Chap 3 ; Menikah

19.8K 452 8
                                    

; Lerai dalam Derita ;
.
.
.
.
.
.
.

Jezzy tersenyum manis melihat Willy di depannya. Di kecupnya kening Jezzy penuh kasih. Ucap janji sudah mereka ucapkan, tidak banyak tamu yang datang karena Willy meminta pernikahannya di hadiri hanya kerabat terdekatnya saja.

"Boleh aku menciummu?" Bisik Willy di samping telinga Jezzy, Jezzy tersenyum malu lalu mengangguk.

Willy menarik tengkuk Jezzy dan menciumnya. Jezzy yang tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan lembut dari suaminya itu.

Sorakan bahagia terdengar, Willy kembali mencium kening Jezzy kemudian melihat seluruh tamu yang hadir. Dilihatnya Mommy-nya menangis karena haru di depan sana.

Tanpa sadar Jezzy pun ikut meneteskan air mata melihat kedua orang tuanya yang menjadi saksi atas sumpah janji suci mereka.

Selesai acara, semua mulai menikmati makanan yang sudah di sediakan, Willy tak melepas sedikit pun tubuh kecil istrinya itu dari rangkulannya, mengobrol dengan kerabat berbagi kebahagiaan yang ia rasakan.

Willy benar-benar bahagia atas apa yang ia lakukan, meskipun ada rasa tidak terima di hatinya karena Marco; temannya sendiri memperkosa Jezzy.

Dengan rasa tidak terima itu ia tidak mengundang temannya itu untuk hadir, agar Jezzy tidak memikirkannya lagi.

"Makan, ya." Jezzy menggeleng, Willy menghela napasnya panjang.

"Nanti kamu sakit lagi bagaimana?" Sangat jelas terlihat di wajah Willy kalau ia sangat khawatir.

"Aku baik-baik saja, aku belum lapar, nanti kalau lapar aku akan makan," jawab Jezzy sambil tersenyum. Willy mengangguk dan mengelus kepala Jezzy.

"Kalau begitu aku makan dulu."

Jezzy mengangguk, sejak tadi pagi sampai sekarang Willy belum makan apa-apa karena gugup yang menyerangnya, sampai akhirnya semua bisa berjalan dengan lancar dan ia bisa menikmati makanan lezat itu dengan perasaan lega.

"Aku ke toilet sebentar."

Willy mengangguk dan mengecup singkat kepala Jezzy lagi sebelum Jezzy meninggalkan suaminya.

Jezzy menghela napasnya panjang, dalam hatinya bertanya-tanya, apakah ia berhak mendapatkan ini semua? Ia tidak jauh berbeda dengan sampah; yang sudah kotor dan tidak pantas untuk di perlakukan seperti ini, tanpa sadar air matanya kembali menetes, dengan cepat ia menghapusnya dan berjalan ke bilik kamar mandi.

"Licik."

Suara teriakan dapat Jezzy dengar dari dalam, suara yang sangat ia kenal.

Takut-takut Jezzy membuka kamar mandi, betapa terkejutnya ia melihat Marco berdiri di samping wastafel sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Ngㅡngapain kamu disini?" Jezzy mundur selangkah saat Marco melangkah mendekatinya.

"Tentu saja mencari budakku. Kau lupa? Kau adalah budakku."

Jezzy menggeleng, ia tidak tahu harus berbuat apa, ia sangat yakin kalau Willy tidak mengundang Marco.

"Jangan mendekat."

Bahagiaku, Kamu! ✔ Re-upTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang