i miss my happiness

10.1K 614 9
                                        

Aku bangun kesiangan lagi. Sungguh melelahkan. Kebut selama satu minggu kemarin untuk menyelesaikan hukuman ayah ditambah dengan beban di akhir semester cukup membuat badanku kepayahan.

Setelah bertengkar dengan ayah dan bertemu dengan 'abang' malam itu, aku tidak bisa tidur lama, dan memikirkan bagaimana caranya hukumanku selesai memperbaiki nilaiku, mendaftar kembali untuk les bimbel dan ekskul, menyelesaikan tugas, kecuali menerima kehadiran 'mama dan abang'. Aku belum bisa dan mungkin tidak bisa.

Tiba-tiba aku jadi rindu dengan kakak dan ibu. Aku ingin bertemu mereka. Aku sudah lupa hitungan hariku berapa lama kakak sakit dan ibu meninggalkan kami, pasti sudah lama.

"Ara, Sini sarapan nak" suara ibu. Apa iya?. Reflek aku mengangkat kepalaku, dan ternyata memang ibu. "Ibu.." sapaku sedikit berlari dan memeluk pinggang ibuku tercinta.

"Ara, jangan peluk terus nak, kapan kamu sarapan kalo begini,hm?". Aku harap waktu berhenti, aku rindu ibu. "Adek?" ibu menyamakan tingginya denganku, dan aku melihat senyuman ibuku lagi.

"Hm? Adek kok kayak gini sayang? Ibu kesini bukan mau melihat anak ibu nangis, sshhhtt cup sayaangg, ibu sama Ara disini..", saking bahagianya aku sampai bisu di depan idola hatiku sekarang. "Kangen sama Ibu nak?".

Aku tidak mau membuang waktu lagi, kupeluk ibuku, erat dan kusandarkan kepalaku di bahunya. Merasakan lagi cinta ibu yang terpisah dari kami, aku mau waktu berhenti sekarang juga.

"Ara, jenguk Kak Laras mau nak? Sekalian nanti jalan-jalan, ibu ga mau anak ibu ini semakim pintar gara-gara belajar terus"

Aku hanya mengangguk saja dan langsung menyantap sarapan yang dimasakan oleh ibu. Aku seperti tidak makan beberapa bulan sehingga dalam waktu sebentar makanan itu sudah habis.

"Ibu, Ara lagi di hukum ayah, ayah ga akan ngizinin Ara kemanapun sampai tugas dan nilai Ara membaik" , Ibu tertawa mendengarku bicara tentang hukuman itu. Detik berikutnya ibu menelfon seseorang, dan ternyata itu ayah.

"Ayah, Ini Ara mau izin" mataku membola mendengar ibu berkata begitu, apalagi ibu menyapa Ayah dengan kata ayah lagi, berbeda saat dipersidangan ibu memanggil ayah dengan sebutan 'mas'. Ibu menyodorkan handphone miliknya kepadaku, aku menggeleng dan menatap ibu dengan tatapan memohon.

Ibu membalas itu dengan tersenyum saja tapi aku tau makna dari senyum itu, "cepatlah" .

"Ayah, Ara lagi sarapan sama ibu.. Ehmm.. Ara semalem udah belajar juga.. Kak Laras sepertinya , Ayaah..", gugup luar biasa, aku tidak pernah berbicara dengan ayah lagi setelah ayah menghukumku.

"Ara, maafkan Ayah karena ayah sudah merusak semuanya, termasuk kebahagiaan Ara, ayah juga sudah keterlaluan menghukum Ara seperti ini, jangan Ara kira ayah ga tau apa yang Ara lakuin setiap malam, tidur dan makan Ara, gimana capeknya Ara, ayah tau semua, ayah kurang bisa memahami itu nak.."

"Ayah, Ara ga mau bahas itu, ayah jangan minta maaf sama Ara"

"Ayah tau anak ayah selalu menyayangi ayah, nak, hari ini ayo kita jenguk Kak Laras, nanti ayah susul kamu sama ibu, sampai ketemu di sana nak, ayah sayang sama anak ayah"

"Ara lebih sayang sama ayah", kututup panggilan itu, "Masih ga mau pergi hari ini sayang?" tanya ibu setelah aku mengembalikan handphone miliknya.

"Ibu ga akan tau kebahagiaan kayak apa yang aku rasain sekarang bu, terimakasih banyak", ibu kembali merangkulku dan mencium kepalaku, untung saja aku sudah mandi. "Ara, ibu harap ara ga akan lupa kalau ayah sama ibu sudah janji sama Ara dulu, Ayah sama ibu akan tetap menyayangi Kak laras dan Ara, ga akan kurang cinta Ayah sama ibu untuk kalian, ayah sama ibu tidak bersama sekarang, tapi cinta itu makin besar setiap hari untuk kalian, anak ayah sama ibu" , aku ingin waktu berhenti sekarang juga.

Aku bersiap untuk kerumah sakit bersama ibu untuk Kak laras. Aku tidak sabar melihat wajah bahagia kak Laras nanti ketika aku dan ibu menemuinya.

Kak Laras, akhirnya kita bisa bertemu. Banyak yang berubah darimu, sekarang kau mengikutiku gaya rambutku dan lebih kurus.

Saat itu kakak hanya diam ketika aku dan ibu mengajaknya berbicara, tapi kakak memelukku dan menggenggam tanganku erat, aku tau kakak masih sama, tetap hangat dan peyayang. Kakaku yang malang, yang harus menerima bahwa mahkotanya direnggut paksa oleh orang tak bertanggung jawab. Kakak terus menggumam kata takut dan pergi dengan pandangan kosongnya, kuharap sipapun yang membuat kakakku seperti ini, akan mendapat hukuman.

Kami begitu menikmati kebersamaan kami sampai tidak menyadari kedatangan ayah yang membawakan makanan dan beberapa pakaian untuk kakak, ayah memang selalu bertanggung jawab dan bekerja keras untuk keluarganya.

"Laras, Ayah tidak bisa jagain Laras ya nak, ayah minta maaf" , kemudian ayah merangkul kakak dengan erat dan mengecup kepala kakak. "Ayah bukan ayah yang baik, ayah tidak bisa melindungi Laras, maafkan ayaahh maafkan ayaahh", ayah mencium kening kakak dan mengusap kepala kakak, tanpa absen untuk mengatakan maaf berkali-kali pada kakak.

Seketika aku mengingat ucapanku dan tuduhanku beberapa hari lalu pada ayah. Aku salah, ayah tidak membuang kak Laras, ayah justru sangat menyayanginya. Mungkim lebih dari diri ayah sendiri. Dan aku yakin ayah adalah ayah yang terbaik di dunia meski ayah juga suami yang buruk untuk ibu.

Sampai sekarang aku belum tau apa alasan ayah, aku belum mengerti kenapa keluargaku terbelah menjadi dua seperti ini, padahal seperti ini saja sudah sangat membahagiakan.

Aku tak akan melupakan hari dimana 'mama dan abang' datang merusak kebahagiaan ini. Kedua orang tuaku harus bersatu dan kakak harus kembali sehat. Rumah kami harus menjadi tempat kebahagiaan kami.

------
Baiklah inspirasi mulai muncul kembali.

Terimakasih supportnya yak. Dan semoga tidak mengecewakan.

Have a good day

Little Sister || End || PROSES TERBIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang