Dea sedari tadi sangat kebingungan, ia berlari kesana kemari mencari sesuatu hingga membuat ibu nya jengah.
"Dek, kamu itu nyari apa sih dari tadi?"
"Sarung yang Dea jemur waktu itu di mana mak?"
"Sarung? Oo sarung warna hitam itu ya? Tadi subuh di pakai ayah ke mushola."
"Ha?! Buat apa?"
"Ya buat sholat lah, gimana sih kamu. Ini nih, kebanyakan minum susu kuda liar dulu." ejek ibunya yang melihat Dea frustasi mencari-cari sarung itu.
"Tapi kan itu bukan sarung ayah, kok dipakai sih," ucap Dea sambil cemberut.
"Emang sarung siapa? Disini kan yang pakai sarung cuma ayah aja."
"Bukan, itu, itu sarung temen Dea." cicit Dea yang sayangnya terdengar di telinga ibunya.
"Sarung temen kamu? Kok bisa ada di kamu? Kamu sholatnya pakai sarung, ganti gender kamu?" ucap ibunya dengan curiga dan memicingkan matanya.
"Aahhh mamak apaan sii, ya nggak lah. Waktu itu, Dea itu-"
"Apa?"
"Itu loh, masa ga tauu.."
"Ya apa? Mamak ga bisa baca pikiran kamu, mamak bukan dukun!"
"Waktu itu, aku bocor," bisik Dea pada ibunya dan mendapat pukulan keras di lengannya.
"Ha?!! Beneran?? Astagfirullahaladzim Dea!! Kamu malu-malu in negara dek.."
"Ya gimana, Dea juga nggak tau. Yang lihat juga temen Dea," sungut Dea sembari mengelus-elus lengannya yang kena pukul oleh ibunya tadi.
"Jangan bilang yang lihat itu cowok, terus dia kasih sarung itu buat kamu? Beneran?" Dea mengangguk pasrah, ibunya tak bisa baca pikiranya, tapi ia bisa membaca kejadian memalukan ini.
Ibunya menepuk jidat, tak kuasa melihat Dea yang sudah sangat memalukan. Entah kenapa ia melahirkan anak seperti Dea ini. "Dek, urat malu mu udah nggak ada ta?"
***
Dea sedang berdiri dan membawa paper bag di depan kelas Aksa, ia akan mengembalikan sarung Aksa yang waktu itu. Mengingat-ingat kejadian itu, membuat dirinya malu sendiri. Sudah beberapa kali Dea memalukan dirinya sendiri di depan Aksa, putus sudah urat malunya.
"Cari siapa?" tanya murid laki-laki yang melihat Dea sedari tadi.
"Kak Aksa ada?" laki-laki itu menggeleng.
"Kaga masuk dia, kaga tau kenapa."
"Ok, makasih kak," ucap Dea yang langsung berbalik badan, berjalan menuju ke kelas nya.
Tidak masuk, dan tidak ada keterangan. Sejak kejadian di taman belakang itu, dan gadis yang bersama Aksa saat itu. Dea dengar jika Aksa tak datang sekolah, yah, dia tak bisa memastikan langsung karena terbaring sakit di rumah. Teka teki macam apa ini, sangat memuakkan bagi Dea.
Brak
Dea membanting paper bag berisi sarung itu ke mejanya, dan membuat murid-murid di kelas menoleh ke arahnya. Entah kenapa, tapi hatinya begitu muak dengan ini semua. Rasanya sangat sesak, jika bisa diluapkan Dea akan menangis sekencang-kencangnya.
"Lo ga waras?! Hah?!" teriak Sofi yang terkejut dengan tingkah Dea.
"Iya, gue ga waras," timpal nya dan langsung pergi meninggalkan teman-teman kelasnya yang kebingungan.
Kantin, iya tujuan Dea saat ini. Saat merasa sesak, perutnya selalu bereaksi.
Ia duduk tepat di hadapan Dina yang sedang melirik laki-laki yang dikerumuni banyak gadis di pojok kantin. Dea menaruh kepalanya di meja kantin, mencoba memejamkan mata agar sedikit tenang.
Nampaknya Dina masih tak menyadari keberadaan Dea, ia masih terus melirik dan menggerutu sendiri. Dan Dea yang mendengar gerutuan dari sahabatnya ini hanya menutup telinga nya.
"Samperin sana, misuh mulu lo di sini," ucap Dea masih dengan posisi yang sama dan membuat Dina menoleh terkejut.
"Kok lo disini? Kapan? Ngapain lo?"
"Diem, gue lagi ga mood."
"Sama, gue juga," kali ini Dina juga mengikuti posisi Dea. Melihat pacarnya sendiri di kerumuni gadis centil tanpa mau membalas membuatnya muak.
"Semua cowo sama aja, brengsek!" umpat Dina yang ditimpali kekehan oleh Dea.
"Hm, samperin gih."
"Ogah, sudi banget gue. Udah banyak cewe juga disana. Ntar juga dateng tu setan."
"Ha ha," Dea tertawa hambar malas menanggapi pasangan yang tidak jelas ini.
Bruk Bruk.
Tumpukan jajan dan susu kotak ditumpahkan ke arah Dian dan Dea. Mereka terbangun dan Dea terkejut dengan hal ini. Siapa lagi pelaku nya kalau bukan Junaedi si ketua osis ga waras yang pernah ada.
"Ini, apaan?" tanya Dea yang tak mengerti semua ini.
"Bawa pergi ga?!" Dea dan Juna terlonjak kaget karena teriakan Dina.
Dea masih mengernyit bingung, untuk apa semua jajan ini. Dan pasangan gila ini kenapa mereka berantem gara-gara jajan?
"Ini, he Junaedi apaan ini semua?" entah sejak kapan Dea sangat tak sopan dengan kakak kelasnya satu ini, mungkin pengaruh dari Dina.
"Itu, oh gue baru inget. Gue ke ruang osis dulu ya, formulir kemah belum kelar, gila lupa. Cabut ya Dea!"
"Aku tunggu di ruang osis," bisiknya ke Dina sebelum meninggalkan kedua sahabat itu dengan banyak nya jajan yang ada di meja.
"Bacot, makan aja tuh semua. Ogah gue!" Dea mengangguk, kenapa harus menolak jajan dan susu kotak sebanyak ini, rejeki kan ga boleh di tolak.
"Junaedi kalau jajan emang banyak gini ya?"
"Bukan, semua dari fans nya."
"Beneran?! Waww!!" Dea melongo takjub dengan hal tak berguna seperti ini.
"Waw ndasmu! Makin kesini fans Juna makin banyak. Mereka juga selalu ada di deket Juna, jadi kita jarang punya waktu karena mereka. Itu ngeselin banget! Apalagi kalau kita lagi ketemuan berdua, Juna selalu bawa jajan dari fans nya. Setiap dia dapet jajan dari fans nya, selalu dikasi ke gue, hemat budget katanya."
Dea menahan tawa karena percintaan tragis temanya. "Kasian sekali teman gue satu ini,"cicitnya sambil mengusap kepala Dina gemas.
"Semoga aja Aksa ga ninggalin lo dengan jajan sebanyak ini," ucap Dina kesal dan langsung pergi menyusul Juna.
"Hm, bukan jajan. Tapi kebingungan sama sarung," beonya lalu meminum salah satu susu kotak.
Hehe, balik lagi :))
Aksa nya ilang, lagi dicuri swiper.
Juna manis sekalii😘😘 hemat budget sekali diaa.
Salam hangat :)
Onlydrpa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fiets Prins
Novela JuvenilTentang gadis yang bertemu kembali dengan seseorang yang selama ini ia kenal dengan nama pangeran sepeda putih. Bukan cool boy, bukan pula bad boy. Hanya pangeran sepeda putih yang melekat pada dirinya. "Mingkem" "Ha?" seketika itu juga aku menutu...
