Jangan pernah bertanya mengapa aku melakukannya. Karna jawabanku sangatlah sederhana.
Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitinya!
~Orion Aster Pratama~
***
Airra membuka mata perlahan. Bau obat menyeruak. Memenuhi Indra penciuman. Kepalanya benar-benar pusing. Beberapa detik, ia masih berusaha mengumpulkan kesadaran. Mengingat-ingat serta memahami apa yang sedang terjadi.
Gadis itu mencoba duduk sambil meringis, memegangi kepala yang malah terasa semakin sakit. Kali ini ditambah nyeri di pangkal hidung yang juga menjalar ke bagian dalam telinga. Airra berusaha menetralkan rasa pusingnya dengan memejamkan mata kuat-kuat. Tapi sama saja, tak berpengaruh apapun. Rasa pusing itu terus saja menyergap kepalanya tanpa ampun.
"Ra? Lo nggak papa?" Suara yang sangat dikenal Airra menyapa dengan lembut. Persis seperti biasanya, begitu ramah, bersahabat, juga menenangkan. Sayangnya, Airra mendadak benci pada telinganya setiap mendengar suara tersebut.
Pemilik suara itu coba membantu Airra duduk. Tapi percobaannya gagal. Airra malah menepis kasar dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimiliki. Memilih bangun sendiri walaupun nyeri yang dirasakannya semakin parah.
Airra perlahan kembali membuka mata. Benar saja, disebelah kasurnya kini ada Orion. Pemilik mata hazel itu menatap khawatir. Terlihat jelas. Sayangnya dalam kondisi sekarang, Airra tak memedulikan hal tersebut sama sekali.
"Ra-" Baru mengucapkan satu suku kata, tangan perempuan judes ini sudah terangkat. Memberi isyarat agar Orion diam. Sungguh. Mengapa Orion selalu mengganggu? Lihat kan? Apa kata Airra? Setiap dirinya merasa buruk, Orion selalu ada di tempat yang sama. Selalu!
"Dek! Lo udah bangun? Lo kenapa? Adrian berlari kecil menghampiri Airra dengan membawa segelas teh hangat. Tak kalah khawatir dengan pria yang berdiri di samping kasur Airra. Akhirnya setelah kurang lebih 3 jam mondar-mandir di dalam UKS, adiknya bangun dari pingsan.
Sedangkan Airra tak menggubris pertanyaan kedua cowok yang sejak tadi menunggu. Pelan-pelan menerima teh dari Adrian. Tidak diminum, hanya dipegang untuk menghangatkan telapak tangan. Juga menghirup aromanya dengan harapan pusingnya sedikit berkurang. Sambil terus saja berusaha menahan nyeri yang ada di kepala dan pangkal hidungnya.
Orion mundur beberapa langkah ketika dua petugas PMR menghampiri kasur Airra, tapi tidak dengan Adrian. Yang satu ini sangatlah khawatir. Ia bahkan tidak mau bergeser walau satu senti. Bagiamana tidak? Fisik Airra sangatlah lemah. Berdiri di lapangan dua puluh menit saja sudah mau pingsan, apalagi dalam kondisi seperti ini. Orion mungkin memang tidak tau. Tapi jika Orion tau, Apakah dia akan melakukan hal yang sama dengan Adrian?
Salah satu petugas PMR itu memeriksa keadaan Airra, dan yang satu lagi memegang catatan lengkap dengan pulpennya. Mereka menyarankan Airra untuk istirahat total, mengonsumsi makanan dan minuman hangat, serta harus tetap hangat sementara waktu.
"Sebaiknya cepet dibawa pulang yan, biar istirahatnya ngga setengah setengah. Lo punya nomor telfon orang tuanya? Kalo engga gue minta ke TU." Siswi kelas 11 itu bertanya ramah. Ketua PMR barangkali? Mungkin... hanya Adrian yang kenal. Wajar saja, tingkah konyol Adrian yang selama ini selalu ia perlihatkan, ternyata membuat orang tertarik untuk mengenal seorang Adrian Affanda lebih jauh. Setidaknya menghabiskan waktu bersama Adrian sangatlah menyenangkan. Ia memang cowok kurang waras —kalau kata Axel, tapi dengan begitu, berada di dekat Adrian akan mengurangi risiko stress.
Berbeda dengan Orion, walaupun sama sama pintar, sama sama anggota OSIS, sama sama most wanted sekolah, Adrian lebih banyak disukai. Pembawaan Orion yang selalu tenang dan bicara seperlunya —walaupun sangat ramah, membuat orang-orang mudah bosan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Line of Life
Teen FictionSiapa sangka gadis secerdas Airra akan masuk kelas buangan? Gadis yang membenci kata 'cinta' itu kini harus terperangkap dalam kehidupan yang terlalu banyak drama menurutnya. Sampai kapan drama ini berlangsung?Aku tidak pernah berharap dikenal siapa...