"Aksa lo ga pa-pa?"
"Ha?"
"Lo ga pa-pa?"
"Ha? Lo ngomong apa?"
"Kaga jadi!!" Sheryl memutar matanya malas dan menyibakkan rambut basah yang menutupi matanya. Hujan semakin deras, mereka tak mengenakan jas hujan dan berakhir dengan hujan-hujanan sampai rumah.
"Lo ganti baju sana, nanti masuk angin. Pelan-pelan, kayaknya ibu tidur," pesan Aksa dan mengelus kepala Sheryl. Lalu Sheryl masuk rumah dengan sangat pelan. Aksa memarkir sepeda dan menyusul Sheryl ke dalam rumah.
Mereka masuk dengan perlahan agar tak membuat si ibu terbangun dari tidurnya. Sheryl sudah masuk kamar dan mengganti baju yang basah kuyup, sedangkan Aksa masih mengeluarkan tas nya dari dalam kantong plastik besar.
Saat pulang sekolah tadi, Sheryl menghampiri Aksa dan membawakan satu kantong plastik besar untuk tas Aksa. Tas Sheryl pun serupa, berbalut kantong plastik dan mereka pulang bersama dengan hujan-hujanan.
Aksa tersenyum mengingat perhatian kecil Sheryl yang mampu membuatnya menitihkan air mata di tengah derasnya hujan tadi. Membuat rasa bersalah itu semakin besar.
Flasback on
Darah segar yang mengalir dimana-mana membuat siapapun yang melihatnya merasa ketakutan. Termasuk gadis berumur 15 tahun yang sangat ketakutan melihat kedua orang tuanya terkapar berlumur darah.
Ia hanya bisa menangis dan meringkuk ketakutan, berharap seseorang datang menyelamatkanya. Kepala nya pun semakin lama semakin berat tak kuasa melihat hal ini. Gelap, darah, palu, pisau, dan orang bermasker itu ada di sekitarnya. Harapan untuk hidup baginya tak ada, saat ini orang tuanya, mungkin sebentar lagi dirinya yang akan jadi korban.
Hingga orang itu datang, laki-laki sepantaran denganya datang dan memeluk dirinya yang meringkuk ketakutan. "Sstt, ma-maafin gue, maaf, maaf, maaf."
Ia menangis, gadis yang dipeluk tadi pun ikut menangis. Tangan gadis yang berlumuran darah itupun di hapus menggunakan kaosnya, mereka saling memeluk ketakutan di hari itu.
Flasback off
Tok tok
"Sa..?"
"Eh iya bentar, lagi ganti baju," Aksa tersentak dan segera mengganti baju nya dan membukakan pintu untuk Sheryl.
"Kenapa?"
"Hari ini kita makan mie aja gimana?"
"Iya, lo masuk dulu ya gua mau kasi sesuatu," ujar Aksa dan Sheryl pun masuk mengikuti Aksa ke dalam kamarnya. Aksa mengambil sebuah amplop coklat dari dalam tasnya dan memberikannya pada Sheryl.
"Buat spp lo, sama buat kita makan," Sheryl menatap nanar amplop itu, hatinya tersentuh setiap kali Aksa memberikan hal seperti ini. Ia merasa membebani hidup Aksa.
"Gue kan udah pernah bilang, ga usah kaya gini sa." Suara Sheryl merendah.
"Tapi lo itu tanggung jawab gue."
"Ini bukan tanggung jawab lo, ini cuma rasa bersalah lo!" Sheryl tak mampu lagi menahan air matanya, ia tak tega melihat Aksa yang terus melakukan ini itu untuknya bahkan sampai tak memikirkan dirinya sendiri.
Aksa yang melihat Sheryl menangis hanya bisa berdiri diam.
"Lo mau buat rasa bersalah gue makin besar?" tanya Aksa dingin.
"Bukan, gue cuma ga mau lo merasa bersalah-"
"Sheryl tolong, tolong gue," seakan mengerti maksud Aksa. Sheryl berhenti menangis, dan menjadi diam dengan isakan kecilnya. Aksa menghela nafas, ia kembali menyodorkan amplop itu dan mengangguk pada Sheryl.
Seketika sheril memeluknya sambil menahan tangisnya. "Maafin gue sa, maaf. Gue buat lo susah terus,"
Aksa tersenyum getir, mengelus rambut Sheryl. "Nggak, lo ga boleh ngerasa kaya gitu. Hidup gue cuma buat lo dan ibu, cuma kalian yang gue punya."
"Gue bakal cari beasiswa, biar lo ga perlu-"
"Makasih, jangan lo paksain Sheryl, gue masih bisa." potong Aksa, Sheryl mengangguk dan melepaskan pelukannya. Aksa menyeka air mata Sheryl dan Sheryl keluar dari kamar Aksa menuju dapur.
***
Dea yang terbungkus selimut dengan rambut masih basah, hanya bisa jongkok di samping lemari dan melamun. Kejadian tadi masih ter- ngiang-ngiang di kepalanya, siapa gadis yang bersama Aksa tadi? Adik kah? Saudara? Atau pacar?
Masih dengan posisi yang sama Dea melirik ponsel yang berada di kasur. Ia mengambil nya lalu segera mencari sebuah kontak dan mengirimkan pesan pada orang itu.
"Lo ada nomor Aksa?"
"Ada, lo mau?"
"Ya jls."
"Buat apaan?"
"Gue gadaiin."
"Ga bener, gue ga kasi."
"Milo, bsk di sklh."
"Siap bosku."
Dea senyum-senyum sendiri berhasil membujuk kudanil satu ini.
Salam hangat :)
Onlydrpa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fiets Prins
Teen FictionTentang gadis yang bertemu kembali dengan seseorang yang selama ini ia kenal dengan nama pangeran sepeda putih. Bukan cool boy, bukan pula bad boy. Hanya pangeran sepeda putih yang melekat pada dirinya. "Mingkem" "Ha?" seketika itu juga aku menutu...
