Aku benci !
Benci!
Benci!
Benci!
Aku membenci diriku sendiri. Aku membenci takdir yang sedang mempermainkanku saat ini. Perpisahan orang tuaku sudah membuat hidupku berantakan dengan rentetan takdir yang ikut membuat ku muak. Kali ini aku merasa aku lebih membenci diriku sendiri saat berhadapan dengan situasi yang sulit ini. Segalanya begitu menyesakkan dan terjadi begitu tiba-tiba.
Aku belum siap. Aku belum siap. Untuk segalanya. Aku masih sangat berduka karena belum sampai setahun kakak pergi dari dunia ini, batinku juga masih sangat merindukan kasih sayang ibuku yang hilang beberapa bulan lalu. Sekarang aku kembali harus terpuruk saat melihat ayah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
Ayah..
Ayah bilang, baru tadi pagi. Dia bilang dia sayang padaku dan meminta maaf atas segalanya. Aku kira semuanya sudah akan membaik. Tapi kata baik itu justru semakin jauh dariku saat ayah sedang ada di dalam ruang IGD itu.
Aku sedang menunggunya sekarang. Aku panik sekali begitu melihat ayahku yang sudah tidak sadar sepenuhnya. Ayah overdosis karena meminum obat tidur terlalu banyak, itu penjelasan singkat yang dokter berikan padaku setelah ayah masuk ke ruangan yang membuatku ketakutan. Tanganku sedari tadi tidak berhenti bergetar aku bawa untuk menutup wajahku yang panas dan juga basah karena terlalu lama menangis.
Ini memuakan!
Kembali aku menarik nafasku perlahan untuk kesekian kalinya. Aku kembali teringat saat dimana ibu berjanji kalau dia akan tetap bersamaku saat suka dan duka, tapi mana? Ayah sedang kesakitan sekarang dan ibu bilang
Ibu akan mengusahakan secepat mungkin kesana.
Lalu panggilan itu tertutup begitu saja. Tanganku mengepal kuat untuk menghilangkan rasa sesak dan kesal dalam hatiku. Aku tidak bisa berfikir jernih. Keselamatan ayah menjadi nomor satu bagiku saat ini.
Sendirian dalam lorong rumah sakit ini membuatku teringat akan alasan ayah melakukan tindakan yang terlewat gila dan juga bodoh itu. Ayah sampai melakukan percobaan bunuh diri tidak lain karena Mama Listya dan Abang pergi dari rumah.
Ini baru sehari. Sehari mereka pergi dan ayah sudah mencoba bunuh diri. Aku tidak mau membayangkan jika mereka pergi lebih lama dari itu. Aku bisa gila melihat ayah sedih setiap hari karenanya. Terkadang aku merutuki kesalahanku yang mengusir mereka. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri kalau aku belum bisa menerima mereka.
Kembali aku menatap pintu ruang IGD yang sudah ada di depanku satu jam lamanya. Belum ada satupun yang memberi kabar dari dalam bahwa ayahku baik-baik saja. Aku mengigit bibirku kembali agar aku tidak kembali menangis.
Aku lelah...
Tolong camkan ini. Ayahku bukan orang yang begitu lemah sampai harus memutuskan untuk menyerah. Ayahku adalah sosok yang selama ini memberikan aku inspirasi agar aku tetap berdiri menghadapi kesulitan apapun. Meski sejak ayah berpisah dari ibu, ayah juga pernah menamparku atau hal kasar lain yang aku yakin ayah tidak bermaksud untuk melakukannya, ayah tidak pernah sedih atau mencoba untuk menghilang. Ayahku adalah orang yang selalu memikirkan konsekuensi dari apa yang dia lakulan.
Tapi kali ini ayahku sedang tidak waras.
"Keluarga Tuan Indra?"
Aku berdiri dan berjalan dengan kaki yang masih gemetar untuk mendekati dokter yang memanggil nama ayahku. Dokter yang sudah berumur itu menatapku lama seperti sedang mengira-ira sesuatu yang aku tidak mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Sister || End || PROSES TERBIT
RomantikRumah yang seharusnya untuk pulang menjadi tempat yang kubenci...
