Kau ingin pergi? Silahkan!
Aku takkan mencegahmu. Karena luka yang ada sama sekali tak butuh garam untuk berkembang lebih menyiksa***
To: Rian.Adrian
We need to talk, Adrian!Airra berdecak ketika tau pesannya hanya dibaca. Tanpa dibalas apapun. Jangankan dibalas, tulisan 'mengetik' saja tidak ada. Namun beberapa menit kemudian, seseorang menghampirinya.
"Airra! Dicari kak Adrian," seorang perempuan yang tadi duduk di bangku depan ketika jam pelajaran berseru memanggil. Sedikit sebal karena langkahnya keluar kelas terhambat atas kehadiran salah satu anggota OSIS sekolah itu. Airra bahkan belum tau siapa nama orang yang memanggilnya.
Sekali lagi, ia tak peduli. Hanya menggangguk singkat, dan berlalu menuju luar kelas.
Sampai diluar, dilihatnya Adrian sedang bersandar dengan tangan kiri dimasukan ke saku celana, dan tangan kanan sibuk memutar-mutar pulpen. Kedua kakinya disilangkan.
Airra memutar bola matanya jengah, Sok cool!
"Ngapain lo kesini? Pergi sana!" usir Airra.
"We need to talk, Adrian!" Rian mengucapkan kata-kata yang baru saja dikirim Airra kepadanya.
"Jadi, Princess mau ngomong apa?". Rian tersenyum manis dan tertawa kecil setelahnya. Bukan karena jawaban Airra, Adiknya itu bahkan tak menjawab sama sekali. Tapi karena Airra malah menatapnya sinis.
"Ah princessnya lama. Ke kantin aja, yuk?"
Sebenarnya itu bukan pertanyaan, karna tanpa menunggu persetujuan gadis didepannya, Adrian sudah menarik tangan Airra dan menggandengnya dengan senyum terus tercetak. Sebenarnya Airra mau marah-marah karena kejadian tadi pagi. Tapi nanti saja lah, kalau sudah duduk di kantin.
Airra mulai risih dengan beberapa pasang mata yang menatapnya. Tapi seperti biasa, tetap mencoba tak peduli.
"Adrian!" Suara perempuan yang sangat dikenal Rian terdengar memanggil. Tapi Rian memilih menulikan telinga. Bukan Airra yang memanggilnya. Lagipula, ini jam istirahat. Lebih dari setengah penghuni sekolah pasti sedang ada diluar kelas.
Itu sudah alibi yang cukup baik untuk Adrian kali ini untuk mendadak tuli.
"Adrian!"
Tetap saja Rian tak menoleh. Malah sibuk menyapa orang-orang yang dikenalnya dan menyahuti sapaan adik kelas. Yang sebenarnya, Rian sendiri tidak tau siapa mereka, bahkan merasa tak pernah melihat sama sekali.
Pemilik suara itu akhirnya kesal, dan memilih menyusul Adrian yang sedang menggandeng adik kelas.
"Adrian! Dipanggil dari tadi kok ngga noleh?"
"Eh, iya? gimana? Maaf ga denger, Fe,"
"Ayah gabisa jemput nanti siang," suaranya dibuat seimut mungkin. Sambil melirik tangan lawan bicaranya yang sedang menggandeng Airra.
"Ooh... Lo minta saran? Kalo menurut gue, naik ojek online aja. Gabaik perempuan pulang sendiri naik angkot," Adrian menjawab sekenanya. Sebenarnya sangat sangat paham maksud manusia didepannya.
Tak mau ambil pusing, Adrian menjawab santai. Walaupun jika nanti cewek itu sujud di kakinya sekalipun, Rian takkan mau dijadikan 'babu' oleh cewek itu.
'Pasti minta anter habis ini...'
"Nggak berani, Yan. Anterin bisa?" Cewek itu tetap saja memasang wajah puppy eyes. Kali ini melirik Airra dengan tak suka. Sedangkan Airra hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya. Memasang senyum culas. Mengejek. Seolah gadis didepannya takkan mendapat apa yang diinginkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Line of Life
Fiksi RemajaSiapa sangka gadis secerdas Airra akan masuk kelas buangan? Gadis yang membenci kata 'cinta' itu kini harus terperangkap dalam kehidupan yang terlalu banyak drama menurutnya. Sampai kapan drama ini berlangsung?Aku tidak pernah berharap dikenal siapa...