; Lerai dalam Derita ;
.
.
.
.
.
.
.
.Suara ponsel berdering sangat nyaring membuat Jezzy terbangun. Jezzy menyingkirkan dengan pelan tangan Willy yang berada di perutnya.
Mengambil ponsel yang sangat mengganggu tidurnya, ia menghela napas panjang dan mengambil ponsel suaminya itu.
"Wil, loe dimana, ah?! Sisa laporannya sudah gue kirim ke e-mail. Hari ini loe harus kuliah. Kemarin loe sudah bolos! Loe masih hidup, kan?"
Jezzy diam, menatap suaminya yang masih tertidur pulas, ia melihat siapa yang menelpon pagi-pagi sekali.
"Maaf, Willy masih tidur, Fris." Jawab Jezzy tidak percaya, ternyata suaminya kemarin membolos kuliah dan itu karena dirinya sendiri.
"Jezzy, bilangin suami loe, bentar lagi harus di selesaikan skripsinya dan jangan membolos!" Kata terakhir penuh penekanan membuat Jezzy merasa bersalah.
Ia terlalu egois tentang hal ini, harusnya ia mengerti suaminya, tapi dirinya malah seperti anak kecil.
"Iya." Jawab Jezzy seadanya, lalu panggilan terputus secara sepihak.
Jezzy melihat suaminya itu, kemudian menghela napasnya panjang, sedikit merangkak sampai ia berada di atas tubuh Willy.
"Wil, maafkan aku." Bisik Jezzy di depan wajah suaminya.
Willy meregangkan tubuhnya, membuka dan menutup matanya beberapa kali untuk membiasakan penglihatannya, "Siapa yang telepon, Jez?" Suaranya parau dan kini ia bisa melihat wajah Jezzy sangat dekat di depan wajahnya.
"Kenapa kamu membohongiku?" Willy mengerutkan kening, kemudian memiringkan tubuhnya, sehingga Jezzy kini berpindah di sampingnya, karena ia tidak terlalu nyaman payudarah istrinya itu menempel di dadanya.
"Friska bilang apa?" Tanya Willy, Jezzy menghela napasnya lalu melihat kedua mata suaminya itu.
"Kamu bolos kuliah dan itu karena aku." Willy tersenyum, lalu mengelus lembut kepala Jezzy.
"Kenapa kamu minta maaf, heum?" Jezzy mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Willy.
"Karena aku merasa bersalah, aku egois, aku tidak memikirkan kamu." Willy menggeleng santai lalu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
"Ada saatnya kita harus mengorbankan sesuatu," Willy berujar dengan lembut, mengecup kepala Jezzy sebelum melanjutkan ucapannya, "dan kini kamulah yang lebih penting di hidupku, Jez. Apapun akan aku korbankan demi kamu."
Jezzy menyembunyikan wajahnya di depan dada Willy, memeluk lebih erat suaminya itu, ia tidak bisa lagi berucap apa untuk menjawab kata-kata Willy, Jezzy cukup tersentuh atas apa yang dikatakan Willy padanya.
"Kita bangun sekarang atau bermalas-malasan dulu?" Tanya Willy membuat Jezzy menjauhkan sedikit tubuhnya.
"Pulang." Willy terkekeh, lalu mengangguk. Ia mengecup sebentar bibir merah natural istrinya itu sebelum Jezzy memegang tengkuk suaminya dan terjadi lumatan lembut yang membuat hati Willy mengahangat.
Rasa bahagia akan selalu ia rasakan setiap Jezzy ada di sampingnya, dan hanya itu saja sudah cukup untuk Willy memberi alasan, karena ia sungguh-sunggu mencintai Jezzy dan semakin harinya cinta itu akan semakin tumbuh.
Suara kecupan terdengar beberapa kali membuat Jezzy terkekeh, "Bibir kamu kering, Wil." Jezzy mengusap bibir bawah Willy yang sedikit kering. Membuat Willy segera membasahinya dengan lidahnya, membuat jempol Jezzy ikut terkena lidah suaminya, bukannya mengeluh jorok Jezzy malah tertawa dan Willy semakin jahil menggigit kecil jempol Jezzy.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bahagiaku, Kamu! ✔ Re-up
Fiksi UmumFINISH!! {Masih banyak typo} #11 romance on 270319 REVISI. UPLOAD ULANG . . . Warning 📢 21+ Anak yang di bawah umur dilarang MEMBACA ❌🔞 Terdapat konten dewasa, kekerasan dan kata-kata kasar!!! Dilarang War! Novel Dewasa, jadi pintar-pintar membaca...