Last

5.1K 245 1
                                        

   Migi terus mengendarai mobilnya, sesekali dia melihat dimana lokasi posisi gadisnya berada. Ok, sebut dia egois karna panggilan gadisnya itu.

  Dia hampir gila saat posisi gadisnya kembali pindah. Dia menancap gas tanpa mau ditahan lagi. Tidak salah, sekarang maps itu bergerak ke dekat Bandara. Demi apapun hati Migi seperti diremas begitu saja. Jangan, jangan sampai dia menyesal.

  Tidak sampai sepuluh menit, Migi menghentikan mobilnya. Dia membawa ponselnya, terus mencari keberadaan gadisnya. Benda itu terus bergerak seiring Migi melangkah. Dan sekarang, posisi mereka berdekatan. Dan saat itu juga, Migi melihat gadisnya keluar dari sebuah mobil.

  Bahagia setengah mati, Migi sampai berlari mendekati mobil itu.

---

  "Fira!!"

  Aku itu menoleh. Aku sedikit terkejut melihat Migi menghampiri. Apalagi dengan beberapa lebam dan seragam sekolah masih melekat di tubuhnya.

  Dan saat Migi sebentar lagi mendekati, satu sosok cowok ikut berlari. Dan cowok itu adalah ... dia.

  Mereka berhenti secara bersamaan di depanku. Migi tampak terkejut, begitu juga dia.

  Migi tak peduli, dia menatapku penuh pasti.

  "Apa perlu kalian?" tanyaku tanpa ekspresi. Aku menatap Migi terlebih dahulu. "Kamu?"

  Migi ikut menatapku. "Gue salah," ucapnya seraya menunduk.

  Aku paham, sekarang aku menatap dia. "Anda?"

Dia tersenyum lirih. "Aku minta maaf."

  Aku mengangguk mengerti. Ingin tersenyum, namun rasanya sulit.

  "Kamu Migi," Migi tampak mengangkat kepalanya untuk melihatku. "Terima kasih karna sudah menyadari kesalahan sebelum terlambat dan menyesal."

  Kini aku beralih menatap dia, aku menarik napas pelan. "Dan anda, terima kasih karna masih mengingat kata Maaf untuk diucapkan kepada saya."

  Aku menatap mereka satu persatu. "Saya pergi."

  Badanku yang sudah berbalik ditahan entah oleh siapa. Saat aku menoleh, Migi pelakunya.

  "Kenapa?" tanyaku.

Migi menggeleng sambil menunduk. "Jangan pergi."

Aku tersenyum kecil. Kugenggam kedua tangan Migi, dingin sekali.

  "Migi, aku harus pergi, agar bisa sembuh."

Migi menatapku, tak kusangka matanya sudah mengeluarkan air mata.

  "Janji akan kembali?" tanya Migi. Aku mengangguk pasti cukup membuat Migi tersenyum.

  "Tapi gue gak punya temen yang manis lagi!" rengek Migi. Kenapa dia bisa beringas dan manja dalam waktu bersamaan?

  "Mau Fira sembuh 'kan? Tunggu Fira pulang setelah sembuh."

  Migi menghela napasnya. "Tapi kapan?"

  "Tak tau."

Migi menatapku kesal.

  Tak sengaja aku menatap dia yang melihat adegan kami. Dia tampak memasang senyum lirihnya itu. Perlahan aku melepas genggamanku pada Migi, berjalan mendekatinya. Sejurus kemudian aku memeluk tubuh tegapnya. Mencoba mencari kenyamanan yang dulu aku rasakan.

  Elusan tangan mulai terasa hangat di punggungku. Dia meletakan dagunya di pucak kepalaku seperti biasa, karna aku lebih pendek darinya.

  "I'm so sorry. I'm wrong."

  "Yes, you wrong. Because that I hate you."

  Aku merasa kepalanya mengangguk pelan.

  "Go away, aku harap kamu sembuh."

  Aku melepas pelukanku, menunduk dalam diam.

  "Yeah, thanks for your apalogy."

Dia megangguk kecil. Suara pemberitahuan pemberangkatanku mulai terdengar. Aku melihat Bapak mendekati kami.

  "Ayo nak."

  Aku kembali menatap mereka berdua, lalu melambaikan tanganku.

  "Fira!"

  Aku kembali menoleh. Ternyata dia yang memanggilku.

  "Cepat sembuh dan kembali menikmati bintang bersamaku," teriaknya.

  "Fira manis!" Panggil Migi tak mau kalah. "Cepat sembuh dan menikmati air di bawah fenomena bersamaku!"

  Aku tertawa pelan, Migi bahkan tak mau menyebutkan nama fenomena itu ketika di depanku.

  "Pasti! Aku pasti kembali dan memberi jawaban siapa yang aku pilih!"

  Setelah berteriak, aku mengikuti Bapak sampai masuk pesawat. Ku selalu berdo'a, agar bisa merasakan bagaimana bahagia. Dan mungkin itu akan ku dapatkan ketika mendapat kata sembuh dari traumaku.

---

Fira FlorinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang