30

187 56 168
                                    

Jika berlari pergi adalah sebuah kesalahan, maka aku akan diam perlahan

Dan jika berdiam diri tetap akan membuatmu menyalahkanku lagi, maka pilihanku adalah menghadapi


***

"Tapi, Ma. Ra nggak mau ikut."

"Ikut aja lah, Ra. Biar pernah keluar rumah kamu tuh," ucap Keyra lembut.

"Tau tuh, masa kelakuan lo di kamar aja melulu. Kalah kura kura," Adrian mencibir.

"Banyak omong deh!" Airra membalas tak terima. "Mama kan tinggal bikin surat ijin. Alesan aku sakit kek, acara keluarga kek, apa aja deh."

"Hus! Jangan alesan sakit ah. Entar sakit beneran lho."

"Yaudah alesan acara keluarga."

"Lawak lo?" Adrian mencomot potongan semangka di atas meja. Kalimat kalimat menyebalkan yang ditangkap indra pendengaran Airra meluncur mulus begitu saja tanpa rem.

"Gue nggak ngomong sama lo!"

"Heh kutunya kutu! Lo pikir lucu kalo alesannya acara keluarga tapi gue ikut itu outbound?"

Benar juga. Bukan acara keluarnya namanya kalau hanya satu atau dua orang yang ikut. Airra hampir lupa kalau keluarganya sudah resmi tersisa tiga orang.

"Ya apa kek. Terserah, pokoknya Ra nggak mau ikut," katanya kemudian.

Secepat kilat, Rian mengambil formulir dan surat izin yang baru ditandatangani mamanya. "Udah di gue, artinya, lo udah setor ke kakak OSIS. Dan nggak bisa dibatalin ya, dek!"

"Eh! Nggak bisa gitu dong! Di sekolah lo emang OSIS. Di rumah lo tetep anak mama. Enak aja!" Protes Airra tak terima. Makhluk Tuhan didepannya benar benar menyebalkan.

Jujur saja, Airra ingin ikut. Hitung-hitung refreshing setelah dua bulan stress memikirkan beasiswa. Tapi ada satu masalah yang membuatnya harus mengurungkan niatnya untuk bersenang-senang. Malah kalau bisa, tidak usah ikut saja sekalian.

Melihat Adrian yang menjulurkan lidah, Airra semakin dibuat naik pitam. Rasa kesalnya belum kelar karena OSIS yang mendampingi kelas 10 IPA 7 tak lain dan tak bukan adalah siswa bernama Orion Aster Pratama. Orang yang dua bulan terakhir mati-matian Airra hindari.

"Udah, Ra. Ikut aja. Biar nggak di rumah terus jugak."

Airra memutar otak cepat. Ia harus mencari alasan lain. Tapi apa? Ah... Satu fakta yang selama ini ia benci mungkin bisa menjadi penyelamatnya sekarang.

"Acaranya kan panas-panasan. Mama tau Ra nggak kuat panas nggak kuat dingin. Kalo Ra sakit disana kan malah repot," Airra memelas.

"Enggak bakal sakit. Airra ikut. Lagian mama udah tanda tangan," ucap Keyra final. Tidak lagi bisa dibantah.

Airra melotot sebal kepada seseorang yang sedang menjulingkan mata dan menjulurkan lidah. "Autis lo!" teriaknya gemas.

"Gapapa, adek sayang. Kan pendampingnya kakak Orion. Semangat dong harusnya."

"Banyak omong! Kelakuan lo kan itu?" tuding Airra sembarangan.

"Enggak anjir! Emang dari sononya. Emangnya gue nggak ada kerjaan apa sampe harus mindahin itu bocah?"

Ia tidak bohong. Memang faktanya begitu. Dari awal Orionlah yang ditunjuk untuk mendampingi kelas adiknya.

Adrian tidak tau saja. Justru itulah yang membuat Airra tidak ingin ikut. Airra tak ingin menyakiti perasaan Axel. Niatnya ikut kegiatan study tour sekaligus outbound itu sirna hanya karena satu nama yang baru Rian sebutkan.

Line of LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang