Kita takkan pernah tau rahasia langit, Airra.
Hari ini kau mengaguminya
Boleh jadi besok kau begitu membencinya
Saat ini kau mungkin sangat mencintainya
Satu jam lagi, bisa saja kau bahkan tak ingin berada di dekatnya.
Detik ini kau memandangnya begitu tenang
Beberapa detik lagi mungkin tidak. Membunuhmu tanpa suara.Begitupun sebaliknya. Semua serba rahasia.
***
"Gue bakal pindah tim."
"Lo gila? Olimpiadenya Minggu depan!"
"Terus?"
"Dan lo mau pindah tim gitu aja?"
"Kalian gabisa berpikir logis? Tim Adrian yang jadi andalan sekolah kita aja belum siap! Kalo ada kesempatan lebih besar buat menang, Why not?" Orion masih dengan gaya santainya. Setidaknya sejauh ini.
"Yon, yang bener aja! Terus Feilin mau dikemanain?"
Orion menghela nafas panjang. Tidak terbiasa menghadapi hal seperti ini. Maklum saja, Orion selalu memilih diam dan bertindak santai.
"Kenapa sekarang jadi kayak gue yang salah? Dari awal, kalian semua tau gue nggak sukak satu tim sama Feilin. Tapi kalian sama para pembina tetep maksa. Kalian semua juga tau kalo sekolah kita kekurangan anak matematika, sekarang kalo sudah ada? Mau kalian buang gitu aja?"
Suaranya kini berubah menjadi tajam. "Gue mau sekolah kita menang. Salah kalo gue berharap kayak gitu?"
"Lo nggapercaya sama timnya Adrian?" Teman-temannya tetap tak setuju. Sedangkan Orion malah tersenyum miring. Senyum yang sangat jarang diperlihatkan pada siapapun. Heran sendiri dengan pola pikir temannya. Bukankah mereka adalah tim yang disiapkan untuk Olimpiade? Rupanya Orion harus mulai percaya bahwa Internal sekolah adalah yang utama. Orion bukanlah seseorang yang suka meremehkan. Tapi sekarang, dia benar-benar kesal.
"Kalo kita cuma percayain lomba ini sama timnya Adrian, terus buat apa kita susah-susah ikutan belajar? Kenapa harus buang-buang waktu sama biaya? Kenapa nggak sekalian aja cuma ngirim Adrian sama Juna? Kalian tau betul kalo belajar Olimpiade itu ngga segampang belajar seolah besok ujian!"
Teman-temannya diam. Saling tatap. Tak berani melihat manik mata hazel Orion yang kini berubah begitu mengintimidasi. Mereka belum pernah melihat Orion begitu. Hanya Adrian yang tersenyum penuh arti.
"Terus Feilin gimana?"
"Gue nggak peduli! Buat apa satu tim sama orang yang cuma bisa nitip nama. Feilin bahkan nggak ada usaha apapun! Liat? Hari ini aja dia ngga dateng. Apapun alasannya, ini juga tanggung jawabnya."
"Gue dukung lo satu tim sama adek gue," Adrian akhirnya bicara setelah sekian lama hanya tersenyum.
"Tapi, itupun juga kalo dia mau," Mengedikkan bahu. Seperti menyampaikan bahwa Airra memang takkan mau. Orion hanya mengangguk.
"Tapi adek lo kelas IPA-7, Yan!" Liana membalas tanpa basa basi sedikitpun. Kesal kenapa Orion malah memilih satu tim dengan adik kelas.
Orion berdiri. Kesabarannya sudah habis. Dari awal Orion muak dengan tim konyol ini. Sama saja dengan teman-temannya telah menghina Airra. Dan Orion tak menyukainya. Orion yang kalem dan selalu tersenyum, kini berubah hampir 180°. Hanya karena pemikiran temannya terhadap Lucynda Airra?
Sedangkan Adrian? Ia memang kesal. Tapi untuk sekarang ia memilih diam. Membiarkan Orion mengambil alih dan menguasai pembicaraan. Sekolahnya benar-benar krisis tim Olimpiade. Teman-temannya bahkan berani sekali menjelekkan Airra yang sudah jelas jauh lebih cerdas. Airra bahkan membuktikannya dihadapan mereka langsung.

KAMU SEDANG MEMBACA
Line of Life
Novela JuvenilSiapa sangka gadis secerdas Airra akan masuk kelas buangan? Gadis yang membenci kata 'cinta' itu kini harus terperangkap dalam kehidupan yang terlalu banyak drama menurutnya. Sampai kapan drama ini berlangsung?Aku tidak pernah berharap dikenal siapa...