At Least

6.7K 460 6
                                        

Acute Lymphocytic Leukemia

Dari mana aku bisa mendapatkan penyakit itu? Aku sungguh merasa bahwa tubuhku baik-baik saja. Aku tidak memiliki riwayat sakit apapun. Aku juga sangat jarang masuk rumah sakit. Seterguncang apapun jiwaku aku tidak pernah sampai sakit. Dan sekarang penyakit yang mengerikan itu datang padaku dengan kejamnya.

Ibu dan Ayah tidak berhenti memeluk dan mengenggam kedua tanganku. Sedangkan aku sendiri tidak bisa bereaksi apapun selain menatap kedua kakiku saja.

"Ara tidak perlu takut. Ibu akan mengusahakan kesembuhanmu. Ibu akan membawamu berobat. Ibu yakin Ara masih bisa sembuh. Jangan putus asa dulu, Nak"

Aku belum memiliki kuasa untuk menjawab meski hanya satu kata saja suara Ibu yang memberiku harapan.

"Ara harus tetap semangat ya, Nak" itu Ayah. Pasti sangat berat sekali untuknya. Untuk mereka kedua orang tuaku.

Mungkin, ini adalah karma untuk keluarga kami. Keputusan yang diambil oleh kedua orangtuaku menyebabkan putri-putrinya harus menderita. Termasuk aku.

"Ara mau kan ikut Ibu? Ibu akan membawamu berobat, Nak" ajak Ibu sambil mengusap wajahku dengan lembut. Lalu setelah aku merasa aku memiliki sedikit kekuatan maka aku menjawab, "Ibu yakin?" tanyaku yang membuat usapan lembut Ibu terhenti.

Perlahan aku menolehkan wajahku dan menatap Ibu penuh kesedihan. "Jika aku ikut Ibu, maka suami baru Ibu pasti akan merasa direpotkan oleh keberadaanku". Lalu aku mengalihkan pandanganku kepada Ayah. "Bukankah semuanya sama saja. Aku tidak akan pernah melihat ibu dan ayah bersama lagi" kalimatku semakin lirih dan kini air mataku ikut menyertai jawaban yang aku berikan selanjutnya.

"Ayah tidak bisa juga bercerai dengan Mama Listya dan meninggalkan Bang Reno" lanjutanku setelah aku menatap keduanya. "Sekarang biarkan berjalan saja sebagaimana mestinya. Ibu dan Ayah tidak perlu memperdulikan keadaanku sama seperti dulu saat Ibu dan Ayah tidak peduli pada Kak Laras yang--"

"Ara!" bantah Ibuku yang sampai harus berdiri dari tempat duduknya. "Ibu tidak pernah bermaksud untuk membuat Ara bersedih. Ibu berusaha mencari pengobatan untuk Ara. Kenapa Ara harus pasrah dan terkesan menyalahkan Ibu, Nak?"

"Apa kau tidak bisa menahan emosimu. Tolong Susi, Ara sedang sakit!". Tentu Ayah tidak akan bisa membiarkan Ibu makin menjadi-jadi.

"Aku ibunya, Mas! Aku ikut bertanggung jawab untuk kesembuhannya. Mas dan dia  tidak bisa menjaga putriku dengan baik!" meski dengan suara marah, Ibu menjatuhkan air mata dipertengahan kalimat yang baru saja dia lontarkan.

"Aku juga Ayahnya. Aku berhak untuk menentukan proses penyembuhan anakku. Aku berhak membuat keputusan karena aku yang mendapatkan hak asuhnya sampai detik ini, Susi!"

Mereka berdua masih balas berteriak dan tidak memperdulikan aku yang sebenarnya sangat ketakutan. Aku pejamkan kedua mataku erat sambil meremat selimut yang aku pangku kuat. Kenapa kedua orang tuaku bisa saling beradu mulut seperti ini hanya untuk mempertahankan aku sebagai anaknya?

Meski kedua mataku tertutup aku bisa mendengar Mama Listya yang memaksa Ayah dan Ibu keluar sementara ada telapak tangan yang menutupi kedua telingaku.

Lalu beberapa detik setelahnya, aku membuka kedua mata dan melihat Abang yang memberikan senyum teduh padaku. Senyuman itu tidak pernah berubah meski aku melemparkan tatapan benci atau tidak suka. Senyuman teduh itu selalu tampak dan selalu Abang berikan padaku dalam situasi apapun.

"Berjuang ya, Dek. Ara tidak boleh putus asa" kata Abang setelah ia mengangkat kedua tangannya dari telingaku. Aku harus berjuang seperti apa. Bukankah selama ini aku juga sudah selalu berjuang?

"Abang minta maaf.."

Aku masih terdiam dan ikut menangis saat Abang juga menjatuhkan kepala dan memperdengarkan isakannya.

"Semua ini tidak akan terjadi kalau Abang dan Mama tidak ada ditengah-tengah Ara dan keluarga Ara.."

Aku tau sekarang dan selanjutnya hanya akan ada penyesalan dan kesedihan. Aku tau setelah ini aku akan banyak mengalami masa yang sulit yang otomatis membuat hidupku kepayahan.

"Abang tidak apa kalau Ara benci. Tapi Abang ingin melihat Ara sembuh.."

Aku dan Abang pasti sama-sama tau bahwa itu tidak mungkin. Tapi tetap aku harus positif thinking dalam artian menerima kenyataan karena aku pun tau menjerit pada Tuhan tak akan membuat segalanya membaik. Ketetapan Tuhan sudah berada padaku. Itulah yang harus aku terima.

"Ini karma karena aku membenci Abang.."

Lalu berbagai pemikiran datang padaku. Mungkin memang benar seperti itu. Abang dan Mama Listya datang dengan kasih sayang yang tulus tapi aku justru membenci mereka. Membuat mereka memohon hanya untuk aku menerima kehadirannya. Dan sekarang aku sedang dihukum.

"Ara ga boleh ngomong kaya gitu. Ara pasti sembuh kok. Ibu, Ayah, Mama dan Abang pasti akan mengusahakannya" ucap Bang Reno sambil meremat kedua tanganku.

"Aku ga mau ikut Ibu, Bang. Ibu tidak seperti dulu lagi"

Menurutku memang demikian, Ibu dulu sangat baik dan penyayang tapi sekarang Ibu sangat kasar dan memaksakan kehendak padaku. Aku tau kasih sayangnya masih sama. Seorang ibu tidak akan membenci putrinya. Seorang ibu pasti akan dirundung duka sedalam-dalamnya saat putrinya harus divonis dengan penyakit mengerikan semacam itu.

"Abang janji, Abang akan usahakan supaya Ara tetap disini. Abang tau yang Ara butuhkan adalah keberadaan Ibu disisi Ara" janji Abang lalu dengan perlahan dia mengusap air mataku. "Sekarang Ara harus fokus sama pengobatannya. Ara ngga boleh putus asa. Ara ngga boleh patah semangat"

Bang Reno kemudian memelukku dan beberapa kali memberikan tepukan pelan yang menenangkan dan cukup membuat aku merasa lebih baik.

Untuk waktu-waktu berat yang akan datang, aku berharap mereka tidak mengambil nyawaku dengan cepat. Aku ingin melihat kedua orang tuaku saling melempar senyuman dan tatapan kebahagiaan.

Dan untuk Mama Listya dan Bang Reno. Aku harap mereka tak terlalu lama menyimpan dendam padaku yang sempat membenci keberadaan mereka.

Little Sister || End || PROSES TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang