Chap 17 ; Hamil Muda

8.4K 217 9
                                    

; Lerai dalam Derita ;
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Willy tersenyum melihat Jezzy tersenyum ke arahnya, gambar di monitor sangat jelas terlihat kalau Jezzy itu sedang mengandung anak pertamanya.

Genggaman tangan Willy semakin erat, haru yang menjalar di hatinya membuat pelupuk matanya sedikit berair

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Genggaman tangan Willy semakin erat, haru yang menjalar di hatinya membuat pelupuk matanya sedikit berair.

"Selamat, Nyona Jezzy sedang mengandung. Umurnya sudah dua bulan." Willy mengecup kening Jezzy yang tertidur, kemudian Dokter kandungan yang Willy cari, Dokter Linda menutup kembali perut Jezzy.

"Nanti saya berikan hasilnya lebih detail." Willy mengangguk dan membantu Jezzy untuk bangun dari tidurnya.

"Aku hamil, Wil." Lirih Jezzy tidak percaya, matanya ikut berbinar. Tangannya tak henti-henti mengelus permukaan perutnya yang di lapisi baju

"Silakan duduk." Willy dan Jezzy duduk di depan Linda, dokter yang akan menangani kehamilan Jezzy sampai melahirkan.

"Sebelumnya, apa ada keluhan?"

Jezzy memandang suaminya yang terus memegang jemarinya itu.

"Tidak ada, Dok. Hanya payudarah saya sedikit bengkak." Jawab Jezzy, Linda mengangguk dan kembali bertanya.

"Tidak ada mual, pusing, atau menginginkan sesuatu yang berlebihan?" Jezzy kembali menggeleng.

"Syukurlah, Papanya juga jangan sampai sakit. Ini adalah kehamilan pertama untuk Jezzy, jadi harus dijaga kesehatannya, terutama jangan terlalu banyak berpikir."

Jezzy mengangguk mengerti.

"Ini ada resep vitamin, agar janinnya tetap kuat, umurnya masih muda dan itu sangat rentan, jadi harus lebih berhati-hati. Untuk Papanya jangan terlalu proktektif, biarkan Istrinya bergerak asalkan tidak terlalu kelelahan."

Willy mengangguk dan mengelus kepala Jezzy sambil tersenyum.

"Kemudian, makan makanan yang bergizi. Seperti sayur, buah dan daging serta ikan, tapi ingat, jangan terlalu berlebihan."

Pasangan suami istri itu kembali mengangguk mengerti, Willy akan menjaga istrinya dengan baik, apalagi di dalam perut Jezzy ada malaikat kecilnya.

"Ada pertanyaan lagi?" Dokter Linda bertanya, Jezzy menggeleng, namun Willy segera membuka mulutnya untuk bertanya sesuatu yang sejak kemarin ingin ia tanyakan.

"Oya, Dok. Kalau melakukan hubungan intim apa boleh?"

Jezzy melebarkan kedua bola matanya tidak percaya dengan pertanyaan suaminya itu. Dokter Linda tertawa dan mengambil hasil USG yang di berikan oleh asistennya.

"Tentu saja boleh, tapi di usia satu sampai tiga bulan masih riskan, jadi harus hati-hati."

Willy tersenyum lebar sambil merangkul pinggang Jezzy, wajahnya yang menyebalkan itu dapat Jezzy lihat membuat Jezzy gemas sendiri.

"Kalau begitu, ini hasilnya dan setiap bulan harus kontrol." Lanjut Linda sambil memberikan hasil USG.

Willy menerima hasilnya dan tidak lupa mengucapkan terimakasih sebelum mereka undur diri.

"Aku mencintaimu." Bisik Willy di samping telinga Jezzy, kini mereka sudah berada di dalam mobil, Jezzy menoleh dan tersenyum, mengecup ujung bibir Willy membuat Willy mematung.

"Aku juga mencintaimu, Wil. Sangat." Ujar istrinya lembut dan sangat tulus.

"Jez, jangan menggodaku, aku tidak mau bercinta di dalam mobil." Willy berujar sambil memasang wajah bodohnya membuat Jezzy melototkan kedua bola matanya lalu memukul bahu Willy.

"Aw! Sakit, Jez." Ringis Willy sambil mengelus bahunya.

Jezzy memutar bola matanya malas," Makanya jangan berpikir seperti itu, Wil, fokus selesaikan skripsimu dulu." Willy menggaruk tengkuknya sambil menjauhkan badannya dari Jezzy.

"Iya, ini juga aku lagi kerjakan." Willy menegakkan tubuhnya dan mulai menghidupkan mobil.

Mereka mulai melaju menuju rumah Kerly dan mampir sebentar untuk menebus obat yang sudah di resepkan oleh Linda.

"Hati-hati." Jezzy tertawa pelan, Willy mengambil tangannya saat keluar dari mobil, membantunya untuk keluar layaknya seorang putri.

.
.
.
.
.
.
.
.

Jika waktu bisa di putar, ingin rasanya Marco memutar waktu itu, jika saja tidak seperti ini hasilnya Marco tidak akan pernah melakukan hal bejat itu kepada Jezzy, ujung-ujungnya dirinya tersiksa sendiri di dalam kamar yang rasanya semakin hari semakin sempit, tubuhnya yang kurus karena sakit yang ia derita saat ini. Sejak satu minggu yang lalu dirinya uring-uringan.

Tidak bisa makan dengan baik, perutnya selalu menolak setiap ia makan, Rere sampai frustrasi mengurus anak satu-satunya ini.

Seperti sekarang Marco memalingkan wajahnya, sama sekali tidak mau menatap Mamanya yang lagi memegang sup yang biasanya ia makan.

"Marco, kamu harus makan, sayang." Rere kembali lagi membujuk Marco agar si anak bisa makan dan cepat sembuh, dengan begitu mereka bisa pergi ke luar negeri.

"Pahit rasanya, Marco engga mau." Tolak Marco lagi, Rere menghela napasnya panjang. Meletakkan mangkok itu di nakas dengan keras membuat Marco sedikit terkejut lalu melihat Mamanya.

"Jezzy? Kamu mau Jezzy kesini begitu? Kalau Jezzy kesini kamu baru mau makan begitu?" Kesal Rere

Marco meneteskan air matanya, lalu memalingkan wajahnya, emosinya tidak bisa ia kenadalikan akhir-akhir ini, marah dan benci menjadi satu, takut dan sedih bercampur menjadi satu membuatnya semakin kacau.

"Bawa, bawa dia, Ma. Aku mau Jezzy menemaniku, merawatku. Aku mau Jezzy menyuapiku, Ma!" Lirih Marco, tubuh Rere bergetar, rasa takut yang sebelumnya ia rasakan kembali lagi ia rasakan.

Takut apa yang anaknya alami bisa membuat Marco gangguan jiwa, namun satu hal yang membuat Rere semakin curiga, yaitu Jezzy mengandung anaknya Marco.

"Kamu menginginkan Jezzy? Kamu mau memeluknya? Kamu merindukannya? Kenapa? Kenapa kamu memginginkan Jezzy? Kamu mencintainya?"

Marco menatap mata Mamanya jengah, ia diam tidak bisa menjawab pertanyaan Mamanya, ia juga tidak tahu tentang dirinya, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.

Ia sangat merindukan Jezzy, ia sangat merindukan tatapannya yang biasanya membuatnya kesal, Marco merindukan Jezzy.

"Tidak, kan?" Tebak Rere. Marco mengangkat kepalanya pelan dan menatap Rere dengan tatapan.menantang.

"Iya, aku mencintainya, aku membutuhkannya sekarang, Ma!" Seru Marco sambil memukul dadanya yang terasa sangat sesak, tiba-tiba perutnya bergemuruh ingin keluar, ia segera berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya lagi, namun sayang, perutnya masih kosong.

Marco benci merasakan ini semua, ia ingin Jezzy juga merasakan hal yang sama dengannya.

"Bangsat! Uwweekk~" Marco kembali mengeluarkan cairan dari dalam perutnya lalu mengusap bibirnya dengan kasar. Napasnya masih memburu.

"Marco, lebih baik kamu makan sekarang, Mama akan melakukan apapun untuk membawa Jezzy kembali."

Marco langsung berdiri dan menatap Rede dengan mata berbinar.
"Aku tidak sabar menunggunya."

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Happy birthday for me 🎈🎊🎉

Gong xi fa cai !!

Bagaimana chap ini? Apa feelsnya kurang? Jangan lupa vomentnya yaa!!

Bahagiaku, Kamu! ✔ Re-upTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang