Sebuah tangan terulur lewat jendela dan saat ini tangan itu sedang digibas-gibaskan oleh sang pemilik.
Mendengar suara gaduh itu pun Bu Tuti berteriak "Ada apa?!!" Dan saat Dea sadar apa yang telah ia lakukan ia pun kebingungan. Semua pasang mata saat ini menujunya. "Ah, i-itu bu. Kecoa, tadi ada kecoa. Iya bener ada kecoa," ucap Dea dengan keyakinan yang meragukan.
"Sudah duduk kembali, zaman sekarang cewe takut sama kecoa. Zaman dulu aja, cewe ga takut sama penjajah," sindir bu Tuti. Akhirnya Dea duduk kembali. Ia pun menoleh lagi ke arah jendela dan tidak ada lagi tangan tersebut.
Dea mencoba berdiri dan menegok ke jendela. Seorang siswa yang duduk di bangku panjang samping jendela sedang membelakanginya. Akhirnya karena penasaran dea pun menarik rambut siswa itu. "Aduh!" pekiknya.
"Kakak?" lirih Dea terkejut karena Aksa adalah pelakunya. "Sana, sana," usir Aksa dengan menggibaskan tanganya di udara. Dea pun menurut dan duduk kembali di bangku nya. Tak ada satu menit tangan Aksa kembali terulur lewat jendela. Dea mengernyit, tak mengerti maksud Aksa.
Lalu ia membaca tulisan yang ada di telapak tangan Aksa 'Jadi nama lo siapa?' Sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Aksa dan itu membuat bibirnya mengulum senyuman. Dea pun menulis jawaban di tangannya sendiri 'Katanya tadi ga mau, dasar.'
Dea mengulurkan tangannya keluar jendela lalu Aksa membacanya. Aksa membalas lagi 'Cptn blng sblum gue g mau tau lgi nama lo' kata-kata yang mengancam bagi seorang Dea.
Dea membaca dengan malas karena kata yang disingkat, mungkin karena takut telapak tangan nya tak cukup, pikir Dea. Ia teralihkan dengan luka gores di tangan Aksa yang masih lengkap dengan darah. Dea kembali menulis di tanganya, bukan jawaban dari pertanyaan Aksa. 'Tngn kakak knp?'
Dea mengulurkan lagi tanganya keluar jendela. Aksa membacanya lalu melihat tanganya yang memang berdarah sedikit.
Dea mendapatkan balasan terkahir dari telapak tangan Aksa 'Istrht, gudang blkg. Bwa p3k' hal itu membuat Dea penasaran.
***
Istirahat kedua Dea dengan kotak p3k ditanganya berjalan menuju gudang belakang. Alasan piket ampuh untuk kedua temanya yang saat ini asik menonton permainan basket anak Ips.
Gudang belakang berada di dekat kebun sekolah. Biasanya di kebun ini dijadikan tempat pacaran oleh para murid, karena tempatnya yang tersembunyi dan sepi.
Dea yang enggan membuka pintu gudang pun hanya berdiam diri di depan pintu. "Oy," Dea menjingkat dan menoleh kebelakang. Aksa berdiri dengan wajah dan rambut yang amburadul.
"Sori ketiduran. Di bangku sana," ajak Aksa dan berjalan mendahului Dea. Dea mengikuti dan duduk disalah satu bangku di kebun sekolah.
Tanpa aba-aba Aksa mengulurkan tanganya yang terluka ke hadapan Dea. Mengerti maksudnya, Dea pun membuka kotak p3k yang ia bawa dan segera mengobati luka yang sudah mengering.
"Jadi nama lo siapa?"
"Sabrina Radea Adhitama," jawab Dea yang masih mengobati tangan Aksa.
"Dipanggil? Adi?"
"Dea, oh iya tangan kakak kenapa luka?" tanya Dea penasaran.
"Karena lu gebrak meja tadi, gua kaget. Jadi pas gua tarik tangan gua kena jendela," jelas Aksa.
"Kenapa dateng ke kelas tiba-tiba ngasih tangan gitu? Kangen ya?" goda Dea dengan menaik turunkan alisnya.
"Samsul! Kaga lah, gue freeclass jadi bebas mau kemana aja," dengus Aksa dan membuang muka.
Selesai mengobati tangan Aksa, Dea menatap Aksa dengan senyuman khasnya. "Apa?" Aksa mengerutkan dahinya dan menatap aneh ke arah Dea. Dea menggeleng, tanganya memegangi dadanya yang berdebar-debar.
"Lo kenapa si? Sakit? Jantung lo sakit apa otak lo yang sakit?"
"Jantung gua berdebar-debar," jawab Dea ngawur.
"Kenapa?" Kali ini Aksa semakin menatap aneh ke arah Dea. Cewe aneh di depannya yang tersenyum sambil memegangi dada membuatnya sedikit ingin tertawa.
"Pangeran sepeda putih," kali ini Dea benar-benar ngelantur. Suaranya yang menjadi aneh begitu pula raut wajahnya yang saat ini berubah menjadi sedih. Aksa semakin bingung saat Dea menaruh kepalanya di meja.
"Oy, lo kenapa dah? Dea?!"
Dea kembali mengangkat kepalanya dan saat ini jiwa semangatnya datang dengan menggebu-gebu. Ayo Dea, fighting!! Daripada terlambat.
"Kak, gue itu suka sama lo," ucap Dea dengan suara tegas dan mantap. Aksa yang mendengar hanya diam mematung atas apa yang dilakukan Dea. Wajahnya cengo kemudian satu jempol nya teracung ke atas seperti pose foto bapak-bapak di tivi.
Setelah mengatakan itu, Dea menghela napas lega lalu ikut terdiam juga. Canggung, hal yang paling Dea tak suka. Dea melirik Aksa yang tetap dengan jempolnya itu. "Kak turunin jempolnya," protes Dea yang malu akan tingkahnya sendiri.
Aksa terkekeh dan menurukan jempolnya.
Plak
"Gitu ya kamu sekarang, kalo bosen bilang. Ga perlu menghindar kaya gitu,"
"Tapi aku ga menghindar!!"
"Alah basi!" bentak cewe berseragam sama dengan Dea setelah menampar cowo yang mungkin adalah pacarnya. Dea dan Aksa juga serempak menoleh ke arah mereka, dan saat ini Aksa tengah memegangi pipinya sendiri. Sedangkan Dea, ia hanya diam cengo melihat pertengkaran pasangan sma itu.
Salam hangat :)
Onlydrpa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Fiets Prins
Teen FictionTentang gadis yang bertemu kembali dengan seseorang yang selama ini ia kenal dengan nama pangeran sepeda putih. Bukan cool boy, bukan pula bad boy. Hanya pangeran sepeda putih yang melekat pada dirinya. "Mingkem" "Ha?" seketika itu juga aku menutu...