s2. 27 -Rahasia-

867 48 7
                                        

Vian diam sambil menatap ke luar jendela. Sebenarnya ia sedang berkomunikasi dengan Val melalui pikiran atau telepati.

Power Book miliknya masi tertutup rapat, sedangkan Alexsa, Risti, Zea, Ray, Joan dan Lion manatap bingung orang yang ia anggap tuan sekaligus sahabat dengan tatapan bertanya tanya.

Sampai bunyi bel berdenting dan Mr. Bian keluar. Kalas langsung Ricuh.

Vian menghelan nafas, Kali ini ia jadi pusat perhatian. Sampai suara Alexsa dan Risti membuat mereka minggir.

"MINGGIR JANGAN GANGGU DIA!" Vian tersenyum ke arah mereka.

"Vian, kita ada jam kosong" ujar Joan.

Para murid menatap bingung Vian dan ke enam temannya. "Baiklah" Vian bangkit dan berjalan ke arah Alexsa, Risti, Zea, Joan, Ray dan lion.

Vian mengulurkan tangannya "Pegang tangan ku, kita akan pergi... satu jam pelajaran. Dan kali ini kita sebaiknya berkeliling, karna aku takmau kejadian saat Leon tersesat terjadi lagi" pandangan mereka langsung tertuju pada Leon.

"Ya, ya aku tak akan ulangi itu" pungkas Leon dan memegang tangan Vian begitu juga Alexsa, Risti, Zea, Ray dan Joan.

"Tutup mata kalian dan jangan lepaskan tanganku" pinta Vian dan mereka mengangguk. Dalam sekejap mereka hilang dari pandangan para murid dan hanya menyisakan kilawan berwarna puti mengkilap.

•••

Cahaya menyilaukan membuat Val yang sedang berbicara dengan Raja Xavier menoleh.

Saat cahaya hilang Vian datang dengan Risti, Zea, Alexsa, Ray, Joan dan Leon. Tapi mereka langsung tertunduk lemas kecuali Vian yang menatap Bingung.

"Lambungku...." kelu Alexsa.

"Uh.. ginjalku seperti tertinggal" kelu Leon.

"Anda jahat sekali nona"

Vian terkekeh mendengar penuturan terahir yang keluar dari mulut temannya. "Padahal aku pakai teleportasi loh" balas Vian.

"Ada apa ini"

"Hai Dad" sapa Vian sedangkan ke enam temannya langsung menghilang.

Vian melirik Val yang hanya bisa mendelikan bahunya. "Aku lupa bilang bahwa di sini ada Dady" gumam Vian Frustasi.

"Sebaiknya aku minta izin pada Mr. Alan, aku yakin mereka tak akan ketemu selama satu jam kedepan" gumam Val dan pergi.

Vian mengjelan nafas "Ya, setidaknya aku tau Leon dimana" gumam Vian kikuk.

•••

Vian menghelan nafas Lelah. Ia suda menemukan Risti, Zea, Alexsa, Ray, Lion dan Joan. Leon menememukan temannya yang sedang kebingungan dengan lorong istana yang terdapat sihir dan membuat kelima temannya berputar putar.

Vian berkacak pinggang menatap Alexsa, Risti, Zea, Joan dan Ray "Kalian kenapa membuat leon pusing? Dan kenapa kalian tak bisa bedakan mana lorong sihir dan lorong istana?" Oceh Vian dengan nada kesal.

Joan mengaruk kepalanya "Habis, kami kaget melihat Raja Xavier di sini" jawabnya.

Vian menghelan nafas dan melirik Val yang asa di sampingnya "Val, bisa aku minta bantuan padamu untuk mengajari tehnik untuk menyelaraskan energi?" Pinta Vian.

Val mengehelan nafas "Kembalilah ke kamar mu An, Arca akan mengajari mereka. Kau tau'kan ayahmu itu seperti apa?" Vian tersenyum.

Jujur tubuhnya terasa sangatlelah karna ayahnya memintanya untuk membuat perisai di sekeliling istana.
Walau di bantu Val, tetap tenaganya keluar banyak.

"Kau benar Val, tubuhku tersa sangat letih. Sebaiknya aku istirahat..." Val langsung menahat tubuh Vian yang tiba tiba pingsan.

Ke enam temannya langsung panik melihat itu. "Dia hanya kelelahan, hanya perlu istirahat. Leon tolong ajari mereka keselarasan sihir?" Pinta Val dan Leon mengangguk.

"Aku pamit" Val menghilang dengan  Vian yang ada di gendongannya meninggalkan ke enam teman mereka.

Alexsa menatap Leon "Baiklah senior, ajari kami" pintanya dan mereka tertawa.

•••

Val muncul kembali di kamar istana yang ada di lantai tiga. Kamar bernuansa biru puti dan juga terdapat jendela besar yang langsung terhubung ke balkon yang terdapat kolam renang kecil.

Jika di lihat dari luar. Kamar Vian terlihat seperti taman yang luas dengan kolam yang jernih. Apa lagi istana itu di bangun di pegunungan, hingga kamar Vian di kelilingi batuan puti dengan pohon pohon yang subur.

"Pasti yang membuat istana ini orang gila" gumam Val datar.

Ia menghelan nafas, tak lama pintu kamar Vian terbuka dan Fransais datang.

"Bagaimanan keadaan adikku?" Tanyanya langsung.

"Dia baik, hanya kelelahan saja. Tadi aku dan An di suruh membangun perisai, ya... kau tau lah"

Fransais mengangguk. "Dad menunggumu di Aula, dan enam temanmu sedang berhadapan dengan Dad. Sebaiknya kau tolong"

Mendengar itu Val langdung menghilang, Fransais tersenyum dan memilih duduk di sofa yang ada di kamar itu "Aku tak tau apa yang akan terjadi padamu An, walau Kami melindungimu, belum tentu dia tak akan menemukanmu"

•••

Di ruangan gelap gulita di dimensi lain.

Kediaman keluarga Arsetrive.

Seorang wanita berjalan dengan langkah tegap dan juga anggun. Wanita itu masuk ke dalam pintu marmer putih dengan ukiran rumit di sekelilingnya.

"Slamat datang Ratu ku" sambut Pria yang duduk di kursi kebesarannya.

"Apa kabarmu Gabriel? Aku kesini ingin memberi tahu jika anak mu suda membawa pulang putriku. Dia sedang bersama suamiku di kerajaan Fransais dan satu lagi, apa kau yakin tentang perjodohan ini? Jika Val menolak, putriku akan mati" Jelas Vezora.

Lelaki itu tersenyum miring "Tenang saja Ratu-ku. Putraku tak akan mampu menolak putrimu, tapi aku ragu jika Val bisa menerima sisi kelam putrimu" balas Pria itu.

"Aku tau itu. Gabriel Lacen Arsetrive"

Vezora berbalik "Aku takut kehilangan maikat kecilku lagi Gab, Cukup Sion saja yang pergi. Aku tak mau Vian harus pergi" setelah mengatakan itu Vezora pergi dari sana.

Gabriel mengulas sebuah senyum kesedihan. "Untuk itulah Val ku utus untuk menjaga putrimu agar Energi gelapnya tak menemukannya"

•••

Asrama kamar 126 lantai 4.

Val duduk sambil membaca power booknya, walau jam menunjukan jam makan malam dan ia masi ada di kamar.

Pikirannya berkecamuk soal Vian. Saat di istana ia tak sengaja masuk ke ruang terlarang, dan di sana ia menemukan hal yang mengejutkan.

Flesbek.

Val keluar dari kamar Vian, ia memilih jalan jalan keliling istana terlebih dahulu karna dia butu reflesing.

Saat ia berjalan di lorong lantai dua sebuah suara membuatnya berhenti.

"Val, save me!"

Val menoleh dan melihat sebuah segel di dinding itu.

"Save me!"

Suara terdengar dari balik tembok itu.
"King!" Seru Val ragu.

"Save me Val! Hiks.... tolong pertemuakan aku dengan An"

Val agak terkejut mendengar itu. Keterkejutannya bertambah kala ia mengalirkan sihir dan pintu terbuka.

Dia di sana....

Orang yang Val cari...

"Val! Save me!"

Academy Magic Power.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang