12

269 79 87
                                    

Kalo lo mau pinter, ya belajar! Kalo lo mau menang, ya usaha! Kalo mau sukses, ya berjuang! Di bumi itu nggak ada yang praktis! apalagi gratis!

~Orion Aster Pratama

***

Tepuk tangan yang disulut oleh para panitia kembali terdengar. Duduk sembarangan di lantai aula, padahal kursi masih tersisa banyak. Tiga-Empat peserta lain mendesah berat. Kecewa dengan hasil yang mereka dengar.

Berbeda dengan beberapa saat lalu ketika Adrian dan Juna dipanggil, rombongan Alay yang sejak tadi mengganggu pendengaran Axel itu sekarang diam. Tercengang. Tak terkecuali Orion yang tadi melihat dan merasakan sendiri bagaimana sang juara mengerjakan soal. Ia dan Feilin bahkan hanya mengerjakan soal uraian nomor 2 dan 5. Bagaimana bisa nilainya setinggi itu?

Axel menoleh ke arah Airra. Tak kalah kaget dengan pengumuman barusan. Selesai sudah. Surat keputusan telah selesai dibacakan.

Cowok cute itu merasa ada yang janggal. Ayolah... mana mungkin Airra berbohong ketika tadi mengatakan bahwa hanya ada dua soal yang tidak yakin? Mengarang agar terlihat pintar? Yang benar saja! Airra tidak serendah itu.

Satu lagi, bagaimana bisa tim lain dari SMA Cahaya Pertama mampu mengalahkan Adrian dengan skor yang jaraknya bagaikan Surabaya-Jakarta? Terlampau jauh.

Airra diam, tak tau harus bilang apa. Wajahnya pucat pasi. Patah-patah menoleh ke arah Axel, mengajaknya segera pulang. Tak perlu diperjelas dengan suara, Axel beranjak berdiri. Menggandeng tangan Airra, lantas Melesat cepat keluar ruang pertemuan.

Dan tanpa mereka sadari, seorang gadis sedang memantau keduanya dengan senyum iblis. Mengikuti pergerakan dua sejoli itu hingga menghilangkan dibalik pintu. Lantas bersorak dalam hati.

***

Ah... sepertinya Airra memang harus memperjelas bahwa ia ingin pulang. Karena ketika telah berada di luar aula, Axel tidak mengajak ke parkiran. Malah memaksa Airra mengikutinya hingga ruang sekretariat.

"Kita ngapain? Anterin gue pulang!"

"Lo masih tanya kita ngapain? Habis denger pengumuman itu lo masih bisa tanya kita ngapain?" Axel malah balik bertanya.

"Iya emang ngapain? Selesai kan? Mereka menang. Gue kalah. Apalagi sekarang?"

"Don't be stupid enough to realize all the oddities! Gue yakin bahkan pembina yang songongnya ngga ketulungan itu juga kaget denger pengumuman tadi!"

"Gue tau, Xel! Lo pikir gue percaya? Sama, kita semua ngga percaya. Tapi lo lupa dengan kalimat 'keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat'?"

"Ck! Siapa juga yang mau ganggu keputusan juri, kita kesini cuma cari pembuktian!" Tanpa menunggu balasan, Axel kembali menarik kakaknya. Melangkah masuk ke ruangan. Tidak kasar memang, tapi cukup untuk membuat Airra pasrah dan mengikuti.

"Permisi... Ini kakak saya ingin tau nilainya berapa. Boleh kan?" Axel bertanya seusai melepas masker dan kacamata. Mencoba selembut mungkin.

Dan panitia yang ditanya hanya mengangguk, lantas mengambil tumpukan kertas jawaban yang sudah dinilai oleh tim juri. Menyerahkannya pada Axel dan Airra.

Axel masih waras untuk melihat satu persatu hasil dari tim-tim yang lain. Terlalu lama! Ia tau Airra mendaftar terahir, itu berarti kertas jawabannya ada di urutan terakhir juga. Tanpa banyak bicara, cowok itu mengambil kertas paling bawah dan memastikan bahwa itu adalah milik Airra.

Line of LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang