Bertemu, lagi.

9.2K 393 7
                                        

Hari ini hari dimana kelas ku berolahraga. Meski baru kemarin bertemu dan terbentuk kelas Bahasa 1, kami sudah kompak. Buktinya sekarang kami sedang bermain, separuh menyemangati separuh bermain basket di tengah lapangan.

Semuanya terus teriak, mungkin aku juga begitu. Seru, sungguh.

Pritt! Pak Sodi, selaku guru olahraga meniup peluit. Tanda pelajaran olahraga sudah selesai. Beliau mendekati ke arah kami yang sedang berkumpul sambil bertos ria.

"Kalian bisa kembali ke kelas, berganti pakaian dan mulai pelajaran selanjutnya."

Kami kembali bersorai riang. Ada yang saling rangkul seraya kembali ke lantai dasar kelas 10. Lantai dua didominasi dengan ruangan perpustakaan dan beberapa lab-lab. Seluruh kelas ada di lantai dasar.

"Eh, gue mau ke perpus. Mau pinjem buku paket," kata Angel. Aku dan Manda menoleh serentak.

"Ya udah gih." Manda merangkulku kemudian kembali berjalan.

"Gak ada niatan nemenin gue gitu?" Melas Angel. Manda menoleh sambil menaikan satu alisnya.

"Ga!" Hanya itu jawabannya. Angel sedikit berdecak.

"Awas lo minta contekan puisi dari gue!" ancam Angel, dia kembali berjalan sambil menghentakan kaki kesal. Aku tertawa bersama Manda.

"Marah tuh," ucapku jahili Manda.

"Biarin, nanti juga balik lagi," jawabnya acuh. Lagi-lagi aku tertawa. Teman-teman ku yang baru ini ternyata tak tanggung-tanggung menunjukan sifat aslinya di depanku.

Saat kami masih tertawa, di sebrang arah jalan kami, terlihat segerombolan yang berjalan memenuhi koridor. Manda seketika melepas rangkulannya, membawa tubuh kecilku ke sisi tembok. Takut bertubrukan dengan mereka. Kami memutuskan berhenti, membiarkan mereka lewat lebih dulu. Salah satunya membuatku tercekat. Cowok lesung pipi itu. Kenapa senyumnya selucu itu?

"Fira? Eh!" Aku mengerjap kaget. Manda sekarang menepuk-nepuk pelan pipiku. Dia menatapku heran seraya kembali merangkul leherku. "Kok bengong sih? Liatin siapa?"

"Ng–nggak. Tadi takut sama mereka, ehe ...."

Manda hanya mengangguk paham, lalu kembali berceloteh ria. Padahal pikiranku dipenuhi cowok lesung pipi itu. Ah ... aku tidak ingin menyukainya secepat ini.

⛈️⛈️⛈️


Gila, oh ayolah ... pasti aku sudah gila. Yang benar saja, kenapa lesung pipi itu masih terus melekat di pikiranku? Ahkkk.... aku tidak ingin gila!

Aku melempar balpoinku dengan asal, sungguh cowok itu menganggu acara konsentrasiku. Memang sejak satu jam yang lalu aku hanya menggambar sebuah sketsa wajah, tapi kenapa malah wajah cowok itu yang ku gambar? Sungguh... ini benar-benar gila!

"Apa bisa, rasa suka datang semenjak pertama melihat?" gumamku pada sketsa itu. "Ishh ... ngapain aku ngomong sama gambar?!" geramku. Aku menutup kertas hvs bergambar itu dengan buku yang ada, kemudian menghela pelan. Aku tidak boleh seperti ini.

Melihat bintang pengganti yang baik untuk melawan bosan ini. Dengan girang aku berjalan menuju balkon, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Benar, bintang pengganti yang indah. Walau sedikit berawan.

Selama hampir beberapa menit, aku masih menikmati beberapa rasi bintang yang terbentuk itu. Tersenyum tanpa beban. Ini sungguh menyenangkan. Hingga satu tetesan mendarat di wajahku.

Air hujan

Aku tersenyum simpul, meraba cairan yang mengalir di pipiku.

Terkadang, menikmati hujan lebih asik dari melihat bintang.

Fira FlorinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang