Pergi

5.7K 288 1
                                        

"Ke Singapura."

Mereka berdua terdiam. Lalu ....

"Demi apa lo! Gue ikuttt!" serbu Manda cepat.

"Gue juga! Huaa ... pengen ketemu singa yang keluar air itu lho ...."

Doeng! Temen aku gini semua ya Allah.

Aku terkekeh pelan. "Gak bisa, kalian harus sekolah. Lagian di sana juga aku mau seminggu."

"Tuh 'kan lama! Nggak deh. Mau ikutt," ucap Angel tetep keukeuh.

"Gak bisa, aku ke sana mau ketemu dokter aku."

Lagi, mereka berdua terdiam.

"Lo ... sakit apa, Fir?" tanya Manda. Kini suaranya melirih. Dia sampai melepas toples yang tadi dia peluk.

Aku tersenyum tipis. "Aku punya sedikit trauma, jadi satu minggu ke depan aku mau ketemu psikiater aku."

Mereka masih diam menatapku.

"Nanti aku kasih oleh-oleh deh," bujukku agar mereka bisa melepasku pergi.

"Gak usah Fir, kita cuman minta lo sembuh," kata Angel disertai senyuman.

"Iya Fir, maaf kita gak tau." Aku tertawa renyah.

"Lagian harusnya kalian jangan tau keadaan aku. Nanti gak mau temenan lagi sama aku."

"Lo ngomong apaan sih? Kita gak ada pikiran kayak gitu yah!" ujar Manda, dia mengerucutkan bibirnya ngambek.

"Ho'oh, kita kan temenan, ralat ... Sahabat! Jadi gak masalah sama keadaan lo."

"Eheh ... iya deh. Makasih yah."

"Kapan perginya?" tanya Manda.

"Besok sore. Tapi aku udah izin dari hari ini. Bapak udah bilang ke wali kelas."

Angel mengangguk paham. "Kalo gitu, sekarang kita puasin sama Fira sebelum dia berobat, biar gak kangen nantinya." Angel merentangkan tangannya, meminta dipeluk. Aku menerimanya senang hati.

"Dih, malaikat alay lu!" sinis Manda.

"Sirik aja lo!" Angel memeletkan lidahnya.

"Sini," Aku merentangkan tangan kiriku, meminta Manda bergabung. Dengan cepat dia ikut berpelukan.

"Hati-hati di sana ya, Fir."

"Hm, makasih Man."

◇◇◇

"Gue keterlaluan yah?"

Cowok itu menatap kosong ke depan. Mengingat-ngingat wajah polos, lugu, beringas dan takut terjadi dalam waktu bersamaan. Perlahan senyumnya terbit, bahkan sampai terkekeh.

"Wouy! Gila lo?" seseorang menepuk bahunya keras.

"Iya," jawab cowok itu tanpa sadar.

"Dih, Migi udah gila."

"Hah?" Cowok itu menoleh cepat. "Enak aja ngatain gue gila!" sungutnya.

"Lah ... orang tadi dia yang ngaku," balas orang itu. Si cowok sipit.

"Bodo, ganggu aja kalian." Cowok itu kembali menatap ke depan. Tanpa peduli dengan markasnya yang sudah penuh dengan anggota Warior.

"Si Bos kenapa?" tanya cowok gembul sambil berbisik.

"Gak tau," jawab cowok sipit.

"Bos?" tanya cowok berjambul.

"Hm," dehem Si Bos itu.

"Gue liat tadi cewek itu pulang pas jam istirahat abis."

"Hah!" Cowok itu langsung bangun dari duduknya, menampakan perawakan tingginya itu. "Bohong lo?!"

Semua terjengkat karna reaksi Bosnya itu. Di luar ekspetasi. Mereka kira bos mereka akan senang.

"Bener, gue liat dia dianter cowok," kini cowok kecil yang menyahut.

Si Bos mengepalkan kedua tangannya.

Brakk!

Semua terkejut bukan main. Meja itu sampai membekas karna tinjuan tangannya.

"Besok, kita mencar di kelas Bahasa!" ucap cowok tinggi itu dengan tegas tak mau dibantah. Dia berjalan keluar ruangan yang disebut markas itu, lalu terdengar gemuruh motor dihidupkan.

"Gue mencium bau-bau yang gak beres," bisik cowok gembul. Semua mengangguk mantap.

"Ikutin aja mau dia." Cowok berlesung pipit bersuara, dia juga ikut keluar dari markas.

◇◇◇


Aku sedikit merenggangkan ototku saat keluar dari Bandara. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Perjalanan cukup melelahkan. Aku menatap langit yang tampak cerah namun sedikit berawan.

"Siap menjalani proses penyembuhan!" ucap Bapak memberiku semangat. Aku menatap Bapak lalu mengangguk kuat.

"Siap Pak, semangat!"

---

To be continue 💙

Fira FlorinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang