Unik

5.4K 310 1
                                        

Gedung bahasa yang sudah tak terpakai. Ya, aku sudah berdiri di depan gedung ini tanpa takut. Meski bangunan yang berdiri kokoh ini pernah kosong, sekarang tidak. Banyak motor besar sampai matic berjejer di halaman tanpa ada kesan rapi. Suara tawa pun terdengar sampai keluar gedung. Aku yakin, ini suara dari anggota Warior. Ya, ini yang disebut markas Warior!

Dengan napas yang memburu aku mendekati pintu masuk yang tertutup rapat. Sungguh, ini membuatku semakin marah pada mereka.

Brak!

Pintu besar itu kutendang sampai terbuka lebar. Semua yang ada di dalam langsung diam. Menatap ke arahku dengan berbagai tatapan. Aku tak peduli.

Aku mencari sosok dari antara mereka. Sosok yang ingin bermain-main dengan ku. Ku edarkan semua pandangan ke setiap anggota. Gotcha! Sosok itu sedang berjalan mendekat ke arahku, jangan lupa senyum setannya itu.

Ketika tepat dia berdiri di depanku .... PLAK suara itu menggema di gedung ini. Amarahku semakin menggebu-gebu.

Wajah itu sampai menengok ke kiri karna tamparan dariku. Semua tampak terjengkat kaget, bersiap menghampiri, namun semua kembali diam dan mengurungkan niat untuk mendekat.

Aku menatap manik elang itu.

"Jangan Anda sentuh Rangga lagi!" ucapku sampai menunjuk tepat di wajahnya. "Anda bermasalah dengan saya, bukan dengan teman-teman saya. Mengerti, Tuan Migi Prasetya?"

Semua orang meringis ketika aku menyebutkan nama lengkap cowok tinggi ini. Masa bodoh.

Aku menatap satu-persatu anggota itu yang kini sudah ku hafal nama dan wajah mereka. Kemudian pergi dengan emosi yang masih membludak.

◇◇◇

"Si Bos jatuh cinta, halah ... hahahah."

"Wih, gue kira lo belum move on dari si cewek ono ... akhirnya!"

Dan entah banyak lagi celotehan dari setiap anggota. Cowok yang menjadi bahan obrolan hanya diam di satu tempat. Di sofa berwarna biru gelap di pojok ruangan. Dia memang sudah ketauan bahkan diceramahi karna suka terhadap satu wanita. Tapi dia tetap keukeuh menolak bahwa dia mempunyai perasaan itu. Dia bahkan berpikir, itu tidak mungkin!

Cowok tinggi itu cukup melamun, mencari keberadaan wanita itu yang entah kemana selama ini. Selama satu minggu. Dan selama itu juga cowok itu uring-uringan memarahi siapapun yang didekatnya. Menyuruh setiap anggota mencari informasi, dan jangan kembali sebelum mendapat hal yang bersangkutan dengan wanita itu.

Cowok itu menghela napas kasar, dia sudah gila jika benar-benar suka dengan wanita itu. Tadinya, dia hanya bermain-main untuk memberi pelajaran atas perlakuan wanita itu. Tapi, dia terjebak sendiri.

Brak!

Suara pintu ditendang membuat cowok itu menoleh. Menatap apa yang terjadi. Dia melotot kaget, cewek itu, cewek yang seminggu ini dia cari keberadaan, cewek yang mampu membuatnya uring-uringan, cewek yang membuatnya merasa bersalah dan frustasi. Kini ada di depan matanya.

Dengan cepat dia berdiri, mencoba mendekati cewek itu. Wajah merahnya, wajah galaknya, dia rindu itu. Sampai ...

PLAK ...

Cowok itu terdiam cukup lama, menetralkan perasaanya apa yang barusan terjadi. Dia yang mendengar anggotanya akan bergerak, memberi kode dengan tangannya agar tetap diam.

Mata merah itu menatap maniknya. Hatinya kembali teriris ketika melihat bekas air mata pada bulu mata lentik gadis itu. Dia kembali merasa bersalah.

"Jangan Anda sentuh Rangga lagi!"

Suara cewek itu menggema di pendengarannya. Dia sampai tak tau harus menjawab apa.

"Masalah Anda dengan saya, bukan teman-teman saya. Mengerti, Tuan Migi Prasetya."

Untuk yang ini, cowok itu sampai tertegun. Dari mana cewekbitu tau namanya? Bahkan nama panjangnya sekalipun!

Cewek itu pergi dengan tatapan sengit yang ia berikan. Setelah perawakan mungil itu keluar gedung, semua anggota langsung menggerumin cowok itu.

"Lo gak pa-pa, Gi?"

"Anjir, bibir lo sobek!"

"Lumayan juga tamparan cewek itu."

Cowok itu terkekeh pelan. Meraba ujung bibirnya yang memang terluka.

"Biar gue obatin," ujar cowok berlesung pipit. Cowok tinggi itu mengangguk sambil tersenyum.

"Dia makin berani aja, Gi," ucap cowok gembul.

"Biarin, gue suka." Semua menatap ketuanya itu cengo.

"Sekali kalian berani nyentuh buat nyakitin dia, kalian berurusan sama gue."

Cowok tinggi itu merebahkan tubuhnya di sofa tadi. Memejamkan kedua matanya, tidur untuk mengobati hatinya yang terluka saat mendengar nama lelaki yang ia hajar tempo lalu. Dia tidak suka, dia cemburu!

"Unik, lo makin unik. Gue jadi makin suka."

---


To be continue 💙

Fira FlorinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang