27

134 56 72
                                    

Semua sudah usai. Bahkan sebelum kita mengenal apa definisi memulai

***


"Ra,"

Airra menoleh. Mendapati seseorang bertubuh tegap berdiri di samping bangkunya.

"Orion tadi sudah balikin binder lo. Lo nggak ada, jadi dikasihin temen sebangku lo," suara itu melanjutkan.

Airra menatap datar. Sejurus kemudian ia mengangguk. Memilih tak peduli dan tak mau ambil pusing. Tak juga heran bagaimana bindernya bisa ada di Orion.

Ya, siapa lagi pelakunya jika bukan Adrian.

"Ck! Dimana mana nyampah si ini orang."

Maya menahan tawa. Sangat menyukai keberanian temannya yang tidak bisa ia tiru.

"Bisa cari tempat lain nggak? Ini buat gue sama kak Rian," Riris berkata lagi. Andrian menatap keduanya tajam. Sepagi ini, Adrian sama sekali tidak memedulikan keberadaan Orion. Bahkan tadi, Orion ingin mengembalikan binder Airra padanya. Adrian malah berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.

Liana melirik Orion sekilas. Mata hazel pria itu tak lepas dari Airra dan tingkahnya yang seolah tak peduli.

Sedangkan yang diperhatikan pura pura tidak tau. Sibuk mengaduk-aduk minumannya.

Memangnya mereka siapa? Bahkan jika Liana dan Orion adalah artis papan atas yang berkunjung ke sekolahnya, ia takkan peduli. Apalagi hanya dua orang kakak kelas yang pekerjaannya membuat masalah.

"Nah! Kan! Gue bilang apa tadi, Ris! Ada oknum yang dikasih telinga sama Tuhan. Tapi kagak pernah dipakek," sahut Adrian asal. Duduk dibangkunya dengan menyenggol lengan Liana. Menandakan bahwa gadis itu menghalangi jalan.

"Bukan telinganya yang nggak dipakek. Otaknya aja udah nggak ada," balas Riris. Sesaat kemudian mengikuti apa yang dilakukan Adrian. Lebih kasar.

Maya sejak tadi hanya menahan tawa. Sesekali melirik Orion dengan sudut matanya. Kakinya sibuk menendang-nendang kaki Airra di bawah meja. Dan persis seperti biasa. Sahabatnya itu tak bergeming. Entahlah. Mungkin syaraf di kaki Airra sudah tidak berfungsi.

"Binder lo udah gue balikin."

"Hm," jawab Airra.

"Gak mau bilang terimakasih?"

"Uhuk!" Airra tersedak. Hampir menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke mulutnya.

"Gue nggak ngasihin binder itu ke kak Orion ya. Atas dasar apa harus berterimakasih?" Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa menoleh. Pandangan Airra masih terus ke minumannya yang tinggal setengah gelas. Tak memiliki niat sama sekali menggerakkan leher.

"Lo punya sopan santun?"

Brak!

Adrian berdiri. Bahkan sebelum aatu menit ia duduk. Telapak tangannya terasa berdenyut setelah memukul meja. Satu-dua penduduk kantin ikut menoleh. Memperhatikan bangku pojok yang dipenuhi dengan siswa-siswa penuh kontroversi akhir-akhir ini.

"Airra udah jawab kan? sekarang kalian pergi! Sekolah ini luas. Tempat pacaran nggak cuma disini," usir Adrian.

"Udah, Yan! Ngapain si harus main kasar? Bikin tangan sakit aja," ujar Airra ada benarnya.

Gadis itu meminum lagi es jeruknya hingga habis. Lantas berdiri. Merapikan rambutnya sekila# kemudian berbalik. Membalas sepasang mata yang sejak tadi tak luput darinya.

Line of LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang