10. Don't Care

151 9 11
                                        

Aku pandai berkata-kata,tapi aku tidak pandai bersuara. Aku pandai menyembunyikan,tapi aku tidak pandai menunjukkan.
-Billy Ernando Putra-

💗💗💗💗

"

Sayang, kamu pulang sendiri yah. Maaf aku gak bisa nganter kamu. Mendadak ada urusan penting."

Suara berat seorang laki-laki yang kini duduk di sampingnya membuat gadis itu menghentikan aktivitas bermain ponselnya.

Indah menatap lamat-lamat kekasihnya yang baru ia pacari kurang dari 2 bulan itu. Merasa heran dan aneh,tapi Indah sangat pintar bermain dengan ekspresinya soalah dia terlihat biasa saja.

"Ada urusan apa?"

"Hem, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Maaf."

"Rian."
Teriak Indah saat Rian meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan.
Indah bangkit dari jongkoknya. Tidak berjalan menghampiri Rian. Indah diam saja. Masih setia menatap Rian yang hendak masuk ke dalam mobilnya.

"Kamu kenapa?"

"Aku gak papa. Aku buru-buru."

"Mana tanggung jawab kamu? Kamu tega ninggalin aku sendiri malem-malem gini?"

Maaf Indah. Tapi ini soal Agatha. Agatha lebih penting. - Gumam Rian dalam hati.

Indah merasa ada yang aneh dengan diri Rian. Ia merasa begitu sejak beberapa hari terakhir. Rian susah diajak keluar,selalu sibuk setiap hari sampai tidak ada waktu untuk memberi kabar Indah bahkan sampai 4 hari lamanya, tidak perhatian seperti biasa. Rian berubah.

Indah masih sibuk dengan pikirannya. Berbagai pikiran negatif pun menghampirinya.
Jujur, Indah ingin menangis saat ini. Tapi,lihatlah. Rian bahkan tidak peduli dengan perasaan Indah.

Rian tersenyum menghampiri Indah yang berdiri mematung, masih setia menatap dirinya dengan mata berkaca-kaca.

Cup.
Satu ciuman berhasil mendarat di pipi mulus Indah. Rian tau Indah ingin menangis. Dengan cepat Rian mengusap air mata Indah yang hampir keluar itu.

"Sttt, jangan nangis sayang."

Indah semakin tidak bisa menahan air matanya. Ia tenggelam di pelukan Rian saat air matanya keluar dengan deras, Indah terisak namun isakan itu tiba-tiba terhenti saat ia merasakan ada tangan mengelus rambutnya.

Indah tersenyum, hal sederhana yang dilakukan Rian cukup membuat hatinya tenang. Indah mengeratkan pelukannya. Merasakan aroma khas cowok di depannya.

"Kamu berubah."
Suara lembut Indah sekarang berubah seolah menjadi kacau. Ia tidak ingin bertanya lebih. Takut akan fakta dan kebohongan Rian itu terdengar di telinganya. Yang otomatis akan membuat Indah semakin sakit.

Epiphany Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang