"Lo harus kuat ra," ujar Samuel menguatkan Sara.
"Sakit,sara capek!" balas Sara pelan.
"Lo harus kuat,gak boleh capek,"
"Enggak,capek" sahut Sara.
"Ayo dong ra,berjuang buat gue!" ucap Samuel sambil menggenggam erat tangan Sara.
"Iya," cicit Sara.
Tak terasa,ambulan ini sudah sampai dirumah sakit dengan aman dan selamat.
Langsung saja para perawat mengeluarkan Sara beserta bankar nya dari ambulan itu,dan membawanya keruang UGD.
"Diharapkan agar anda tidak masuk kedalam ruangan!" larang seorang perawat.
Samuel hanya bisa diam dengan pikiran yang dipenuhi dengan Sara.
Samuel duduk dibangku panjang didekat ruangan UGD.
Samuel menopang kepalanya dengan tangan yang ditumpukan pada kaki nya,dia sangat frustasi dan cemas.
Tak lama kemudian,reyhan dan vera serta kedua kakaknya datang dan menemui Samuel.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Jovian khawatir.
Samuel menggelengkan kepalanya pelan.
Samuel tiba-tiba angkat bicara,"Semua ini salah lo!" tunjuk Samuel pada William.
"Ini bukan salah siapa-siapa!" bantah Reyhan.
Samuel menatap Reyhan nyalang,"Orang yang gak setia tahu apa?" ejek Samuel.
"Bacot lo!" seru Reyhan marah.
"Kenapa sih bukan gue yang ditakdirkan jadi pasangan Sara?" Samuel mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa di harus ditakdirkan berpasangan dengan orang yang sama sekali perduli dengan dirinya?" lanjut Samuel.
"Karena lo bukan yang terbaik!" seru Vera.
"Terus siapa?Reyhan?" tanya Samuel dengan nada mengejek.
Vera diam.
"Seharusnya lo bersyukur bisa dicintai sama perempuan kayak Sara!" seru Samuel. "Seandainya Sara adalah pasangan gue,gue gak bakalan biarkan dia seperti ini!" lanjutnya.
"Lo pikir, kita biarkan sara seperti ini?enggak!" bantah Jovian.
"Bodoh!" seru Samuel. "Lo semua basi tahu gak?"
"Maksud lo apasih?!" tanya Vera tak suka.
"Diem lo!" bentak Samuel. "Kalian semua hanya peduli dan baru sadar ketika Sara sudah seperti ini! selama ini kalian semua kemana?" lanjutnya.
"Sara terlalu pintar menyembunyikan semua ini!" bantah Jovian.
"Sara yang pintar atau lo yang bodoh!" sergah Samuel.
"Sialan!" desis Jovian.
"Gue juga tahu kalau dia punya penyakit bukan dari mulut Sara sendiri, gue cari tahu karena gue penasaran dengan kehidupan orang yang gue sayangi!" seru Samuel.
Mereka menatap Samuel.
"Bukan hanya tahu mengorbankan perasaan pasangan gue!" sindir Samuel pada Reyhan.
Yang disindir hanya menatap Samuel sinis.
"Gue juga gak pernah memaksakan perasaan orang!" sindir Samuel pada Vera.
"Apaan sih?" marah Vera.
"Yang terpenting, gue gak pernah nyuruh orang buat balas perasaan saudara gue!" sindir Samuel pada Jovian.
"Lo gak ngerti kondisi!" seru Jovian murka.
"Gue gak sebejat lo!" balas Samuel.
Bugh!
Jovian menonjok pipi Samuel dengan kuat,"Lo yang mulai!" seru Jovian.
"Gitu aja langsung emosi!" ejek Samuel sambil menyentuh ujung bibirnya yang berdarah.
"Siapa yang gak emosi coba?!" sahut Jovian.
"Sara! dia selalu sabar dengan apa yang kalian lakukan padanya selama ini" ujar Samuel.
"Dia selalu ingin dipercaya oleh keluarganya sendiri, tapi dia gak bisa!" seru Samuel.
"Gue percaya sama dia!" ujar Vera.
"Percaya kalau Sara akan meninggalkan dunia ini?" cela Samuel.
"Astaga! gue gak pernah berpikiran seperti itu" sergah Vera.
"Basi lo!"
"Jangan berpemikiran buruk tentang gue!" seru Vera.
"Lo senang kan kalau Sara mati! dan otomatis semua perhatian dan kasih sayang seutuhnya pindah ke diri lo!" seru Samuel.
"Lo jangan asal nuduh ya!" marah Vera.
"Belum puas sama perhatian yang Mama dan Papa lo kasih? mau buktiin seberapa pentingnya lo dibandingkan dengan Sara?" tanya Samuel.
Mereka diam.
Samuel menghidupkan handphonenya dan mencari satu kontak.
Samuel akan menelepon Michael-papa Sara.
Telepon berdering.
"Halo" sapa Sang penerima telepon.
"Sara kecelakaan dan sekarang ada dirumah sakit om!" ujar Samuel.
"Kamu gak serius kan?kamu bercanda!" seru Michael.
"Buat apa saya bercanda" sergah Samuel.
"Baiklah,saya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit!" seru Michael.
Telepon dimatikan begitu saja.
"Nih,coba lo telepon Tante Zeffany dan bilang kalau Vera lagi demam dan dia ada dirumah" suruh Samuel pada Reyhan seraya memberikan handphone nya.
Reyhan menerima handphone Samuel dan menelepon Zeffany.
"Ada apa Sam?" tanya Zeffany.
"Vera demam,dia ada dirumah" ujar Reyhan.
"Loh?yang sakit Sara atau Vera sih?" tanya Zeffany.
"Vera lagi demam tan,daritadi dia ngigo" jawab Reyhan berbohong.
"Oke,tante akan segera kesana!" ujar Zeffany sambil memutuskan sambungan telepon nya.
"Kita lihat siapa yang mereka pentingkan,Sara yang kecelakaan atau Vera yang demam?" ujar Samuel.
"Lo makin ngaco!mendingan lo pulang dan bersihkan tubuh lo yang penuh dengan darah itu!" suruh Vera.
"Gue suka darah ini!gue gak bakalan buang dan cuci baju ini!" seru Samuel.
"Gila!" seru Vera.
"Masa bodoh sama ocehan lo!gue gak perduli!" seru Samuel
"Keluarga pasien!" ujar seorang perawat.
Mereka menatap perawat itu.
"Bisa bicara dengan dokter" ujar perawat itu sambil menunjuk kearah seorang dokter yang baru saja kekuar dari ruang UGD.
"Saya dok" ujar William sambil mengikuti langkah dokter itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SARAVERA [COMPLETED]
Novela JuvenilSara terlalu kuat untuk remaja seusia nya. Selalu serba salah? Saudara yang tak acuh? Dianggap sebagai pembawa sial? Percayalah! Sara tidak menginginkan itu semua. Sara pikir penderitaan nya hanya sampai disitu saja. Bahkan lelaki yang di cintai ny...
![SARAVERA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/150003216-64-k665145.jpg)