Elf

39 8 0
                                    


Selesai makan malam aku mendapatkan bagian cuci piring dan saat ini aku melakukannya dengan saling menggesekkan kaki ku. Aku heran kenapa nyamuk senang sekali menghisap darahku, padahal aku baru mandi.

Setelah selesai, aku mencuci tangan dan segera berjalan menuju ruang tamu, aku tidak mau berlama lama berdiri di hadapan wastafel yang banyak nyamuk itu.

"Yah, merah merah kan kaki gue. Si nyamuk enak banget dah dapet jatah," aku mendengus dan mengambil ponsel ku yang ada di meja. Malam ini dina akan membantuku memberi tips untuk pangeran sepeda putih. Jadi saat ini aku berniat menelponya.

Tapi baru saja aku memencet ikon telpon hijau di ponselku aku dengar pintu ku di ketuk. Aku langsung mematikan ponsel itu, dan beranjak ke depan pintu.

"Bukain woy!!" Aku yakin itu pasti dina, suaranya sudah membuat jin jin di rumahku makin membesar.

"Ya ya bawel amat sih," aku membuka pintu dan melihat dina yang sudah berdacak pinggang. "Apaan lu? Sok bos banget, ayo masuk!"

Kami masuk ke kamarku dan aku pun menutup pintu, dina sudah tidur-tiduran di kasurku. "Sofi mana?"tanyaku.
"Ga kesini, katanya ibu nya pengen belajar make up dari dia," aku manggut-manggut dan duduk disamping dina.

"Oke kita mulai misi ini, judulnya si pangeran sepeda putih yang misterius" Dina bermonolog tak jelas membuatku muak dan ingin muntah dihadapanya.

"Udah cepetan!!"

"Jadi misi nya, lu tinggal deketin aja si pangeran sepeda putih lu itu. Nah waktu lu deketin itu usahain lu bisa nanya nama dia, dia tinggal dimana trus jangan lupa tukeran nomer," jelas dina.

"Nomer absen?" tanyaku bingung.

"Bukan! Nomer togel nenek lu!!" ucap dina kesal dan aku pun tertawa sangat kencang. "Oke, oke. Jadi gimana? Maksud gue, gimana cara biar gue bisa deket sama dia, secara nih ya gue ga kenal dia siapa jadi gue gabisa nyari informasi apa-apa tentang dia. Nah kalau misalnya waktu gue deketin dia udah punya pacar gimana? Kan berabe din," ucapku memelas.

"Negatif mulu pikiran lu, usaha dulu lah. Nanti gue yang atur cara lu deket sama dia"

"Beneran? Ga boong? Gue ga suka ya kalau cara lu aneh-aneh. Lu tau kan gue aja udah buat hal malu-maluin di depan dia, gue ga mau lagi kaya gitu"

"Udah ga bakal, pokoknya lu tenang aja ok"

"Ok" aku pun berjabat tangan dengan dina.

***

Misi pertama dilaksanakan. Aku, dina dan Sofi saat ini berada di kantin. Sebenarnya aku sangat malas tapi dina merayuku dengan embel-embel pangeran sepeda putih pasti akan pergi ke kantin, dan kantin adalah tempat yang tepat untuk dapat mendekatinya.

Aku memakan siomay ku sambil menengok-nengok mencari keberadaan pangeran sepeda putih, aku mendengus "Din mana? Kata lu dia kemari"

"Sabar atuh neng, orang sabar disayang pak Romli. Sabar atuh" aku kembali memasukkan siomay ke dalam mulutku. Akhirnya yang ditunggu datang juga, pangeran sepeda putih baru masuk kantin, seketika aku langsung menyenggol siku dina.

"Din, itu anaknya. Yang baru masuk kantin," bisikku.

"Yang mana de?" tanya Sofi kebingungan mencarinya karena ada beberapa murid cowo lainya yang baru masuk juga.

"Itu loh, yang paling belakang,"

"Oh bocah itu.." Dina manggut-manggut dan tersenyum padaku, aku pun membalas senyumnya dengan girang. Lalu detik selanjutnya "Woi kakak yang baru masuk kantin, kakak paling belakang Dicariin temen gue nih!! Kata dia kangen pangeran sepeda putih nya!!! Pengen ken-bhppbph" aku membekap mulut laknat dina.

Astaga, semua murid menghadap kami saat ini. Tak terkecuali pangeran sepeda putih, namun dia hanya diam dengan wajah datarnya itu. Aku memalingkan wajah, aku saat ini benar-benar malu karena tingkah dina. Sofi hanya bisa tertawa terbahak-bahak dan dina yang mulutnya aku bekap langsung melepaskan tanganku.

"Bwah!! Anjay lu!" umpatnya

"Lu yang anjay!! Gila lu ya, ga tau malu banget!!" omelku.

"Katanya lu mau deketin, kan udah gue deketin tuh."

"Ya tapi bukan gitu caranya!! Astaga gue malu sama murid yang lain tau!!"

"Ga pa pa dea. Seengaknya dia kenal lu" ucap Sofi santai. Apanya yang kenal? Yang ada mungkin pangeran sepeda putih akan ilfeel padaku.

Tak mau berlama-lama dengan orang gila ini aku berdiri dan berjalan keluar kantin meninggalkan kedua orang tak waras itu.

"Bisa-bisanya ya, gila banget si dina. Sumpah pangeran sepeda putih pasti-"

"Dea!!" aku yang semula menggerutu seketika berhenti dan membalikkan badan untuk melihat siapa yang memanggil ku. Dan ternyata Bu Nita.

"Oh iya ada apa bu?"

"Jadi gini, tolong kamu bawa ini ke ruang fotocopy, trus fotocopy seratus lembar. Ok, bisa kan?"

"Oh iya bu, bisa" aku membawa selembar kertas yang isinya jadwal mata pelajaran. Dan aku berjalan ke ruangan fotocopy sambil melanjutkan gerutuanku.

Cklek


Salam hangat :)

Onlydrpa.




Fiets PrinsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang