Acht

38 13 0
                                    


Aku mendengar penjelasan dari sang ketua osis atau yang lebih dikenal Junaedi. Dia itu sosok ketua osis idaman para perempuan, yah gimana mau ga idaman. Ganteng, putih, tinggi, gagah, lucu, pinter, kaya. Ya gitulah pokoknya apa aja kriteria cewe semua ada di dia. Cuma namanya aja ga sinkron sama semua itu. Junaedi, haha bikin ngakak sendiri.

"Si junaedi pinter bacot ya? Gua kira dia alim alim menghanyutkan"

"Ga sopan banget sih lu din, kakak kelas tuh"tegurku. Dina memang begitu, tak tau sopan santun. Dulu namanya hampir di coret dari kartu keluarga karena dia keceplosan manggil kakeknya pake nama "Tukijan" Emang anak kurangajar.

"Kakak kelas doang, kenal juga kaga gua. Jadi santai aja" tangannya digibas-gibasin di depan mukaku, rasanya aku ingin menonjok anak pak Romli yang satu ini.

"Eh itu, kamu yang disana. Tolong maju dong!!" kak juna nunjuk siapa? Aku? Apa Dina? Atau malah Sofi? Siapa sih? Kita semua bingung sama yang ditunjuk kak juna, sampai semua murid yang ada disana mengarahkan pandangannya pada kita.

"Itu yang katanya kaga kenal gua, tapi bacot-bacotin gua" ujarnya dengan santai. Wah kalau begini mah udah jelas, dina sasarannya.
Aku menyenggol siku Dina"Udah maju sana, sapa suruh lu bilang-bilang gitu"

"Ya masa iya dia denger sih?? Gua kan di ujung sini. Sedangkan dia ngebacot sendiri disana, masa denger??!!" kata Dina panik ga karuan.

"Mungkin dia punya indra keenam kali din" kali ini Sofi yang beraksi menyudutkan dina.

"Indra keenam apaan? Aneh-aneh aja lu sof!" Dina tetap duduk, dia ga mau ke depan sedangkan yang memerintah sedari tadi memanggilnya terus.
"Udah deh din maju aja. Repot amat lu, kaga bakal diapa-apain. Lu kan terlahir sebagai preman, masa takut ama si junaedi? Udah, sana maju" aku mendorong Dina agar dia maju dan akhirnya dengan kekuatan rayuan pulau kelapa Dina mau maju. Alhamdulillah.

Aku dan Sofi tak henti-hentinya menertawakan wajah dina yang ketakutan di depan. Kak juna selalu menggoda nya dan itu membuat dina kesal hingga ia dengan berani memukul kak Juna. Dan akhirnya setelah tersiksa lama, korbannya pun turun dengan wajah yang sok di malu-maluin.

"Oke gaes, jadi anggap aja yang tadi itu hiburan dari gua ya. Oh iya sori ya dina anak pak Romli, gua tadi bercanda doang jangan marah ya, nanti kalo marah jadi cowok lagi kan berabe kalo gua dipukulin lagi kaya tadi hahaha. Jadi gua ga bisa lama-lama disini, dan cuma bisa ngasi saran tadi aja. Karena sekolah kita juga akan ada penilaian dari kota, so kita ga bisa ngelakuin masa orientasi sekolah. Kita anggap satu hari ini, ralat beberapa jam di hari ini adalah pengenalan kalian sama sekolah baru kalian. Semoga kalian betah sama sekolah ini dan berbuat semaksimal mungkin untuk sekolah ini dan diri kalian sendiri, see you soon gaes. Assalamualaikum!!"

"Waalaikumsalam" Jawab kami serempak.
Setelah berbicara panjang kali lebar kali tinggi dan jadi volume air di dalam mic itu. Akhirnya kak junaedi dan osis-osis pergi meninggalkan kami, tak lama setelah itu kami para murid baru juga meninggalkan tempat duduk.

"Gue mau pulang, kalian mau kemana?" tanyaku pada dina dan Sofi yang sama linglung nya denganku.

"Jangan pulang dulu lah, gimana kalau kita liat-liat sekolah dulu." saran Sofi cukup menarik, toh sekarang masih jam sepuluh, terlalu cepat untuk kembali ke rumah. Oke, aku setuju. Kami berjalan mengelilingi sekolah yang luas dan besar ini.

Aku rasa aku akan malas pergi ke kantin, bagaimana tidak. Kalian bisa bayangkan jarak antara kelas dan kantin sama dengan aku bolak balik dari minimarket depan gang ke rumahku yang ada di ujung gang. Tidak, rasanya aku tak bisa seperti itu terus. Bisa-bisa aku pingsan dijalan dan melanjutkannya dengan mengesot sampai kantin.

"Aahh capek gue, duduk bentar ya?" tanyaku sambil memegang kedua lutut ku, sebentar lagi kaki ku akan lepas satu per satu.

"Mau duduk dimana? Lu ga liat ini lantai semua, ndelosor aja lu sono"
Aku sudah benar-benar ga kuat lagi, gempor sudah kaki beta. Mamak tolong dea mak!!

"Bodoamat gua capek" aku duduk dilantai entah di depan kelas berapa aku tidak peduli, dengan kaki yang aku luruskan aku menyenderkan punggungku pada pintu kelas itu.

Kreett

"Astagfirullahaladzim! Aduuh!!" Aku terkejut saat seseorang membuka pintu itu dari dalam dan berakhir dengan punggung dan kepalaku yang jatuh ke lantai kelas itu. Bukan sakitnya, tapi malu nya yang mentok sampai saraf.

Semua pasang mata menuju ke arah ku pasti nya. Aku berusaha bangun dibantu dengan laki-laki yang tadi membuka pintu itu. "Sori ya, gue ga tau kalau ada orang di depan" ucapnya.

"Iya, ga pa pa kak. Maaf ya saya tadi numpang nyender sebentar" kataku dengan malu-malu. Semua murid yang ada di sana menahan tawa nya, mungkin mereka tak ingin memberi kesan buruk pada Junior.

"Makasih kak, maaf ya. Assalamualaikum" aku segera berlari kecil keluar dan mencari keberadaan dina dan Sofi.

"Pada kemana sih ah, aduhhh kepala gue" seperti orang gila yang kehilangan arah, aku berjalan di ramainya murid sambil mengelus-ngelus kepala belakangku tanpa peduli rambutku yang amburadul.

Salam hangat :)

Onlydrpa.

Fiets PrinsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang