(LIMA)

2.3K 146 1
                                        

Benerapa jam berlalu, sedangkan an dan val masi bercanda ria

"Sudah val aku mau pulang kalau tidak paman akan marah" ucap an.

Val tersenyum"Boleh ku antar?" tanya val dan di balas anggukan oleh an.

Mereka berdua berjalan ke luar gua dengan canda tawa yang dapat di dengar oleh animals lain.

Val menatap an yang sendari tadi tertawa karna leluconnya. Kenapa aku seperti ini? Ada apa dengan ku? batin val.

An yang merasa di perhatikan berhenti tertawa dan menatap val, "Ada apa?" tanya an.

Val tersenyum dan menggeleng, "Tidak" jawabnya singkat.

Val ingat ketika an mengobatinya ia memasukan darahnya ke dalam ramuan, apa dia harus ikut dengannya karna ikatan darah?
"An kau mengikatku dengan darah apa berarti kau akan ikut dengan ku?" tanya val.

An hanya mendelikan bahunya acuh, "tidak tau, tapi sepertinya harus, mengungat tidak sedikit yang ku gunakan" jawab an.

Val tersenyum senang karna ia punya teman tetapi tidak dengan an, "Apa kau tak keberatan jika aku ikut? Karna mengingat itu aku tak minta persetujuanmu sama sekali," An memberi jeda ia menghelan nafas dan berkata

"Aku terpaksa melakukannya, jika boleh aku akan tetap di sini" sambungnya.

Val mendengar itu menghentikan langkahnya. 'Bukankah dia akan tersiksa jika jau dari ku? Apa lagi aku akan lemah jika aku jauh darinya, kenapa setiap aku memiliki teman mereka selalu meninggalkanku?' batin val.

"Kenapa?" tanya val.

An menghentikan langkahnya dan berbalik. "Apa?" tanya an bingung.

Val menghelan nafas, "Bukankah jika aku jau maka kau akan tersiksa?" tanya val dengan nada serius.

Oh jadi karna itu toh, hah.. Val val ku kira apa.

Val yang sendari tadi membaca fikiran orang yang ada di depannya hanya menatapnya bingung, "Memangnya kenapa?"

An tersenyum. "Val..... aku ikut denganmu kemana pun kau pergi, lagian aku harus ke wilayah Magic untuk sekolah tapi sanyang aku tak punya teman di sana" jelas an.

Eh magic? Akademy.
Batin val.

"Ap kau sekolah di AMP?" tanya val dengan senyum yang mengembang.

An hanya terkikik geli ia kembali berjalan tanpa memperdulikan val yang menatapnya bingung. "Ya memang apa?"

Bruk.

"Wow, woles val" kaget an karna val memeluknya dari blakang, sampai ia hampir terjungkal ke depan.

"Teman?" tanya an.

Val mengeleng "Sahabat" jawabnya.

An tersenyum senanga sampai.....

"Ehem" suara degeman membuat val melepaskan pelukannya.

An menengok ia melihat zen si rubah api.

An menatap val begitupula val.

1 detik

2 detik

"Bwahahahahaha" tawa mereka meledak.

"Aku mencari kalian kemana mana! Kalian malah mesra mesraan di sini! Huh! menyebalkan!" sewot zen.

An berhenti tertawa, "Zen aku numpang boleh ya? Plis" pinta an.

Val hanya menggeleng gelengkan kepalanya, "boleh aku ikut" kata val lalu berubah menjadi elang putih.

Zen nampak terkejut. "Penyihir val-"

"Buruan gih lapernih" potong an.

"Sabar pemarah" kata zen kesal.

An menatap val yang menjadi elang putih, bukankan dia ponix?

"Penyamaran ke 2, eh sala ini bentuk hewanku,hehe"

"Tapi brnarkan kau penyihir val-

"Zen diam nanti ada yang dengar, dia val teman pris jiga temanku zen! Paham.

Cepetan aku LAPAR!" triak An di ahir kalimat.

Zen hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya dan lari menuju rumah penyihir Reward.

Sesemapainya di sana. An berlari kearah pintu.

"PAMAN AN PULANG" serunya.

Clek.

Seorang pria paru baya keluar dari gubug, lelaki berambut hitam bermanik biru.

"Ini ni keponakan paman yang tidak pulang dari tadi" cibir reward.

An hanya tersenyum, ia melirik kearah val.

"Paman kita kedatangan tamu, dia penyihir val yang ku obati sewaktu pergi" jelas an.

Val turun dan merubah wujud menjadi manusia, reward agak terkejut,
aku seperti mengenalnya, batin rewerd

An berbisik pada pmanya dan dia hanya mengangguk.

"Ayomasuk" ajak reward.

Merekapun masuk, tapi an agak bingung kemana nix cia dan ren tak ada.

"Mereka sedang mengatar obat" kata reward

An hanya mengangguk, ia melirik ke val dan zen mereka sedang duduk dan bercanda ria, an baru iangat dia belum meminum obatnya,

"Paman kau tau dimana obatku?" tanya an.

"Dikamarmu an, minum sana kau belum minum itu saat kau pergi jadi kua harus memunumnya, ahya an paman bawa zavers* tadi, sudah ada di kamarmu" jelasnya

An tersenyum dan berlari ke kamar.

Reward menghampiri val dan zen, "Uda akrab ya?" tanya reward langsung duduk berdamaereka di ruang tamu.

Val mengangguk, ia meliahat ke segala ruangan, "Dimana an?" tanyanya.

Zen tertawa dan reward hanya tersenyum, "Ada di kamar sedang mandi kali." jawab reward santai.

Val hanya mengangguk ia teringat mata an yang berubah.

"Paman aku pamit ya, ada yang memanggilku" pamit zen,

"Woah zen uda punya pemilik nih? Siapa namanya?" tanya reward.

"Ida dong dia sehabat val Melvis davian, penyihir api dan angin" jawab zen dan pergi.

"Wah Melvis uda punya partnerya. Aku iku senang, eh zen jangan bilang aku ada di sini, dan titipkan salamku padanya" pinta val

Zen hanya mengangguk dan menghilang dengan cahaya merah.

Val menatap reward. "Paman kenapa kau tidak kembali ke magic? Aku bahkan sudah lama menunggumu, dan sekarang aku di suruh pulang karena masa libur hampir habis" jelas val.

Reward tertawa hambar "Aku menjadi dokter di sini, ya setidaknya di bantu gadis itu" balas reward

"Gadis itu? Maksudmu an? Bukankah dia keponakanmu?" tanya val mulai curiga

Reward menghelan nafas, ia mengeleng "Saat aku tiba di sini aku menemukan seekor naga yang membawa bayi, ia bilang rawat bayi ini karna ia menemukanya di sungai dekat air terjun" jelas reward.

Prang.

Suara benda jatuh mengejutkan mereka.

Academy Magic Power.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang