22

220 59 44
                                    

Jangan mudah menyimpulkan
Kenyataan tidak sepatutnya dibuat permainan

Brak Brak Brak!!!

Airra tidak memedulikan. Malah memasang earphone yang sejak tadi menggantung di lehernya sambil terus mengerjakan soal-soal.

Ya. Airra yang selalu tidak memedulikan hal hal tak penting. Airra yang seolah tidak punya kerjaan lain.

Lagu On My Way yang menjalar memasuki telinganya menemani setiap coretan pulpennya pada kertas buram.

On My Way

Lagu yang begitu Airra suka entah sejak kapan.

Katakanlah hidup Airra monoton. Lalu untuk apa drama ini? Jika saja jalannya sedikit lebih lurus, pikirannya tidak akan seberat ini. Jika saja hidupnya tidak terlalu dramatis, Airra tak perlu punya jadwal menangis di setiap bulan. Atau bahkan setiap Minggu.

Walaupun sadar bahwa Tuhan memberi cobaan adalah karena menyayanginya, itu bukan alasan Airra untuk berdiam diri dan menunggu. Bukan juga Alasan Airra untuk senyum, senyum, dan terus tersenyum. Airra pun juga manusia. Sejak dulu, sama sekali tidak berubah. Airra yang hidupnya selalu pantas ditertawakan.

Jika takdirnya adalah untuk melawan, dunia bisa apa? Jika jalannya memanglah untuk berjuang, semesta pun tak berhak memaksa. Selagi bisa, akan Airra lakukan. Apapun akan Airra perjuangkan.

Lagipula untuk hal ini, apa gunanya menanggapi Adrian. Toh, makhluk Tuhan yang satu ini pasti akan masuk secepatnya. Dan lagi, pasti bukanlah hal yang penting bagi Airra.

"Ra! Gawat! Astaghfirullah! Gimana bisa sih!"

Adrian makin heboh.

"Lo bisa diem? Gue nggak fokus!" Airra melirik sinis.

"Ra! Lo harus tolongin gue, Ra! Plisss! Adek, bantuin Abang ya?" Wajah puppy eyes andalannya sudah ia pasang baik baik. Walau selama ini Airra tak pernah terpengaruh sama sekali.

Tak ada jawaban. Adik satu satunya dari Adrian itu kembali menulikan telinga.

"Ra! Lo punya masker 'kan? Gue jerawatan masa'!" Adu Rian sambil memamerkan satu jerawat berukuran kecil di sebelah hidungnya. Maklum. Airra yang perempuan, tapi Adrian yang sok cantik.

Tanpa menunggu jawaban adiknya, Adrian berpinda ke depan kaca di kamar Airra. "Tuh kan gue jadi jelek," omelnya tak tau malu.

'nggak waras!' batin Airra memaki.

"Ngapain sih lo nangkring disini? Bikin susah orang aja! Gue jadi jelek kan!"

'dari dulu juga jelek kali!' lanjutnya tetap dalam hati.

Rupanya gadis itu lupa apa yang tadi siang ia lakukan di toilet wanita. Bukankah tidak jauh berbeda dari kakaknya?

"Airra! Mana maskernya?" tuntut Rian.

"Gatau lupa! Udah cari aja sendiri!" jawabnya seadanya. Percuma. Ditanggapi sekalipun pasti nanti berujung debat. Dan di penghujung debat, pasti Airra kalah dengan argumen kakaknya yang selalu logis meski terdengar menyebalkan.

Adrian mulai membongkar isi laci perempuan bermata coklat gelap itu. Mulai dari tempat pensil, kumpulan medali, beberapa notebook berbagai ukuran, olimkid, pin-pin universitas ternama, pouch serut bermotif kayu, hingga catatan tempel yang bergambar pemandangan. Hampir semuanya didominasi warna coklat.

Adrian mengambil pouch serut tersebut. Mengeluarkan semua isinya. Kalau kata Rian biasanya, agar mudah dilihat isinya apa saja.

Lengkap. Mulai dari masker, lulur, skincare, lotion, bedak, hingga lipbalm tanpa warna. Dan semuanya sama sekali tidak pernah Airra sentuh.

Line of LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang