakan setelah aku tidak terganggu dengan masker oksigen ini.

"Tidak. Setelah mendapat transfusi Zahra akan membaik. Ini karena anemianya saja"

Aku bisa melihat abang yang mengangguk singkat untuk beberapa saat dan untuk apa air mata yang menetes itu?

"Abang.." panggilku saat Dokter itu menjauh dari kami. Setelah aku pastikan Dokter itu pergi aku melanjutkan kalimatku. "Aku kenapa?". Tentu saja aku bodoh menanyakan ini. Mana mungkin abang akan jujur disaat kondisiku masih seperti ini. Aku juga meragukan bahwa abang akan menjawabku.

"Biar Dokter bicara sama ayah dulu ya"

Benar kan? Abang tidak akan berbicara jujur mengenai kondisiku dan aku hanya akan membuang waktu menanyakannya berulang kali atau memaksa abang untuk jujur.

"Ayah sama ibu masih disini?"

"Iya Dek. Setelah kamu sadar pasti mereka sedang berdiskusi dengan Dokter sekarang"

Abang manyisir rambutku dengan lembut seketika rasa kantuk mulai menguasai kedua kelopakku lagi. Abang mungkin menyadarinya hingga dia tetap mengusap kepalaku sampai aku benar terlelap.

***

Reno memastikan Zahra sudah tertidur kembali. Adiknya itu pasti merasa lemas dan pusing. Tidak apa memang Zahra harus butuh istirahat yang cukup dikondisinya yang sekarang. Lalu saat suasana damai dalam kamar Zahra terasa, Reno bisa mendengar teriakan ayah dan ibu tirinya yang ada diluar kamar Zahra. Hal itu langsung membuat Reno bergegas menuju mereka.

Disaat Reno sampai sana barulah dia menyadari bagaimana sakitnya hati Zahra saat melihat kedua orang tuanya bertengkar. Reno bersyukur adiknya itu tak terusik karena suara kemarahan yang terdengar kuat.

Little Sister || End || PROSES TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang