Rasa canggung yang dirasakan oleh Sara saat berada diruangan Vera bersama dengan Reyhan.
Sebenarnya Sara ingin meninggalkan mereka berdua,namun Vera menghentikan langkah Sara dan menyuruh Sara untuk tetap ditempat ini.
"Ra.." panggil Reyhan.
Sara menoleh seolah bertanya 'apa' pada Reyhan. Namun Reyhan terus menatap Vera yang sedang menatap Sara yang sedang menatap Reyhan terus. Jadi posisi mereka adalah,
Sara menatap Reyhan, Reyhan menatap Vera,Vera menatap Sara.
Kayak cinta segitiga gitu deh.
"Vera..daritadi gue manggil lo, malah gak dengar" ujar Reyhan.
Dan detik saat itu juga, Sara merasakan tingkat kepedean yang sangat tinggi dan juga malu tentunya.
Sara mengira Reyhan memanggilnya. Namun salah, Reyhan memanggil nama Vera, bukan dirinya.
"Eh..gue pikir lo manggil Sara" jawab Vera dengan kikuk. Sedangkan Sara hanya diam mematung.
"Sara?" Tanya Reyhan sambil menatap Sara yang diam.
"Iya" jawab Vera sambil menatap Reyhan dengan serius.
"Gue manggil lo, bukan sara" balas Reyhan.
"Ada apa?" tanya Vera.
"Lo--" ucapan Reyhan terpotong oleh suara ketukan pintu ruangan Vera.
"Selamat siang, pihak rumah sakit sudah menemukan pendonor ginjal untuk pasien" ujar seseorang yang menggunakan pakaian serba putih yang tak lain adalah seorang suster.
"Apa? serius sus?" tanya Vera yang kelewat bahagia.
"Iya pendonornya sudah bersedia memberikan ginjal nya, tinggal menunggu proses operasi pengambilan ginjalnya saja" seru suster itu.
"Ini beneran? gue lagi gak tidur kan? gue gak mimpi kan?" tanya Vera bertubi-tubi sambil menoleh kepada Reyhan dan Sara.
"Iya Ver...lo bakalan punya ginjal yang bagus lagi" balas Reyhan.
"Gue bahagia banget" seru Vera yang tak sadar air matanya sudah jatuh di pipinya.
"Gue juga" balas Reyhan sambil memeluk Vera didepan mata Sara.
Rasa sakit yang hanya ada dalam hati Sara saat ini. Seperti ada benda tajam yang menusuk dadanya.
"gue juga senang banget" seru Sara sambil memeluk Vera setelah pelukan Reyhan terlepas.
"Gue ada urusan sebentar, gue pamit duluan ya" bisik Sara pada saat memeluk Vera.
Lalu Sara segera meninggalkan ruangan sara sambil berjalan dengan sedikit berlari.
"Hikss..." isakan Sara pada saat meninggalkan ruangan terdengar jelas pada Reyhan.
Reyhan merasakan sesak dalam dadanya. Sangat jarang dia melihat Sara menangis, apalagi karena dirinya.
Sejujurnya Reyhan tidak tega memeluk Vera didepan Sara.
Namun apa daya, Reyhan sudah berjanji dengan Jovian untuk tidak menyakiti hati Vera.
Wajah Sara dan Vera begitu mirip.
Namun Reyhan tidak bisa mencintai Vera dengan tulus dan sugguh-sungguh. Rasanya Reyhan hanya mencintai Sara seorang diri.
Ada rasa yang lain ketika Reyhan bersama dengan Sara. Reyhan merasakan jantungnya berdegup dengan kencang dan sedikit gugup jika bersama dengan Sara. Namun, ketika Reyhan bersama dengan Vera, tidak ada getaran dalam diri Reyhan.
Reyhan ingin sekali rasanya untuk mengejar Sara lalu memeluknya dengan erat. Namun sayangnya, Reyhan tidak bisa melakukan semua itu. Yang hanya bisa Reyhan lakukan adalah diam dan meladeni pembicaraan Vera.
***
"Lo tega banget sih Han...hiks." ucap Sara yang sedang duduk di halte dekat rumah sakit tersebut.
"Gue selalu berusaha supaya ga nyakitin perasaan lo. Tapi apa?dengan gampangnya lo nyakitin gue.
Gue gak akan merasa sakit sedalam ini jika yang lo dekati itu orang lain,bukan Vera adik gue bahkan lebih tepatnya kembaran gue." seru Sara yang sudah menjadi bahan pembicaraan dan pusat perhatian orang-orang disekitarnya.
"Kenapa gak dari awal aja lo nyakitin gue Han?kenapa pas gue udah mulai mencintai lo dengan tulus, lo malah nyakitin gue?" ujar Sara sambil terus menangis sampai seseorang laki-laki menepuk pundaknya.
"Lo kenapa?" tanya Samuel yang tak lain adalah laki-laki yang menepuk pundak Sara tadi.
"Sakit...Sam..hiks" balas Sara.
"Lo semua boleh bubar dan jangan diperhatikan terus" suruh Samuel dengan tegas pada orang-orang yang memperhatikan bahkan mencibir Sara. Dan pada saat itu juga orang-orang yang tadinya memperhatikan dan mencibir Sara langsung bubar.
"Yaudah, kita cari tempat lain aja, mereka terus ngeliatin lo, biar lebih leluasa nangisnya" ujar Samuel sambil merangkul pundak Sara dari samping.
Sara tidak mempermasalahkan hal tersebut. Benar, yang dia butuhkan hanya menangis menumpahkan kesedihannya.
"Terus, apa yang buat lo nangis?" tanya Samuel sambil menghapus air mata Sara.
"Lo kenapa bisa ada disini?" tanya Sara sambil memegang kedua tangan Samuel yang sedang menghapus air matanya, sehingga Samuel terpaku dengan tatapan Sara.
Tidak luput dari tangan yang masih saling menyentuh.
"Lo jawab pertanyaan gue dulu dong" seru Samuel masih dengan posisi yang sama.
"Kenapa kita seolah-olah dekat? padahal kemarin lo songong banget sama gue" seru Sara.
"Kita udah kenal semenjak sekolah dasar ra. Kenapa lo lupa sih?" tanya Samuel.
"Gue udah lupa, serius" jawab Sara sedih.
"Lo gak ingat kalau gue itu orang yang paling cool, paling pintar, paling baik, paling tampan, paling tajir dan paling me--"
"Ah, lo mah sombong banget" balas Sara.
"Gue belum selesai bicara ra," ujar Samuel sambil menatap mata Sara. " gue juga orang yang paling menyedihkan bahkan paling menderita" lanjut Samuel.
"Kenapa lo berpikir kalau orang yang paling menyedihkan dan yang paling menderita? lo tahu gak? banyak orang diluar sana lebih menderita, tapi mereka gak ngeluh." balas Sara
"Apa bedanya sama keadaan lo yang sekarang ra?" tanya Samuel sehingga membuat Sara terdiam.
"Jelas beda lah" jawab Sara tak lama kemudian.
"Bedanya ada dimana?" tanya Samuel.
"Lo gak pernah merasakan yang namanya diacuhkan, diasingkan,
dihina, dibenci, bahkan gue gak diinginkan saat ini" seru Sara.
"Siapa bilang gue gak pernah merasakan itu?" balas Samuel.
"Bahkan gue merasakan itu sejak gue masih kecil" lanjutnya.
"Aww...Sam, kayaknya gue pamit pulang ya" seru Sara yang terus memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Lo kenapa ra?" tanya Samuel berusaha menghentikan langkah Sara.
Namun sayangnya, Sara tidak berhenti berjalan.
"Hati-hati ra" seru Samuel dari kejauhan.
Aneh, ada apa dengan Sara?kenapa dia selalu memegangi kepalanya?
Samuel diam dan jelas tampak raut kebingungan dari wajah nya.
Sampai suara seseorang mengagetkan nya. "Lo ngapain tadi sama Sara?" tanya Reyhan yang tak lain adalah orang yang mengagetkan Samuel tadi.
"Gue kasihan sama dia han. Tadi gue ketemu sama dia di halte dekat rumah sakit ini, gue tadi barusan dari supermarket depan rumah sakit.
Gue gak sengaja ketemu sama dia.
Gue lihat dia nangis gitu, terus jadi bahan tontonan dan pembicaraan orang-orang" jawab Samuel.
"Terus?" tanya Reyhan dengan wajah dingin dan datar nya itu.
"Gue ajak dia kesini. Gue tanya sama Sara kenapa dia nangis, terus sara bilang sakit" balas Samuel sambil memukul pelan dadanya.
"Terus kenapa lo dekat banget sama dia? kenapa lo menghapus air mata sara? kenapa kalian bertatapan dengan sangat lama?
Asal lo tahu ya. Gue lihat kejadian tadi" Seru Reyhan sambil menatap Samuel dengan intens.
"Lo gak perlu tahu" balas Samuel lalu meninggalkan Reyhan yang sudah tersulut emosi. Rahang reyhan sudah mengeras, matanya menatap lurus kedepan dengan tatapan tajam, tangannya mengepal.
KAMU SEDANG MEMBACA
SARAVERA [COMPLETED]
Teen FictionSara terlalu kuat untuk remaja seusia nya. Selalu serba salah? Saudara yang tak acuh? Dianggap sebagai pembawa sial? Percayalah! Sara tidak menginginkan itu semua. Sara pikir penderitaan nya hanya sampai disitu saja. Bahkan lelaki yang di cintai ny...
![SARAVERA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/150003216-64-k665145.jpg)